Juni 2022Peristiwa

G20 Menyepakati Dana Perantara Keuangan

Melihat dampak pandemi dan untuk mengantisipasi pandemi berikutnya, Indonesia selama Presidensi G20 menginisiasi penguatan sistem kesehatan global, di antaranya dengan membentuk Financial Intermediary Fund (FIF) atau dana perantara keuangan. The 1st G20 Joint Finance and Health Ministers Meeting (JFHMM) di Yogyakarta, 21 Juni 2022, telah mengamankan komitmen FIF sebesar US$ 1,2 miliar untuk penanganan pandemi mendatang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejak awal Gugus Tugas Gabungan Keuangan-Kesehatan G20 telah mendiskusikan FIF, yang sudah dikenalkan saat kepemimpinan Italia pada 2021.

“Saya percaya secara bersama-sama kita akan memiliki hasil konkret pada Oktober, yakni termasuk peluncuran FIF dan mengoordinasikan kolaborasi platform,” kata Menkes.

Komitmen US$ 1,2 miliar itu berasal dari lima negara dan satu organisasi internasional. Indonesia akan berkontribusi US$ 50 juta, Singapura US$ 10 juta, Amerika Serikat US$ 450 juta, Uni Eropa US$ 450 juta, Jerman US$ 52,7 juta, dan Wellcome Trust US$ 12,3 juta.

FIF akan membantu pendanaan untuk menutup jurang PPR pandemi sekaligus meningkatkan kapasitas negara-negara di bidang surveilans kesehatan, sistem laboratorium, tenaga kerja kesehatan, manajemen dan komunikasi kegawatdaruratan, serta keterlibatan komunitas. FIF juga bisa membantu memperkuat kapasitas ketahanan kesehatan regional dan global dengan memperkuat fasilitas berbagai data; penyelarasan peraturan; hingga pengembangan, pembelian, distribusi, dan penyaluran alat dan bantuan kesehatan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan soal semangat inklusivitas dalam penanganan pandemi global. 

“Yang paling penting adalah inklusivitas sehingga upaya kita dapat digabungkan, antara keuangan dan kesehatan, serta antara negara maju dan berkembang. Hanya dengan begitu kita dapat secara efektif siap untuk mengatasi pandemi global berikutnya bersama-sama,” kata Menkeu.

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan WHO akan memainkan peran penting dalam FIF dan berkolaborasi dengan Bank Dunia.

“Akses terhadap pembiayaan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan pandemi sangat penting. Covid-19 mengungkap lebarnya jurang kapasitas penanganan pandemi, di mana kehadiran Dana Perantara Keuangan bisa mengatasinya secara koheren, sebagai bagian dari arsitektur global kesiapsiagaan dan respons darurat kesehatan,” tuturnya.

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia telah menyetujui pembentukan FIF. Presiden Grup Bank Dunia David Malpass, seperti dikutip dari rilis Bank Dunia, menyebutkan FIF akan menyediakan dana tambahan jangka panjang untuk mendukung negara dan kawasan berpenghasilan rendah dan menengah dalam menghadapi pandemi berikutnya.

Untuk membaca versi majalah digital silahkan klik tautan berikut ini

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *