Juni 2022Media Utama

Kelainan-kelainan pada Darah

Fungsi vital darah dapat terganggu karena berbagai hal. Ada tiga komponen utama darah yang terkadang mengalami gangguan, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Darah merupakan salah satu komponen vital dalam tubuh sehingga harus diupayakan dalam kondisi yang baik agar oksigen dan kebutuhan sel terdistribusi dengan sempurna. Namun, beberapa orang mengalami masalah pada darahnya atau lazim dikenal dengan kelainan darah. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mulai dari keturunan hingga penyakit yang disebabkan binatang.

Secara garis besar ada tiga komponen utama darah yang terkadang mengalami gangguan, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Selain itu, juga ada gangguan yang bisa terjadi pada cairan darah atau plasma. Bagaimana  kelainan darah dapat terjadi dan terapi apa saja yang diberikan bagi penderitanya? Berikut ini penjelasan yang dipaparkan WebMD.

Gangguan pada Sel Darah Merah

Sel darah merah berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ada beberapa gangguan yang mempengaruhi sel darah sehingga membuat seseorang menderita suatu penyakit.

Anemia. Masyarakat cukup familiar dengan anemia, yang biasanya disebut kekurangan sel darah merah. Orang yang mengalami anemia ringan biasanya tidak menimbulkan gejala tapi orang yang menderita anemia yang lebih parah dapat menyebabkan kelelahan, kulit pucat, dan sesak napas saat beraktivitas.

Anemia defisiensi zat besi. Zat besi diperlukan tubuh untuk membuat sel darah merah. Asupan zat besi yang rendah dan kehilangan darah karena menstruasi adalah penyebab paling umum dari anemia ini. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sejak duduk di bangku sekolah menengah.

Anemia karena penyakit kronis. Orang dengan penyakit ginjal kronis atau penyakit kronis lainnya cenderung mengalami anemia. Anemia penyakit kronis biasanya tidak memerlukan pengobatan tetapi pada beberapa orang ada yang membutuhkan penanganan seperti suntikan hormon sintetis, epoetin alfa (epogen atau procrit) untuk merangsang produksi sel darah, atau transfusi darah.

Anemia pernisiosa. Ini suatu kondisi yang mencegah tubuh menyerap cukup B12 dalam makanan. Ia dapat disebabkan oleh lapisan perut yang melemah atau kondisi autoimun. Selain anemia, kerusakan saraf (neuropati) akhirnya bisa terjadi. Dosis tinggi B12 dapat mencegah masalah ini dalam jangka panjang.

Anemia aplastik. Pada orang dengan anemia aplastik, sumsum tulang tidak menghasilkan cukup sel darah, termasuk sel darah merah. Ini dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, termasuk hepatitis, Epstein-Barr, atau HIV; efek samping obat dan obat kemoterapi; hingga kehamilan. Obat-obatan, transfusi darah, dan bahkan transplantasi sumsum tulang mungkin diperlukan untuk mengobatinya.

Anemia hemolitik autoimun. Pada orang dengan kondisi ini, sistem kekebalan yang terlalu aktif menghancurkan sel darah merah tubuh sehingga menyebabkan anemia. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan, seperti prednison, mungkin diperlukan untuk menghentikan prosesnya.

Talasemia. Ini penyakit genetik yang biasanya dialami orang yang tinggal di wilayah Mediterania. Penyakit ini ditandai dengan terganggunya pembentukan rantai globin pada sel darah merah sehingga sel darah merah mudah pecah. Ada tiga jenis talasemia, yakni talasemia mayor, ketika pasien memerlukan transfusi rutin seumur hidup; talasemia intermedia, yaitu pasien memerlukan transfusi tapi tidak rutin dan memiliki gejala ringan; dan talasemia minor, yang biasaya tidak memiliki gejala dan sering disebut pembawa sifat talasemia.

Polisitemia vera. Kasus kelainan darah yang ini berkebalikan dari anemia karena tubuh memproduksi terlalu banyak sel darah. Penyebabnya belum diketahui. Kelebihan sel darah merah biasanya tidak menimbulkan masalah tetapi dapat menyebabkan pembekuan darah pada beberapa orang.

Malaria. Penyakit ini terjadi ketika orang didigit nyamuk malaria. Parasit plasmodium kemudian berpindah ke dalam darah dan menginfeksi sel darah merah. Pelan-pelan, sel darah merah pecah dan menyebabkan demam, kedinginan, dan kerusakan organ.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *