Juni 2022Resensi

Repotnya Merekayasa Buah-buahan

Kumpulan cerita Rio Johan ini mengisahkan usaha sejumlah insinyur untuk menciptakan varian-varian buah baru. Ada sisipan humor di sana-sini.

Tidak mudah menaklukkan buah prombom. Buah ini seperti kelici atau guli. Bulat dan keras. Cangkangnya berlapis-lapis melindungi daging buah yang rasanya konon sangat lezat. Masalahnya, sangat sukar untuk memecahkan cangkangnya tersebut.

Menurut legenda, dahulu kala ada seorang raja yang gemar akan buah prombom. Sang raja merasakan pertama kali buah itu ketika Karolus, seorang tentaranya yang berotot kencang, berhasil membelah buah itu. Sejak itu, raja jatuh hati pada prombom dan memerintahkan Divisi Buah Prombom di bawah Divisi Dapur dan Jamuan Makan menyiapkan buah itu untuk hidangan. Masalah datang ketika Karolus, satu-satunya orang yang bisa memecah buah itu, cedera pada lengan kanannya sehingga tidak bisa lagi membelah prombom. Akhirnya, raja mengangkat Karolus sebagai guru yang melatih para prajurit lain agar dapat membelah buah itu.

Berabad-abad kemudian, Insinyurasal Ljubljana, peneliti buah di Korporasi Hayati, menemukan buah langka itu di sebuah desa di kaki gunung. Dia kemudian berusaha merekayasa buah itu agar lebih mudah dikonsumsi, terutama mengubah kulitnya yang keras. Dia memang berhasil mengurangi cangkang demi cangkang buah tapi, akibatnya, rasa buah itu berkurang pula lezatnya. Dengan kata lain, ada hubungan kuat antara kekerasan cangkang dan kelezatan buah.

Lantas, apakah insinyur ahli buah ini akan melunakkan cangkangnya atau mencoba membuat varian lain dari bibit buah tersebut? Itulah cerita pertama dalam buku kumpulan cerita Rekayasa Buah karya Rio Johan. Ada 10 cerita dalam buku ini, dari “Selit-Belit Buah Prombom” hingga “Salam Hangat dari Korporasi Hayati”. Semuanya berkisah tentang buah. Tokohnya berbeda-beda di setiap cerita dan tak berhubungan satu sama lain tapi semuanya berkaitan dengan satu hal: Korporasi Hayati. Buku ini juga dihiasi ilustrasi menarik karya Martin Demonchaux, seorang arsitek rekan Rio.

Rio Johan menyebut cerita-cerita ini sebagai fiksi sains meskipun tak semua ceritanya merupakan eksplorasi atas sains. Dalam “Naga-naga Buah Naga”, misalnya, merupakan kisah asmara dengan latar rekayasa buah. Cerita ini mengisahkan bagaimana persaingan dua insinyur buah untuk merebut hati Luna-Duma, sekretaris Divisi Buah-buahan Eksotik di Korporasi Hayati. Luna-Duma gemar akan buah naga sehingga kedua insinyur muda itu berusaha untuk membuat buah naga terbaik yang akan memikat hatinya. Para ilmuwan kemudian berkuat di laboratorium mereka masing-masing untuk menciptakan varian-varian buah naga yang lebih menarik, lebih enak, dan lebih baik dari sebelumnya demi mendapatkan cinta Luna-Duma. Dalam lanjutan ceritanya kita tahu bahwa ternyata Luna-Duma lebih tertarik pada dongeng tentang buah tersebut daripada hasil rekayasanya. Jadi, pertarungan berikutnya adalah bagaimana kedua ilmuwan membuat dongeng paling menarik tentang varian buah naga tersebut.

Dalam “Beri-beri Berlipat Ganda”, seorang ahli buah diceritakan sangat gandrung akan buah beri-beri. Dia merekayasa buah itu hingga menghasilkan ratusan varian beri-beri. Korporasi Hayati kemudian menjual beri-beri tersebut ke pasar. Bencana terjadi ketika beri-beri itu ternyata berlipat ganda, bukan hanya di pohon tapi juga di meja makan.

“Perihal Penamaan Buah-buahan” menyoroti ulah seorang ilmuwan buah nyentrik dalam menamai buah-buahan. Nama buahnya bisa sangat aneh dan panjang. “Peta Buah-buahan” mengisahkan seorang insinyur yang selalu membuat buah yang membuat orang mabuk sehingga Korporasi Hayati menjatuhkan ultimatum agar dia membuat buah lain yang dapat dijual ke pasar, bukan buah yang memabukkan, bila tidak ingin hengkang dari perusahaan itu.

Masih banyak lagi cerita tentang buah dalam buku ini. Semuanya fantasi dan tampaknya berlatar dunia masa depan, meski pengarang tak selalu eksplisit menyebut hal ini. Rio Johan juga berusaha menyisipkan humor di sana-sini, terutama dengan bermain-main pada nama para ilmuwan dan nama-nama buah. Ketika pertama kali muncul, teknik ini mungkin akan memicu senyum tapi ketika diulang-ulang terus, rasanya efek humor yang diinginkan pun semakin hilang.

Rio Johan adalah sastrawan kelahiran Baturaja, Sumatera Selatan pada 1990 ini terpilih sebagai salah satu Tokoh Sastra Pilihan Tempo pada 2014 untuk kumpulan cerita pendek Aksara Amananunna. Novelnya, Ibu Susu, meraih Kusala Sastra 2018 untuk kategori karya pertama dan kedua. Dia juga diundang sebagai pembicara tamu pada Ubud Reader’s & Writer’s festival pada 2015.

Rio Johan memang biasa menulis cerita-cerita fantasi. Aksara Amananunna, misalnya, memaparkan 12 kisah fantasi tentang 12 manusia dari zaman bangsa Sumeria sampai tahun 8475 di sebuah kota bernama Ginekopolis. Novel Buanglah Hajat pada Tempatnya berisi cerita yang berpusat pada masalah buang hajat. Buku Rekayasa Buah ini menambah satu lagi karya fantasinya.

Judul: Rekayasa Buah

Penulis: Rio Johan

Ilustrator: Martin Demonchaux

Edisi: Cetakan Pertama, Juni 2021

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 240 halaman

Untuk baca versi majalah silahkan klik tautan berikut ini

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *