Juni 2022Peristiwa

Sero Survei Antibodi COVID-19 untuk Pengumpulan Data

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) akan mengadakan sero survei antibodi COVID-19 untuk ketiga kalinya pada Juli 2022. Hasil survei ini akan menjadi dasar kebijakan pemerintah, khususnya dalam pengendalian COVID-19. Demikian disampaikan Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (Pusjak SKKSDK), Wirabrata, pada Training Centre (TC) Wilayah Timur Sero Survei Antibodi COVID-19 Berbasis Komunitas di 34 Provinsi secara daring, Kamis, 30 Juni 2022.

Dalam sambutannya, Wira mengatakan TC ini merupakan serial pelatihan atau penyamaan persepsi tim pusat dan daerah, baik terkait dengan substansi maupun administrasi. Dengan demikian, sero survei dapat dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan standar di seluruh lokasi kegiatan. “Selama kegiatan TC ini, peserta diharapkan mendapatkan gambaran utuh pelaksanaan pengumpulan data, proses manajemen data, hingga kelengkapan administrasi,” ujar Wira.

Ketua pelaksana Nelly Puspandari menyebutkan kegiatan ini bertujuan mendapatkan gambaran profil kekebalan komunitas SARS-CoV-2 pada penduduk di 34 provinsi. “Secara khusus untuk mengetahui perubahan kadar antibodi serta perubahan proporsi penduduk yang mempunyai antibodi SARS-CoV-2,” kata dia.

Pengumpulan data akan dilakukan selama dua pekan, yaitu pada 4-15 Juli 2022. “Setelah pengumpulan data, dua minggu berikutnya kami berharap dapat menyelesaikan data untuk dilanjutkan dengan pemeriksaan. Sehingga, hasil ini sudah bisa diberikan kepada Menteri Kesehatan pada Agustus,” tutur Nelly. 

Survei ini melibatkan 20.501 responden yang sama dengan responden sero survei pertama pada November-Desember 2021. Menurut Nelly, daftar responden yang ada bertujuan untuk surveilans dengan desain kohort, yaitu memantau perubahan antibodi dari responden yang sama sehingga tidak disediakan responden cadangan.

Farid dari tim pakar UI mengatakan pada awal pandemi ketika vaksinasi belum banyak, sero survei dilakukan untuk mendapatkan gambaran seberapa besar populasi yang telah terinfeksi. Survei pertama dilakukan untuk memberikan masukan kepada pembuat kebijakan seberapa tinggi proporsi penduduk yang memiliki antibodi COVID-19.

Adapun saat ini cakupan vaksinasi sudah besar sehingga kita tidak dapat membedakan apakah antibodi diperoleh dari yang terinfeksi atau sudah vaksinasi, apakah yang terinfeksi dan sudah tervaksinasi sudah memiliki antibodi atau tidak. Sehingga, untuk melihatnya perlu menganalisis kadar antibodi penduduk.

“Untuk meyakinkan kita dengan melihat responden yang sama apakah ada perubahan setelah divaksin booster atau belum, apakah terinfeksi atau tidak. Itu kenapa sampel yang sama kita ulang kembali untuk meyakinkan bila ada perubahan di orang yang sama,” ungkap Farid.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *