Juni 2022Kilas Internasional

Tugas Ganda Tenaga Kesehatan Pendamping Jemaah Haji

Tenaga kesehatan haji Indonesia melayani jemaah haji selama 40 hari. Bukan hanya memantau kesehatan, mereka juga kadang menjadi pembimbing dan keluarga.

Tenaga kesehatan haji Indonesia (TKHI) adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia. Bagaimana tidak, selama 40 hari para tenaga kesehatan ini mendampingi jemaah haji. Mereka memberikan berbagai pelayanan kesehatan, dari embarkasi, menuju Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji, sampai kembali lagi saat debarkasi. Susah, senang, suka, dan duka mereka lalui bersama dengan jemaah haji.

Selayaknya manusia super, tenaga kesehatan ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tapi juga berperan sebagai pembimbing ibadah dan bahkan keluarga bagi jemaah haji. Setiap tenaga kesehatan yang ditugaskan harus bekerja bahu membahu demi jemaah haji, terutama di di musim haji tahun ini.

“Kalau anak sekarang itu istilahnya harus ‘multitalenta’. Sebagai petugas kesehatan juga, kadang pembimbing ibadah, kadang juga harus sebagai anak karena jemaah banyak yang sepuh-sepuh. Kadang juga sebagai teman,” tutur dr. Fetria Melani, tenaga kesehatan Kelompok Terbang SOC 1, kepada Mediakom, Selasa, 21 Juni lalu.

Mela, sapaan akrab Fetria, merasakan beban berat yang harus dipikul tenaga kesehatan di dalam pelaksanaan haji tahun ini karena adanya pengurangan jumlah tenaga kesehatan. Hal ini pun diamini oleh rekannya, dr. Wahid Hasyim, dokter di Kelompok Terbang SOC 002 yang sudah dua kali menjadi tenaga kesehatan haji Indonesia.

Dua tenaga kesehatan, yang terdiri dari satu dokter dan satu perawat, harus mendamping setidaknya 350 hingga 400 jemaah di setiap kelompok terbang. Dalam pelaksanaan haji pada tahun-tahun sebelumnya, ada satu dokter dan dua perawat yang melayani setiap kelompok terbang dengan jumlah jemaah yang sama. “Ada pengurangan jumlah tenaga kesehatan tapi beban pasien sama. Satu dokter dan satu perawat itu luar biasa, ditambah laporannya, subhanallah, “ kata Wahid.

Namun, kondisi ini tidak mengurangi semangat para tenaga kesehatan untuk terus memberikan pelayanan terbaik. Saling tolong menolong sesama petugas menjadi salah satu cara yang ditempuh oleh dokter Fetria dan Wahid dalam menjalankan tugas sehari-hari.

“Saya dekat dengan SOC 2. Kami dari Madinah selalu satu hotel. Dan, kami dari Tanah Air sudah berkomitmen, karena kami cuma berdua, artinya kami harus saling tolong menolong. Artinya, kalau saya ada hal yang perlu bantuan, saya juga telepon Mas Wahid,” ujar Mela.

Wahid juga sangat mensyukuri kebersamaan tenaga kesehatan dari kelompok terbang SOC 2 dan SOC 1. Dia merasa sangat tertolong saat mengalami kondisi kegawatan salah satu jemaah. “Pak Subagyo muntah darah di kamar mandi. Tensinya sangat rendah, tapi gula tinggi. Dokter Mela dari SOC 1, alhamdulillah, bisa bantu. Ternyata terjadi perdarahan di lambung dan langsung di bawa ke sini (Kantor Kesehatan Haji Indonesia),” tutur Wahid.

“Memang, pertama harus kerja sama dengan petugas yang lain. Kami ini satu tim dan harus solid jadi superteam untuk, istilahnya, menemai jemaah,”  kata Mela.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *