Juli 2022Media Utama

Cegah Stunting Sejak Calon Pengantin

Ada beberapa faktor pendorong terjadinya stunting yang bersumber dari orang tua anak-anak yang mengalami stunting. Nopian Andusti, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyatakan, faktor tersebut adalah usia kehamilan terlalu muda atau tua, anemia, indeks massa tubuh rendah, tinggi badan kurang, serta terpapar asap rokok.

Calon pengantin harus berada dalam kondisi yang sehat dan ideal untuk menikah, hamil, dan melahirkan. “Bukan hanya edukasi. Yang terpenting adalah bagaimana pemeriksaan kesehatan dan skrining untuk mengetahui apakah calon pengantin tersebut memiliki faktor risiko. Adapun edukasi merupakan tindak lanjut dari proses skrining,” kata Nopian dalam Talkshow Ruang Publik KBR pada 29 Maret lalu.

Pemenuhan gizi pada remaja, calon pengantin, dan wanita usia subur yang ingin memiliki anak sangat penting untuk meningkatkan kesehatan. Dengan begitu, kondisi calon ibu diharapkan sudah layak hamil sebelum kehamilan terjadi. Hal ini perlu dipersiapkan sejak dari masa remaja, yang merupakan masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan gizi cukup serta berkualitas. Di usia remaja mereka juga mengalami fase menstruasi sehingga asupan makan harus benar-benar diperhatikan.

Pada acara yang sama, dokter Maria Endang Sumiwi, M.P.H., Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, menyampaikan bahwa saat ini perempuan usia remaja maupun usia kehamilan banyak yang mengalami anemia. “Ini bisa menyebabkan pendarahan, prematuritas, dan berat bayi lahir rendah, yang menjadi faktor risiko terjadinya stunting,” ujarnya.

Masa remaja yang sehat tidak digambarkan dengan bentuk tubuh langsing tapi status gizi yang baik. “Saat ini terlihat sekali pola konsumsi remaja (adalah) 52 persen kurang asupan energi, 48 persen kurang asupan protein,” kata Endang. Masalah kesehatan dan gizi pada masa remaja dan calon pengantin harus diintervensi agar kualitas generasi penerus bangsa dapat membaik dan tidak mengalami stunting.

Kementerian Kesehatan mendidik remaja melalui kegiatan di unit kesehatan sekolah, menggencarkan program minum tablet tambah darah yang dibarengi dengan makan bersama, dan mendorong remaja melakukan aktivitas fisik. Program ini sudah dijalankan di berbagai daerah. Selain itu, ada juga pendidikan kesehatan reproduksi untuk mencegah kehamilan berisiko. Program ini sudah masuk di beberapa daerah meski belum seluas yang diinginkan pemerintah. “Dari makan bersama bisa dilihat, oh, ternyata anak-anak makan lebih banyak karbohidratnya atau kurang proteinnya. Pada saat itu kami bisa berikan edukasi gizi,” kata Endang.

Nopian meminta orang tidak berpikir bahwa stunting terjadi karena faktor ekonomi saja. Perilaku dan pengetahuan kesehatan juga penting. Banyak remaja menginginkan tubuhnya langsing tanpa menyadari kebutuhan gizi yang diperlukan tubuhnya. Nopian juga mengingatkan orang tidak melakukan sembarang diet demi tubuh langsing karena akan berisiko melahirkan anak stunting. “Jangan jadi ibu-ibu yang tidak memikirkan janinnya,” ujarnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *