Juli 2022Media Utama

Intervensi dalam Percepatan Penurunan Stunting

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi stunting pada balita hingga 14 persen pada 2024. Berbagai intervensi perlu dilakukan.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting pada bayi di bawah lima tahun (balita) hingga 14 persen pada 2024. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan prevalensi stunting Indonesia mencapai 24,4 persen. Dibutuhkan upaya yang lebih konkret untuk mencapai target tersebut. Guna mengejar target penurunan, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Regulasi ini diharapkan dapat memperkuat aspek kelembagaan dan intervensi dalam mencegah stunting.

Di masyarakat, stunting umumnya dipersepsikan sebagai “anak pendek”. Definisi sesungguhnya dari stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Gangguan ini ditandai dengan tinggi dan berat badan yang di bawah standar. Gangguan atau kegagalan tumbuh kembang ini dipengaruhi berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., mengatakan, anak mengalami stunting karena tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi sesuai dengan usianya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan. “Mengapa anak bisa gagal tumbuh kembang? Karena asupan makanan, terutama gizinya, tidak sesuai dengan usia pertumbuhannya,” kata dia.

Menurut Nadia, anak yang stunting sudah terlambat untuk ditangani karena kekurangan gizinya sudah berlangsung cukup lama dan terus menerus. Oleh karenanya, kata mantan juru bicara Kementerian Kesehatan ini, yang harus dilakukan adalah upaya pencegahan, bukan penyembuhan.

Urgensi penurunan stunting juga berkaitan dengan momentum bonus demografi pada 2030-2040 mendatang. Tingginya angka stunting tentu akan menciptakan generasi yang tidak sehat, tidak bisa bekerja dengan maksimal, tidak produktif, dan sulit berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian. “Dari sisi ekonomi, mereka otomatis tidak akan memberikan sumbangan produktivitas yang baik. Dari sisi kesehatan, mereka akan lebih rentan sakit dan akan lebih punya masalah dengan kesehatan,” terang Nadia.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *