Juli 2022Lentera

Saat Titipan Tuhan Jadi Kekuatan Seorang Ibu

Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah bagi orang tua. Autisme dapat dideteksi sejak dini.

Secara tak sengaja saya membaca status WhatsApp teman SMA yang mengunggah foto bersama anak ketiganya dengan ucapan, “Selamat Hari Peduli Autisme Sedunia 2022”. Saya memandangi foto itu sambil bergumam, “Benar nih anak Nur (bukan nama sebenarnya) mengidap autisme?”

Saya lalu bertanya kepadanya. “Iya, anak bungsuku terdiagnosis autisme pada usia 5 tahun,” jawab Nur.

Nur lalu berkisah tentang kondisi anaknya. Awalnya, ia gelisah saat mengamati anaknya terlambat berbicara pada usia 2 tahun. Perkembangannya juga tak seperti anak seusianya.

“Anakku itu gak bisa melihat pintu terbuka, langsung kabur. Dia selalu mengulang pola yang sama, pergi ke tempat-tempat yang sudah pasti di antara tiga tempat yaitu rumah tantenya, rumah temanku, rumah teman mengajarku. Semuanya satu kompleks perumahan. Tapi, kalau diajak ke tempat baru, misalnya taman, dia jadinya seperti menambah tempat untuk kabur,” ujar Nur.

Problematika dan Tantangan bagi Keluarga

Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah perkara mudah bagi orang tua. Terlebih anak dengan autisme yang kerap dituding resek, tak bisa diam, dan susah diatur. 

Begitu banyak pekerjaan rumah orang tua dan anggota keluarga untuk berdamai dengan kondisi anak autis dan memberikan hal-hal terbaik bagi tumbuh-kembang titipan Tuhan yang istimewa itu. Belum lagi, mereka harus kuat menghadapi cemoohan dan stigmatisasi dari orang-orang di sekitarnya.

1. Stigmatisasi terhadap Anak Autis

Dr. Melly Budhiman, SpKJ (K) pada webinar Puncak Hari Peduli Autisme Sedunia 2022 yang digelar Kementerian Kesehatan, 20 April 2022, mengatakan pada 1995-2000 banyak orang tak mengerti autisme atau gangguan spektrum autisme (GSA). Stigmatisasi kepada GSA adalah bukti masih adanya pandangan negatif karena interaksi, komunikasi, dan perilaku GSA yang “istimewa”.

Sikap negatif itu berupa menjauhi, mengucilkan anak dengan GSA dan keluarganya, merasa takut anaknya tertular, dan mengejek. Anak dengan GSA dicap agresif sehingga membahayakan anak lain. Sering kali orang tua anak dengan GSA dipandang tak bisa mendidik anaknya dengan benar.

2. Pentingnya Layanan Pendidikan Inklusif bagi ABK

Pendidikan untuk sekolah luar biasa dan sekolah inklusi bagi ABK penting untuk tumbuh-kembang mereka. “Layanan pendidikan bagi disabilitas perlu ditingkatkan. Lewat SLB dan sekolah inklusif, Kemendikbudristek serius membenahi layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim di SMP Negeri 2 Bandung, Januari 2022.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *