Juli 2022Kilas Internasional

WHO Cermati Perkembangan Subvarian BA.2.75

Jumlah kasus baru COVID-19 meningkat lagi. Subvarian Omicron BA.2.75 menjadi perhatian WHO. Subvarian itu sudah masuk ke Indonesia.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan pada 7 Juli lalu bahwa kasus COVID-19 telah meningkat hampir 30 persen selama dua minggu terakhir. “Di Eropa dan Amerika, varian BA.4 dan BA.5 adalah gelombang pendorong (peningkatan kasus). Subvarian baru Omicron yang disebut BA.2.75 ini juga telah terdeteksi, yang kami ikuti dengan cermat,” katanya, sebagaimana dilansir WHO.

Laporan Epidemiologi Mingguan COVID-19 WHO pada Rabu, 20 Juli lalu menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan kasus sejak Juni dengan lebih dari 173 ribu kasus baru dilaporkan, naik lima persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kasus baru di tiga dari 10 negara meningkat 20 persen atau lebih besar dengan proporsi terbanyak terjadi di Nepal (1.091 dari 516 kasus atau naik 111 persen lebih), Sri Lanka (175 dari 106 kasus atau naik 65 persen) dan Indonesia (23.648 dari 17.388 atau naik 36 persen lebih). Jumlah kasus baru terbanyak ada di India (127.948 kasus baru), Indonesia, dan Thailand (13.986 kasus baru).

Subvarian BA.2.75, yang kadang disebut “Centaurus”, mendorong lonjakan baru kasus COVID-19 di India belakangan ini. Data GISAID, prakarsa sains global yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza dan virus corona, menunjukkan ada 292 sekuens genom yang teridentifikasi sebagai varian tersebut sejak ditemukan pada 7 Januari hingga 15 Juli lalu. “(Dampak varian ini) tidak parah atau membawa penyakit serius dan risiko kematian meskipun lebih menular daripada BA.2, yang bertanggung jawab atas gelombang kedua COVID-19 di India,” kata Tedros.

Narendra Kumar Arora, ketua bersama Konsorsium Genomik SARS-CoV-2 India (Insacog), menyatakan bahwa kasus subvarian tersebut bukan dari klaster atau daerah tertentu, meskipun transmisi dan efisiensi virus menjadi 20-30 persen lebih banyak dibandingkan dengan BA.2. “Subvarian baru itu tidak menyebabkan peningkatan besar atau perluasan kumpulan kasus atau risiko penyakit parah. Semua kasus ini tersebar. Saya khawatir jika itu hanya terjadi di satu atau dua distrik. Itu (ternyata) tersebar. Artinya, penyebarannya tidak terlalu cepat atau menyebabkan terlalu banyak kasus yang parah,” kata dia kepada The New Indian Express.

Data bulanan Insacog untuk Juli (hingga 22 Juli 2022) menunjukkan bahwa varian BA.2.X (yang di antaranya termasuk BA.2.75) menempati posisi ketiga frekuensi terbanyak di antara lima varian dengan frekuensi 17,4 persen. Dua yang teratas adalah varian BA.5 dengan 36,7 persen dan Omicron 28,5 persen.

Subvarian BA.2.75 telah ditemukan di berbagai negara. Yang terbanyak adalah di India, lalu diikuti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Jepang. Subvarian tersebut juga sudah masuk Indonesia. “Ada tiga kasus BA.2.75, semua kasus sederhana, tak terlalu berat,” kata Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan RI, kepada wartawan pada 18 Juli lalu.

“Sudah adanya BA.2.75 di Indonesia menunjukkan pada kita bahwa pandemi COVID-19 masih bersama kita dan berbagai perkembangan dapat saja terjadi, termasuk adanya varian atau subvarian baru,” kata Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam keterangan tertulisnya. “Tentu tidak perlu panik, tetapi jelas perlu waspada dan mendapatkan data ilmiah yang valid agar penanganan di lapangan dapat berjalan dengan tepat.”

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *