Agustus 2022Media Utama

Berlari Bersama Germas

Kementerian Kesehatan mendorong kegiatan lari sebagai bagian dari program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Ada virtual run selama pandemi COVID-19.

Setelah lebih dari dua tahun hidup di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), pada pertengahan Mei 2022, pemerintah mulai memberikan kelonggaran dalam penggunaan masker di tempat terbuka. Masyarakat pun bersemangat kembali untuk beraktivitas di luar ruang. Olahraga di akhir pekan pun ramai peminat.

Kondisi ini dinilai positif oleh Kementerian Kesehatan karena aktivitas fisik diperlukan dalam upaya untuk menjaga imunitas dan menyerukan agar masyarakat tetap memperhatikan protokol kesehatan, mengingat pandemi belum berakhir. “Kami melihatnya saat ini di masyarakat sudah mulai bergerak. Kalau lihat di car free day ramai, meski tidak semuanya lari dan masih banyak yang melakukan olahraga yang tidak sesuai ketentuan. Tapi, menurut saya, tidak apa-apa. Yang penting orang mau bergerak dulu,” kata Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia, drg. Kartini Rustandi, M.Kes., kepada Mediakom pada Selasa, 11 Agustus lalu.

Menurut Kartini, sebenarnya minat masyarakat untuk berolahraga selama pandemi cukup tinggi tapi tidak dilakukan di luar ruangan maupun berkelompok dalam jumlah banyak. Mereka, kata dia, berolahraga secara virtual dan membuat kelompok-kelompok yang rutin bertemu meski tidak secara langsung. Kementerian Kesehatan memanfaatkan tingginya minat masyarakat untuk melakukan olahraga secara virtual ini dengan membuat kegiatan seperti virtual run.

Kartini menuturkan bahwa sejak dua tahun lalu Kementerian Kesehatan menggelar virtual run, yang menekankan bukan saja pada lomba larinya tapi juga mendidik masyarakat tentang cara berlari yang benar. Satu bulan sebelum kegiatan, para peserta harus mendaftar dan selama satu bulan atau dua minggu sebelum kegiatan mereka akan mendapatinformasi kesehatan yang harus dipersiapkan, seperti pemanasan sebelum lari dan pendinginan. Selain itu, juga ada seminar dalam jaringan (daring) tentang bagaimana lari dengan benar, bagaimana sikap tubuh, hingga sepatu yang digunakan. Dia mencontohkan bahwa dalam virtual run ini peserta berlari sejauh 50 kilometer. Jarak itu tidak harus dituntaskan dalam satu kali lari tapi bisa dilakukan minimal tiga sampai lima kali dalam seminggu dan melaporkan jarak yang sudah ditempuh setiap kali berlari.

“Sesuai ketentuan minimal peserta harus bergerak tiga sampai lima kali dalam seminggu dan kami harapkan mereka konsisten melakukan aktivitas fisik itu,” kata Kartini. “Kementerian Kesehatan mengembangkan pola itu. Jadi, yang dikejar bukan cepatnya tapi bagaimana konsistensinya. Itu yang kita namakan membudayakan (lari).”

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *