Agustus 2022PeristiwaUncategorized

Kemenkes Ajak Anggota G20 Atur Penggunaan Antibiotik

Kasus resistansi antibiotik akibat mikroba, kata Dante, juga bisa muncul dari hewan dan tumbuhan sehingga perlu diatur penggunaannya dengan melibatkan berbagai sektor

Salah satu dari rangkaian pertemuan G20 membahas aturan tentang penggunaan antibiotik yang menyoroti tingginya angka kematian akibat resistansi antibiotik. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam side event antimicrobial resistance (AMR) mengatakan angka kematian di dunia akibat AMR mencapai 1,2 juta kasus. Karena itu ia berharap negara anggota G20 memperhatikan persoalan ini seperti halnya pandemi COVID-19.

“Kami berharap kepada negara-negara anggota G20 untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian AMR yang berkelanjutan di tingkat nasional dan global. G20 adalah forum yang ideal untuk melakukan ini,” ujar Dante pada 24 Agustus 2022 sebagaimana dikutip dari rilis Kemenkes.

Indonesia sebagai negara tropis dengan kasus infeksi tinggi menginisiasi pembahasan tentang aturan penggunaan antibiotik sebagai upaya mencegah kematian. Menurut Wamenkes, tingginya kasus AMR tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan tapi juga perekonomian global.

“Dampak luas AMR terus meningkat secara diam-diam di berbagai sektor termasuk ekonomi. Para ahli memperkirakan AMR dapat menyebabkan PDB (produk domestik bruto) tahunan global turun sebesar 3,8 persen pada tahun 2050. Kita harus mencegah hal ini terjadi dan membuat perubahan yang langgeng,” kata Dante.

Kasus resistansi antibiotik akibat mikroba, kata Dante, juga bisa muncul dari hewan dan tumbuhan sehingga perlu diatur penggunaannya dengan melibatkan berbagai sektor. Dante menuturkan pengawasan lintas sektoral penggunaan dan konsumsi antimikroba sangat penting untuk memahami dan memantau AMR sehingga diperoleh data yang memadai di tingkat nasional, regional, dan global.

Dante mengatakan peningkatan penelitian dan pengembangan AMR juga harus dilakukan, terutama pada obat-obatan baru; vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD), termasuk layanan diagnostik antimikroba. Upaya lainnya melalui tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi juga harus dilakukan lebih luas.

“Di antara inisiatif yang dilakukan, kami menawarkan penyelesaian masalah AMR, yakni dengan pembentukan inisiatif sains berbasis genom biomedis pada pengobatan yang bersifat presisi,” tutur Dante.

Selengkapnya di sini

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *