Agustus 2022Kilas Internasional

Virus Langya Jadi Perhatian Dunia

Virus baru Langya ditemukan merebak di Cina. Belum ada bukti penularan antar-manusia.

Para peneliti di Beijing Institute of Microbiology and Epidemiology menerbitkan hasil risetnya mengenai virus baru pada hewan yang dapat menginfeksi manusia di New England Journal of Medicine pada 4 Agustus lalu.  Virus yang teridentifikasi di Cina Timur itu dinamai sesuai tempat asal penemuan virus, yakni Langya di Shandong.

Menurut Nature, virus Langya atau LayV termasuk dalam kelompok henipavirus, yang masih satu kelompok dengan virus henipa lain, yakni virus Hendra dan virus Nipah. Ia dapat menyebabkan gejala gangguan pernapasan, demam, batuk, dan kelelahan. Para peneliti meyakini virus ini dibawa oleh tikus yang terinfeksi dan kemudian menginfeksi orang secara langsung atau melalui hewan perantara.

Nature melaporkan bahwa para peneliti menemukan 35 orang terinfeksi Lagya dan sebagian besar petani dengan beberapa gejala, mulai dari pneumonia berat hingga batuk. Sebagian besar pasien, menurut peneliti, mengaku telah terpapar binatang dalam waktu satu bulan saat gejala mereka muncul.

Peneliti menemukan virus ini saat memantau pasien di tiga rumah sakit di provinsi Shandong dan Henan antara April 2018 dan Agustus 2021. Responden yang dipilih dalam penelitian adalah mereka yang terindikasi mengalami demam. Kemudian peneliti melakukan tes usap tenggorokan terhadap pasien pertama, seorang perempuan berusia 53 tahun.

Genom Langya menunjukkan bahwa virus tersebut paling dekat hubungannya dengan Mojiang henipavirus, yang pertama kali ditemukan pada tikus di sebuah tambang yang ditinggalkan di Provinsi Yunnan, Cina Selatan, pada 2012. Menurut Nature, Henipavirus termasuk dalam keluarga virus Paramyxoviridae, yang meliputi campak dan gondok. Beberapa henipavirus lain telah ditemukan pada kelelawar, tikus, dan mencit dari Australia hingga Korea Selatan dan Cina tetapi hanya virus Hendra, Nipah, dan sekarang Langya yang diketahui menginfeksi manusia.

Meskipun menginfeksi manusia, jumlah kasus yang ditemukan sejak 2018 hanya 35 orang. Peneliti juga menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan virus ini. “Tidak ada kebutuhan khusus untuk mengkhawatirkan hal ini tetapi pengawasan berkelanjutan sangat penting,” kata Edward Holmes, ahli virologi evolusioner di University of Sydney, Australia, kepada Nature.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *