Media UtamaSeptember 2022

Susahnya Edukasi AMR

Edukasi masyarakat mengenai resistensi antimikroba masih sulit dilakukan. Tenaga kesehatan adalah pihak pertama yang merasakan dampak AMR.

Kita mengenal antibiotik sebagai obat untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Sayangnya, hingga saat ini masih ada kekeliruan dalam penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dapat menyebabkan seseorang kebal terhadap antibiotik tersebut. Akibatnya, penyakit sulit sembuh karena pemberian antibiotiknya sudah tidak mempan lagi.

Vida Parady, Communication Officer ReAct Asia Pacific, organisasi independen yang peduli terhadap resistensi antimikroba (AMR), menyebut resistensi terhadap antibiotik merupakan pandemi sunyi. Tanpa disadari AMR ini banyak sekali mengakibatkan kematian. “Yang paling merasakan duluan itu yang di depan, yaitu tenaga kesehatan. Bagaimana sulitnya mereka menghadapi pasien yang terinfeksi bakteri tapi sudah resisten dengan antibiotik. Kemudian jadi lebih susah untuk penyembuhan, lebih lama, lebih mahal biayanya, dan bahkan kadang-kadang (pasien) juga tidak tertolong lagi,” ungkap Vida kepada Mediakom pada Jumat, 2 September lalu.

Vida kerap mendengar keluhan dari tenaga kesehatan dan berbagai dokter spesialis bagaimana situasi akibat resistensi antibiotik sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut Vida, dampak ini berasal dari perilaku masyarakat yang tanpa disadari sudah menjadi kebiasaan. “Tanpa disadari, perilaku-perilaku kita ini ternyata membuat si resistensi ini berkembangnya makin lebih cepat. Jadi, disebutnya ‘pandemi’ karena memang dampak kematiannya sudah sangat banyak,” kata Vida.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun lebih dari 1,27 juta orang di seluruh dunia meninggal karena resisten terhadap antimikroba. Penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik dan antimikroba lain selama beberapa dekade telah membuat obat antibiotik kurang efektif dalam mengobati penyakit menular umum sehingga mempercepat munculnya dan menyebarnya resistensi antimikroba.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *