PeristiwaSeptember 2022

WHO Targetkan Dunia Bebas Kematian Akibat Rabies pada 2030

Menurut WHO, One Health atau satu kesehatan dapat diimplementasikan pada program pengendalian rabies yang melibatkan lintas sektor

Dunia memperingati 28 September sebagai Hari Rabies Sedunia. Dalam peringatan ke-16 pada tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Rabies: One Health, Zero Deaths” yang akan menyoroti hubungan lingkungan dengan manusia dan hewan. WHO menyatakan pandemi COVID-19 menunjukkan kerentanan dari sistem kesehatan dan apa yang dapat dicapai oleh kolaborasi lintas sektor.

Menurut WHO, One Health atau satu kesehatan dapat diimplementasikan pada program pengendalian rabies yang melibatkan lintas sektor. Untuk itu, WHO menargetkan nol kematian akibat rabies pada 2030.

“Rencana strategis global untuk penghapusan kematian akibat rabies pada manusia yang disebabkan oleh anjing pada 2030 adalah dokumen ambisius dengan target yang dapat dicapai,” demikian pernyataan WHO yang dikutip dari laman resminya pada 28 September 2022.

Menurut Tjandra Yoga Aditama, rabies disebabkan oleh virus rabies dari famili Rhabdoviridae yang menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan hewan. Virus rabies ditularkan melalui air liur hewan penderita rabies pada gigitan hewan penular rabies (HPR) atau luka terbuka. Penularan rabies pada manusia utamanya melalui gigitan anjing (98-99 persen) dan binatang lain seperti kucing dan kera (sekitar 2 persen).

Mantan Direktur Jenderal  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan ini mengatakan rabies ditemukan di lebih dari 150 negara di dunia. Infeksi penyakit ini menyebabkan puluhan ribu kematian di dunia setiap tahunnya, utamanya di Asia dan Afrika.  Di Indonesia, data menunjukkan setidaknya 26 provinsi masih dalam situasi endemis rabies dan 8 provinsi lainnya bebas rabies. 

“Sekitar 60 persen wilayah Indonesia masih merupakan daerah endemis rabies. Bali adalah salah satu provinsi dengan kasus dan kematian akibat rabies,” kata Tjandra dalam keterangan tertulisnya.

Tjandra menuturkan rabies punya dua aspek. Pertama, ini adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Kedua, rabies adalah salah satu penyakit tropik terabaikan atau neglected tropical diseases (NTD). Rabies dapat dicegah dengan penanganan kasus gigitan hewan penular rabies sedini mungkin dan pemutusan penularan dapat dilakukan dengan vaksinasi pada anjing serta mencegah terjadinya gigitan anjing.

Tjandra menambahkan, karena rabies adalah penyakit zoonosis, maka pendekatan One Health adalah cara penanggulangan yang amat tepat. Sebab, One Health merupakan pendekatan untuk mengolaborasi dan mengoordinasikan program dan kegiatan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

WHO menyatakan sangat penting bekerja dengan pemangku kepentingan, orang-orang yang peduli dengan masalah rabies, dan orang-orang di tingkat komunitas, lokal, nasional, dan global untuk membangun kembali dan memperkuat sistem kesehatan dan program pengendalian rabies.

“Dengan berkolaborasi dan bergabung, melibatkan masyarakat, dan berkomitmen mempertahankan vaksinasi anjing, rabies dapat dihilangkan,” demikian pernyataan WHO.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *