Media Utama

Bekal Menghadapi Pandemi Mendatang

Pembahasan sektor kesehatan di G20 berfokus pada kesiapan untuk menghadapi pandemi di masa depan. Ada pendanaan di tingkat global untuk penanganan pandemi.

Sektor kesehatan yang menjadi salah satu prioritas dalam agenda pertemuan G20 di Bali tahun ini. Pembahasannya telah dilakukan pada tingkat menteri dalam Pertemuan Menteri Kesehatan (HMM) pada 27-28 Oktober lalu dan tingkat kelompok kerja sejak awal tahun ini. Isu utamanya adalah arsitektur kesehatan global, yang menekankan pentingnya negara memiliki kemampuan untuk menghadapi pandemi. Selain itu, ada tiga subagenda yang dibahas , yakni membangun ketahanan sistem kesehatan global, menyelaraskan standar protokol kesehatan global, serta mengembangkan pusat manufaktur dan pengetahuan global untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyambut baik hasil Pertemuan Menteri Kesehatan G20 yang menyepakati tentang pembentukan Dana Perantara Keuangan  (FIF) untuk mengantisipasi pandemi selanjutnya. “Pembentukan FIF adalah salah satu terobosan bersejarah Presidensi G20 Indonesia bidang kesehatan. FIF akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas global untuk pencegahan, persiapan dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang,” kata Budi dalam konferensi pers mengenai pertemuan tersebut di Bali, Kamis, 27 Oktober lalu.

Menurut Kepala Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan, Bonanza P. Taihitu, S.Sos., M.Si., pada saat penyerahan Presidensi G20 dari Italia ke Indonesia pada tahun lalu, sudah dilakukan inventarisasi agenda yang akan ditindaklanjuti oleh Indonesia. Salah satunya, kata pria yang akrab disapa Bona ini, adalah standby fund untuk penanganan pandemi. Saat itu, Italia mengusulkan perlunya suatu pendanaan di tingkat global untuk penanganan pandemi dan kemudian disambut Indonesia dengan menjadikan penguatan arsitektur kesehatan global sebagai tema utama dengan tiga isu prioritas, yakni membangun ketangguhan sistem kesehatan, harmonisasi protokol kesehatan, dan mengembangan pusat riset dan produksi.

“Soal membangun ketangguhan sistem kesehatan itu ada satu mengenai pendanaan yang menindaklanjuti presidensi Italia yang akhirnya dibentuk dan kita berhasil mendorong kesepakatan global untuk pembentukan Dana Perantara Keuangan Respons Kesiapan Pandemi (PPRFIF),” ucap Bona kepada Mediakom pada Jumat, 21 Oktober lalu.

PPRFIF, kata Bona, berada di bawah koordinasi Bank Dunia dan juga terdapat peran penting Badan Kesehatan Dunia (WHO) di dalamnya. Sifat forum ini terbuka sehingga negara-negara lain dapat memberikan donasi secara sukarela. Indonesia, lanjutnya, sebagai pemimpin telah memberikan komitmen untuk menyumbang sebesar US$ 50 juta. Langkah ini kemudian mendorong negara-negara lain untuk ikut andil memberikan sumbangan, seperti Amerika Serikat yang memberikan US$ 250 juta dan diikuti juga oleh Uni Eropa, Jepang, dan Cina dengan nominal yang berbeda-beda.

“Kita berhasil mendorong itu dan sekarang sudah ada US$ 1,4 miliar untuk pendanaan PPRFIF,” kata Bona. “Target pendanaan sebesar US$ 10 miliar per tahun itu yang moderat, tapi ada yang bilang US$ 25 miliar per tahun. Kita yakin akan bikin PPRFIF semakin baik.”

Bona menjelaskan, metode pendanaan yang dilakukan oleh PPRFIF nanti akan sama dengan forum pendanaan yang telah berjalan selama ini, seperti GAVI dan Global Fund, yakni disbursement dana berbasis proposal yang ingin diajukan oleh setiap negara, terutama negara-negara berkembang. Ini karena, tambah Bona, salah satu tujuan dari PPRFIF adalah meningkatkan respons pandemi dari negara berkembang namun di sisi lain dana ini sifatnya sebagai pengungkit agar negara juga mendanai.

“Kami (Kementerian Kesehatan) sedang menyiapkan proposal untuk diajukan ke PPRFIF. Proposalnya sinkron dengan transformasi kesehatan yang sedang kami lakukan, yaitu untuk penguatan surveilans, karena itu yang menjadi salah satu fokus dari FIF, yaitu untuk meningkatkan kapasitas negara untuk pengawasan,” ujar Bona.

Dana PPRFIF juga dapat digunakan untuk memajukan manufacturing access to COVID-19 accelerator (ACT-A) yang pembentukannya telah mendapatkan dukungan dari WHO. Menurut Kementerian Kesehatan, setelah evaluasi ACT-A selesai, negara-negara G20 akan membentuk entitas yang berfungsi untuk memastikan kesiapan mekanisme respons terhadap pandemi di masa depan.

Capaian lain G-20 kali ini adalah kemajuan dalam pengawasan genomik, yang dapat digunakan sebagai upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi. Harmonisasi protokol kesehatan ke dalam sistem sertifikat perjalanan yang disepakati bersama merupakan salah satu usulan yang terus diupayakan untuk dapat dirampungkan. Ada pula analisis kesenjangan dan pemetaan jaringan penelitian dan manufaktur yang nantinya ditindaklanjuti oleh Presidensi G20 berikutnya, yakni India.

Menurut Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., saat ini para anggota G20 sedang dalam proses menganalisis kesenjangan dan pemetaan jejaring pusat penelitian dan manufaktur. Menurut Nadia, kesenjangan dalam kapasitas setiap negara G20 dalam menghadapi pandemi dapat memperlambat kesiapsiagaan dan respons terhadap COVID-19 sehingga dibuat analisis kesenjangan untuk kebutuhan manufaktur dan prioritas penyakit yang perlu diisi oleh anggota G20.

Indonesia bersama Argentina, Brasil, India, Arabi Saudi, Turki, dan Afrika Selatan tertarik untuk berkolaborasi dalam membentuk ekosistem manufaktur serta riset vaksin, terapi atau pengobatan, dan diagnostik. Kolaborasi ini melibatkan semua negara anggota G20 dan organisasi internasional. Prakarsa ini berfokus untuk membangun jejaring pusat penelitian dan kapasitas produksi di negara-negara anggota G20 dan memberikan akses dan kesetaraan untuk negara berpenghasilan menengah.

Menurut Bona, upaya-upaya kerja sama yang dilakukan ini telah dapat dirasakan manfaatnya. Salah satunya terlihat di sektor pariwisata yang perlahan mulai bangkit setelah hampir dua tahun dihantam pandemi. M

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *