Profil

Penabuh Drum yang Sukses Mengembangkan PeduliLindungi

Pria yang gemar bermain musik sejak remaja ini berkontribusi mengembangkan aplikasi PeduliLindungi. Ia berencana membuat national health account.

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung lebih dari dua tahun membuat masyarakat Indonesia mulai akrab dengan salah satu fasilitas layanan yang dibuat oleh pemerintah yakni aplikasi PeduliLindungi. Aplikasi yang telah diunduh oleh lebih dari 50 juta orang itu juga akan menjadi aplikasi layanan kesehatan masyarakat tidak hanya untuk COVID-19 tetapi juga menjadi rekam medis elektronik yang terintegrasi ke berbagai layanan kesehatan lainnya.

Seperti aplikasi-aplikasi populer lainnya, ada sosok  yang berkontribusi mengembangkan layanan tersebut. Siapa sosok di balik PeduliLindungi? Adalah Setiaji, ST., MS.i. yang menjadi arsitek pengembangan fitur-fitur baru PeduliLindungi.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan itu menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari bangku kuliah hingga posisinya saat ini. Pria 48 tahun yang akrab disapa Aji itu bercita-cita jadi presiden, layaknya anak-anak di masa itu ketika ditanya soal cita-cita. Namun orang tuanya memiliki pertimbangan lain, alumni SMA 72 Jakarta ini justru didaftarkan di jurusan Teknik Komputer Universitas Gunadarma.

“Inginnya kan jadi presiden atau jadi insinyur, arsitek, kan dulu pada membangun jalan. Terus orang tua mendorong ke komputer aja, bahkan  didaftarkan oleh orang tua, saya tinggal masuk aja di Gunadarma tahun 1992 yang dulu masih STMIK,” Aji berkisah diikuti derai tawa dalam wawancara khusus dengan Mediakom, Senin, 7 November 2022.

Baru satu semester kuliah, Aji berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikannya. Apalagi teman-teman diskusinya di kampus sering mencandainya bahwa lulusan teknik komputer nantinya akan menjadi tukang servis komputer. Kelakar rekan-rekannya itu justru membuat Aji berpikir keras.

“Saya berdiskusi dengan beberapa teman, dibilang nanti kalau di teknik komputer bakal jadi tukang servis komputer loh.  Ya udah, akhirnya saya pindah ke teknik informatika,” ujar pria yang hobi membaca itu, masih dengan tawanya yang renyah.

Pindah jurusan membuat Aji menemukan dunianya karena materi yang didapat selama kuliah seputar pemrograman dan analisis. Lulus kuliah, Aji sudah membayangkan akan bekerja di perusahaan swasta karena kebutuhan akan lulusan TI mulai banyak.

Namun, lagi-lagi, orang tuanya yang berlatar belakang pegawai negeri sipil (PNS) tak mendukung keinginannya. Walhasil Aji didftarkan mengikuti seleksi CPNS pada 1997.

“Saya masuk ke Pemprov DKI di bagian umum dulu, urusin kepegawaian, tahun 1997 CPNS, tahun 1998 PNS pas krismon (krisis moneter), gajinya waktu itu kecil sekali, cuma Rp 180 ribu. Karier saya benar-benar mulai dari bawah,” ia mengenang.

Titik Balik

Aji menuturkan birokrasi di masa itu masih kental dengan senioritas sehingga ia yang memiliki kemampuan di bidang komputer lebih sering dimanfaatkan untuk urusan administrasi. Bahkan, dalam suatu apel pagi, ia diumumkan sebagai penerima honor terbanyak karena sering terlibat dalam beberapa proyek Pemprov DKI.

Situasinya mulai berubah pada 2005 ketika ada pejabat yang melihat potensinya untuk mengembangkan sistem di instansinya. Menurut Aji, pejabat itu mengatakan untuk apa membunuh lalat dengan bom setelah ia mengetahui Aji yang lulusan teknik informatika hanya ditugaskan menjadi juru ketik.

“Akhirnya saya pindah ke bidang statistik pelaporan yang urusannya juga sistem dan data. Sejak itu saya mengelola sistem dan data,” tutur Aji. “Puncaknya tahun 2005 ada pergantian Kepala Bappeda. Dr. Achmad Hariyadi, namanya. Dialah yang menarik saya. Dulu kan modelnya senioritas, justru karena saya muda yang diangkat. Dulu diangkat jadi eselon IV sebagai Kepala Seksi Data dan Sistem Informasi Perencanaan.”

Mendapatkan jabatan yang sesuai dengan passion-nya, Aji membuat gebrakan dengan membangun sistem perencanaan anggaran secara daring. Ternyata tidak mudah mewujudkan rencananya karena ada sejumlah kekhawatiran, salah satunya diserang peretas. Namun Setiaji tetap yakin dengan rencananya dan hasilnya sistem yang dirancang berkembang dengan baik sehingga dapat menghindari penyalahgunaan anggaran.

“Karena kan di sistem ketahuan, siapa yang memasukkan, kapan dimasukkan. Karena ada sistem, Bappeda jadi aman. Ternyata sistem bermanfaat dari sisi transparansi dan akuntabilitas,” ujar dia.

Pada 2014, Aji memutuskan pindah ke Badan Pendapatan Daerah DKI. Hasil tes ulang pejabat yang dilakukan saat itu menempatkan dia di Samsat Polda Metro Jaya yang bertugas menetapkan pajak kendaraan bermotor. Meskipun tunjangannya lebih besar dari sebelumnya, Aji merasa tidak puas karena tidak dapat mengembangkan ide-idenya untuk memperbaiki sistem perpajakan.

Kegelisahan Aji terjawab ketika Gubernur DKI saat itu, Basuki Tjahaja Purnama, menawarinya menjadi Kepala Jakarta Smart City (JSC). Aji menerima tawaran itu meski tunjangannya lebih kecil seperempat dari Samsat DKI.

“Akhirnya saya pindah ke Jakarta Smart City. Di sana peluang berkembangnya banyak, karena saya bisa menuangkan inovasi-inovasi saya. Akhirnya saya bergabung di tahun 2015,” ujar pria yang sejak remaja gemar bermain game ini.

Setelah hampir 4,5 tahun mengepalai JSC, Aji berpikir untuk mengembangkan kariernya tetapi sesuai dengan latar belakangnya. Akhirnya, pada 2019, dia mengikuti lelang jabatan untuk posisi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat. Hasilnya, selama mengikuti proses dia selalu menduduki peringkat pertama. Setelah wawancara dengan Gubernur Jawa Barat, Aji resmi diterima sebagai Kepala Diskominfo Jabar.

“Akhirnya pindah, dari Jakarta ke Jawa Barat dan turun lagi lah insentifnya. Saya nikmati saja perjalanan itu, toh rezeki tidak ke mana, yang penting wawasan saya berkembang,” ucapnya, tersenyum. 

Memiliki pengalaman di bidang komputer dan juga lulusan S-2 Administrasi Keuangan Daerah Universitas Indonesia, Aji mulai mulai mengembangkan berbagai macam inisiasi digital, di antaranya command center dan desa digital. Saat pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, Aji mengembangkan Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) seperti aplikasi PeduliLindungi khusus COVID-19.

Pinangan Menteri Kesehatan

Sistem Pikobar yang dia bangun ternyata dilirik oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang baru diangkat menggantikan Terawan Agus Putranto. Pada 2021, Menkes datang meminang Aji untuk bergabung dengan Kementerian Kesehatan, tetapi dia menolaknya karena merasa masih baru di Diskominfo Jabar dan punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Setelah sebulan berlalu, Menkes kembali mengajaknya bertemu. Kali ini obrolan berlangsung santai karena pendekatannya lebih ke personal. Setelah berbagai pembicaraan, akhirnya Aji luluh juga ketika melihat jumlah penduduk yang meninggal akibat COVID-19.

“Yang paling membuat tersentuh saat ngobrol dengan beliau adalah pertanyaan, ‘Tahu enggak berapa yang meninggal setiap hari gara-gara COVID-19?  400 sampai 500 orang sehari. Jadi kalau kita enggak beresin ini, dan semakin lama mas Aji bergabung, ini akan banyak yang meninggal’,” kata Aji menirukan perkataan Menkes.

Pada awal bergabung, Aji masih merangkap jabatan sebagai Kepala Diskominfo Jabar dan Chief Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes. Dia secara resmi melepas jabatan di Jabar ketika diangkat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan pada 16 Desember 2021.

Ketika bergabung dengan Kemenkes, salah satu tugasnya adalah mengembangkan aplikasi PeduliLindungi yang sebelumnya dibangun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan kemudian dialihkan ke Kemenkes. Menurut Aji, PeduliLindungi yang sudah ada sejak 2020 berpeluang besar dikembangkan karena bisa diintegrasikan dengan data vaksin dan data tes COVID-19.

“Idenya kita gunakan yang ada, dalam hal ini PeduliLindungi, meski banyak yang harus diubah. Dulu untuk tracing saja, kita tambahkan fungsi screening termasuk electronic health alert card (E-HAC) juga prinsipnya kita ingin gunakan satu sistem yang terbuka dan bisa diintegrasikan dengan berbagai macam pihak,” ujar dia.

Aji mengatakan, PeduliLindungi akan dikembangkan menjadi citizen health apps yang salah satunya berfungsi sebagai rekam medis elektronik pasien yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas layanan kesehatan. Saat ini, kata Aji, telah dibangun arsitektur dalam bentuk platform terbuka bernama SatuSehat. Platform itu sedang diintegrasikan dengan 12 ribu layanan yang tersedia sehingga, jika telah selesai, dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Tahun depan, dia berencana mengembangkan sistem yang ada dengan menggunakan artificial intelligence (AI), di antaranya terkait dengan antrean pasien yang selama ini berdasarkan nomor urut pendaftaran, nantinya akan dilihat berdasarkan tingkat kesehatan pasien. Begitu juga sistem rujukan yang selama ini pasien harus datang langsung ke faskes, nantinya akan diubah lewat AI.

“Selama ini manual, dengan sistem AI maka dia akan mencari. Jadi, begitu masuk sistem rujukan, akan ada daftar rumah sakit dan dokter yang sesuai dengan rujukan pasien, termasuk bed dan jadwal operasi, sistem bisa melihat,” kata dia.

Menurut Aji, rencana pengembangan layanan kesehatan telah dirancang hingga 2024 dan akan disusun rencana pengembangan layanan kesehatan digital hingga 2029. Salah satunya yang direncanakan Aji adalah membuat national health account.

“Plan kami baru 2024, kami menyusun sampai 2029, termasuk national health account. Sekarang ini kita kan belum tahu berapa rupiah seseorang untuk sehat, nanti ada perhitungan seseorang butuh biaya berapa agar bisa sehat. Masih banyak hal tapi basic-nya dulu kita beresin,” ujarnya.

Musik, Penampilan, dan Cita-Cita yang Belum Terwujud

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, Setaji bergabung dengan grup band sekolah sebagai penggebuk drum. Grup musiknya mengusung aliran metal yang kala itu sedang digandrungi remaja.

Di sela kesibukan kuliah dan bermain musik, Aji membuka toko komputer di Glodok, Jakarta Barat. “Jadi sempat merasakan berbisnis komputer namun tidak saya teruskan,” ucapnya kepada Mediakom, Senin, 7 November 2022.

Setelah bekerja, ayah empat anak ini kerap berpindah tempat kerja. Ada beberapa faktor penyebabnya, selain memiliki keinginan selalu berkembang juga didukung faktor lingkungan seperti adanya lelang jabatan terbuka.

Aji selalu mencari cara lain untuk menempuh jalan pintas pada pekerjaan-pekerjaan tertentu. “Melihat situasi seperti ini, sebetulnya bisa diubah tapi saya harus pindah ke sini untuk melakukan perubahan ini. Mungkin itu motivasi diri saya untuk melakukan perubahan,” ujar pria 48 tahun itu.

Karena kesibukan pekerjaan, dia baru bisa menghabiskan waktu bersama keluarga pada akhir pekan. Dua anaknya saat ini tengah menempuhkan pendidikan di Bandung, sehingga setiap bertandang ke sana untuk menengok buah hatinya, dia memanfaatkanya untuk mendatangi tempat-tempat kuliner. Makanan yang biasa menjadi buruan Aji adalah aneka jenis soto. Hampir semua tempat kuliner di Bandung telah dia singgahi.

Penampilan Aji tidak seperti pejabat pada umumnya. Ia lebih senang tampil santai layaknya anak muda. Dia tak dapat melupakan pengalaman ketika hendak berbuka puasa di sebuah restoran di daerah Senayan, Jakarta.

“Restoran di atas, resepsionis di bawah. Saya datangi resepsionis, ‘Mbak, restoran Syailendra di mana?’ Dia jawab, ‘Itu di atas.’ Terus dia bilang, ‘Mas dari GoJek ya?’ Astaga, saya dari GoJek, padahal cuma pakai kaus dan tas pinggang,” kata dia, tertawa.

Pengalaman lainnya adalah saat dia melakukan pekerjaan di Aceh. Aji didampingi stafnya yang berpenampilan bak pejabat, sedangkan dia dengan gaya khasnya yang santai. Begitu sampai lokasi, para pejabat setempat menyambut ramai stafnya itu sementara dia berjalan di belakangnya sambil tersenyum. Kontan sang staf langsung memberi tahu bahwa pejabat eselon I yang seharusnya disambut ada di belakangnya. 

Ketika menjadi Kepala Diskominfo Jawa Barat, dia pernah datang ke pertemuan di sebuah hotel di Bogor. Memakai kemeja berkerah sambil menggendong tas ransel berisi laptop, dia langsung menuju pojok belakang ruangan. Ketika duduk dan menghidupkan laptop, tiba-tiba ada peserta rapat menghampirinya.

“‘Mas, nanti notulen dikasih ke saya ya.’ Waduh, saya dikira operator,” ujarnya, diikuti derai tawa.

Sebagai aparatur sipil negara, kata Aji, harus berani mengeksplorasi kelebihan yang dimiliki, salah satunya dengan mengikuti pendidikan dan latihan untuk meningkatkan keterampilan. ASN juga harus memiliki jaringan luas sehingga dapat memperoleh berbagai informasi tambahan. Di sisi lain, jika memiliki hobi, sebaiknya disalurkan agar dapat menjadi stimulus dalam bekerja sekaligus menghilangkan stres.

“Saya punya band sejak SMA, alirannya metal, namanya Lieur, bahasa Sunda artinya pusing. Sering manggung, sering dapat award, posisi saya megang drum. Di rumah juga ada satu set alat drum sehingga kalau marah pukul drum aja, ha-ha-ha,” ucapnya.

Hingga kini ada impian Aji yang belum terlaksana. “Saya belum kesampaian menulis buku. Misalnya, tentang saya atau bagaimana mentransformasikan digital ke pemerintah.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *