Profil

Berawal dari Apoteker hingga Menjadi Birokrat

Bagi Lucia Rizka Andalucia, menjadi nakhoda yang membidangi perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kefarmasian dan alat kesehatan adalah tantangan. Berfokus meningkatkan akses masyarakat terhadap obat dan membangun kemandirian bidang kefarmasian dan alkes.

Penulis: Utami Widyasih

Rabu, 15 Desember 2021, adalah hari yang bersejarah bagi Lucia Rizka Andalucia. Wanita kelahiran Surabaya 54 tahun lalu itu diberi amanah menjadi Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan. Didapuk sebagai nakhoda yang membidangi perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kefarmasian dan alat kesehatan, menjadi tantangan tersendiri bagi Rizka. Namun berbagai pengalaman yang telah ia lalui memperkaya dia hingga sampai ke jabatan saat ini.

Kepada Mediakom, Rizka menuturkan perjalanan kariernya, dari lulus kuliah dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, menjadi apoteker, hingga melamar menjadi pegawai negeri.

Bermula dari Apoteker di RS Dharmais

Lulus kuliah, Rizka harus mengikuti program Wajib Kerja Sarjana (WKS) menjadi pegawai negeri. Pada 1994, ia mulai bekerja di Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai tempat WKS. Di situlah ia memulai karier sebagai apoteker.

“Karier saya berawal dari fungsional apoteker yang terlibat langsung dengan pasien. Lalu saya menjadi struktural sebagai kepala seksi, kemudian pindah ke bagian penelitian dan pengembangan rumah sakit. Sesuatu hal yang jauh berbeda, dari keilmuan dari pekerjaan sehari-hari. Cukup lama juga saya di bagian penelitian dan pengembangan sebagai kepala bagian. Kemudian saya pindah ke bagian farmasi lagi sebagai pejabat struktural,” Rizka mengenang.

Rizka memiliki kesan tersendiri terhadap RS Kanker Dharmais, tempat ia bekerja selama 24 tahun. Ia menghadapi berbagai pembelajaran di rumah sakit itu, mulai dari manajemen rumah sakit, pelayanan kefarmasian, hingga penelitian.

Passion Dalam Melayani Pasien 

Kecintaan Rizka terhadap profesi apoteker selaras dengan passion-nya yaitu melayani pasien.

“Saya suka dengan pekerjaan itu (apoteker) dan ilmu itu (kefarmasian) karena tetap bisa memberikan pengabdian kepada sesama. Menolong orang, tapi saya  tidak harus menjadi dokter. Tetapi itu sumbangsih saya di bidang kesehatan, salah satunya melalui kefarmasian,” tuturnya.

Ada hikmah yang ia peroleh dengan melayani pasien yang bersifat teknis. Ketika ia memegang jabatan struktural yang lebih banyak membuat regulasi, menyusun strategi, ia bisa mengetahui kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan lapangan. 

Hal yang berkesan baginya selama bekerja di rumah sakit adalah bagaimana memberikan pelayanan bagi pasien, baik itu pelayanan langsung atau sebagai birokrat. Pasien, di mata mata Rizka, adalah orang yang paling menderita, mereka sangat bergantung kepadanya.

“Di situ (RS Kanker Dharmais) saya melihat pasien-pasien kanker anak, ada yang tidak mampu. Namun mereka berjuang dengan gigih untuk memperpanjang hidupnya. Jadi apabila kita bekerja di bidang kesehatan, tetapi memperhatikan hal tersebut, saya merasa sangat berdosa. Saya merasa tidak ada artinya kalau saya tidak berarti bagi orang lain, khususnya bagi pasien saya,” ujarnya lirih.

Meniti Karier

Pada 2018, lulus lelang jabatan, Rizka melanjutkan kariernya sebagai Direktur Registrasi Obat di Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jika sebelumnya di rumah sakit pekerjaannya bersifat teknis yang langsung kepada pasien dan berdampak kepada kesehatan, di BPOM pekerjaannya lebih bersifat saintifik dan wajib mematuhi SOP.

Setelah tiga tahun berkutat dengan pengawasan obat dan makanan, Rizka kembali meniti karier ke jenjang yang lebih tinggi yaitu menjadi Dirjen Kefaramasian dan Alat Kesehatan.

Sekarang, hampir genap satu tahun Rizka menduduki jabatan itu. Ia berfokus meningkatkan akses masyarakat terhadap obat, membangun kemandirian  bidang kefarmasian dan alat kesehatan.

“Karena kita tahu bahwa kita sangat bergantung pada produk impor. Kalau ada pembatasan ekspor dari negara pembuatnya, kita tidak bisa apa-apa, kita merasa kehilangan suplai. Oleh karena itu, perlu adanya kemandirian supaya kita memproduksi di dalam negeri,” kata Rizka.

Ia mengatakan Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya. Kalau berdiam diri, tidak bergerak mengupayakan kemandirian obat dan alkes, Indonesia akan tertinggal sebagai pemain besar.

Fokus Kemandirian Produksi Obat dan Alkes

Salah satu strategi Rizka untuk mencapai kemandirian adalah bekerja sama dengan instansi atau kementerian/lembaga lain, karena obat dan alkes tidak hanya menjadi urusan Kemenkes. Dari hulu ke hilir melibatkan kementerian lain seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan lain-lain. Selain itu, harus membangun jejaring di dalam dan luar negeri.

“Di luar negeri, bagaimana kita bisa membangun partner-partner untuk  memproduksi bahan baku obat. Sama halnya di dalam negeri, kita perlu menjalin kerja sama sektor pemerintah dan swasta. Selain itu, kita mendorong agar industri berkompetisi membangun dan memproduksi obat di Tanah Air,” tuturnya.

Selain memproduksi obat, ada hal lain yang menurut Rizka perlu pembenahan, yaitu rantai pasokan (supply chain). Bagaimana sebuah produk didistribusikan dan diedarkan setelah diproduksi. Hal ini, kata dia, karena ia mengetahui ada beberapa industri farmasi nakal menjadi pemenang tender di katalog elektronik obat tetapi produknya kosong.

Solusinya adalah melakukan monitoring. Rizka mengakui akan menyulitkan jika harus memantau pergerakan obat yang jumlahnya sangat banyak sementara daerah di Indonesia membentang dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, saat ini pihaknya sedang membangun sistem aplikasi Kamus Farmasi dan Alkes (KFA). Melalui aplikasi tersebut akan terlihat jumlah obat yang diproduksi oleh pabrik obat dan arah distribusinya. Apakah dari total hasil produksi langsung didistribusikan atau malah ada indikasi disimpan atau ditimbun.

Work Life Balance 

Selain sebagai Dirjen Kefarmasian dan Alkes, Rizka juga merupakan seorang istri dan ibu dari tiga anak. Saat ini, dua anaknya telah bekerja dan seorang lagi masih kuliah. Ia mengakui jarang bertemu anak-anaknya karena kesibukan masing-masing. Meski begitu Ia berupaya mengutamakan rumah tangga. Paling tidak, ia meluangkan waktu sebentar di pagi hari untuk memasak. Ia memiliki hobi memasak. Apabila tidak sempat memasak, ia menyempatkan membuat kopi untuk suaminya yang juga seorang dokter.

“Kalau  hari Sabtu-Minggu, saya suka memasak buat keluarga. Bagi saya, memasak merupakan hiburan. Kalau stres, saya larinya ke dapur, tapi akhirnya jadi gemuk. Dulu waktu masih punya banyak waktu, saya suka sekali mencoba resep-resep baru, tetapi sekarang sudah tidak ada waktu,” kata dia.

Di luar pekerjaannya, Rizka aktif berorganisasi. Menurutnya, berorganisasi membuat jejaring pertemanan menjadi luas. Ia juga menekankan kepada para juniornya bahwa berjejaring itu penting. Semakin banyak memiliki jejaring kerja sama, akan lebih mudah mendapatkan bantuan jika menghadapi kendala dan membutuhkan pertolongan.

Rizka berpesan agar masyarakat menggunakan obat dengan bijak, menggunakan obat-obatan sesuai dengan petunjuk yang ada pada etiket obat.  Jika obat harus dibeli dengan resep dokter, maka  harus dipatuhi dan hindari membeli obat sembarangan. 

Masyarakat, kata dia, sebaiknya membeli obat di tempat resmi agar mutunya dapat dipertanggungjawabkan. “Bisa jadi obat di tempat tidak resmi murah, tetapi kita tidak tahu keasliannya,” ujar Rizka menutup perbincangan dengan Mediakom

Utami Widyasih

Abdi Negara, Ibu satu anak, Gemar memasak

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *