LenteraOktober 2022

Menyehatkan Mental dengan Love Yourself

Selalu berpikir positif dan memandang segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ada hikmahnya baik bagi kesehatan mental.

Ranny Purba dikenal sebagai salah satu sosok teladan di kampungnya yang berada di tepi Danau Toba, Sumatera Utara. Tumbuh sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, ia mendapat limpahan kasih sayang. Ketika kian dewasa, kasih sayang itu berubah menjadi beban bagi kesehatan mentalnya. 

Sejatinya, gadis 30 tahun ini seperti selalu mendapat berkah dalam kehidupannya. Meski bersekolah di kampung sedari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, ia mampu menembus persaingan masuk kampus negeri berperingkat tiga besar Indonesia. Berbekal doa keluarga dan modal uang seadanya, ia nekat menuju Yogyakarta.

“Itu pengalaman pertama kali merantau ke Jawa, modalnya cuma beberapa lembar baju dalam kardus, ongkos bus, menempuh perjalanan darat lebih dari 24 jam,” Ranny mengenang kisah hijrahnya.

Saat itu, ia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya yang awalnya khawatir karena tidak ada kerabat di Kota Pendidikan tersebut. Mereka pun akhirnya luluh karena melihat Ranny selalu nampak optimistis akan pilihan hidupnya.

Berkat ketekunannya, Ranny pun lulus dengan predikat memuaskan sebagai sarjana ilmu komunikasi dalam waktu 3,5 tahun. Ia pun mulai berkutat dengan aktivitas melamar pekerjaan. Nasib baik kembali datang, ia lolos tes akhir calon pegawai negeri sipil (CPNS) di sebuah lembaga negara di Jakarta. Kebanggaan pun ia antarkan ke seantero kampungnya sebagai gadis Batak yang mandiri dan sukses.

Suatu hari, ia mengambil cuti sepekan yang dimanfaatkan untuk melepas rasa kangen kepada keluarganya. Sudah hampir dua tahun rencana Ranny tertunda untuk pulang karena kesibukan kantor. Bertemulah ia dengan keluarga besarnya.

“Ada harapan dari orang tua, keluarga besar kalau sudah saatnya mencarikan lelaki Batak yang pantas untuk saya yang sudah mandiri jadi PNS di Jakarta. Di situlah saya mulai diserang stres dan rasa panik,” kata Ranny.

Pesan-pesan dari keluarga besarnya bukan malah memotivasi, namun menjadi bola liar dalam pikiran. Ia mulai merasakan gampang gelisah, cemas, gangguan tidur, mudah lelah, dan mudah tersinggung. Ketika mendapatkan penugasan dari atasan, tidak banyak yang bisa ia selesaikan secara paripurna karena konsentrasinya terganggu. Motivasinya untuk berangkat bekerja setiap pagi pun melemah.

“Pimpinan tidak puas pada hasil kerja saya karena batin dan pikiran tidak fokus,” imbuh Ranny.

Sang atasan ternyata ikut memperhatikan perubahan mental Ranny yang juga berimbas pada presensi kerjanya. Ia menyarankan Ranny berkonsultasi ke psikiater. Saran ini pun Ranny laksanakan dengan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan. Ranny tidak mau gejala-gejala yang ia alami selama hampir dua bulan ini memicu depresi.

Ia rela menjalani sesi konsultasi dua kali dalam sepekan di sebuah rumah sakit swasta. Diagnosis awal menyatakan ada gangguan kecemasan dan stres tingkat sedang.

“Menurut dokter, saya mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental. Sedangkan penyebab gangguan kecemasannya karena trauma yang dialami di tengah keluarga,” ujar Ranny.

Selain mengonsumsi obat antidepresi resep dokter, Ranny menjalankan berbagai saran medis dalam manajemen stres yang baik. Ia diajak untuk selalu berpikir positif dan memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ada hikmahnya. Psikiater juga menyarankan agar Ranny menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.

“Istilahnya love yourself terlebih dahulu, menerima diri kita apa adanya agar bisa mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi,” ucap Ranny.

Penanganan depresi oleh dokter, menurutnya, akan disesuaikan dengan tingkat keparahan depresi yang diderita masing-masing pasien. Bentuk penanganan bisa berupa terapi konsultasi, pemberian obat-obatan antidepresi, atau kombinasi keduanya.

Seiring pengobatan selama enam bulan, perilaku Ranny terlihat berubah menuju arah lebih positif. Ia mencoba aktif di beragam kegiatan komunitas kehumasan, aktif di pelayanan gereja, dan berupaya berdamai dengan menelepon orang tuanya serta mengirimkan hadiah.

Walhasil, orang tua dan keluarga besarnya tidak banyak menuntut lagi untuk merancang pernikahan ideal ala Batak. Mereka mulai mengapresiasi upaya Ranny berjuang mengatasi gangguan kesehatan mental.

Ranny juga menjelaskan kepada mereka bahwa orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk.

“Mereka tidak mau anak perempuan kecilnya mengalami hal-hal buruk hanya karena egois ingin memenuhi keinginan sepihak. Kini yang terpenting mengutamakan kesehatan mental dengan bekerja mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen waktu lebih baik dan hidup juga lebih seimbang,” Ranny menjelaskan.

Lantaran kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin individu berada dalam keadaan tenteram dan tenang, maka memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitarnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *