Media UtamaNovember 2022

Peta Diabetes di Indonesia

Diabetes melitus merupakan penyakit pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah jantung dan stroke. Prevalensi diabetes masih meningkat.

Saat ini diabetes melitus merupakan penyakit pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah jantung dan stroke. Selain itu, diabetes juga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit komplikasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diabetes adalah penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan amputasi tubuh bagian bawah.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes melitus di Indonesia pada usia lebih dari atau sama dengan 15 tahun sebesar dua persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan prevalensi diabetes melitus pada penduduk berusia lebih dari atau sama dengan 15 tahun pada riset serupa pada 2013, yakni sebesar 1,5 persen.

Prevalensi diabetes menurut hasil pemeriksaan gula darah juga meningkat, dari 6,9 persen pada tahun 2013 menjadi 8,5 persen di tahun 2018. Riset juga menunjukkan bahwa baru 25 persen penderita diabetes yang mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes.

Hampir semua provinsi di Indonesia mengalami peningkatan prevalensi diabetes pada tahun 2013 hingga 2018, kecuali Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan, pada tahun 2018, Provinsi NTT memiliki prevalensi terendah sebesar 0,9 persen, diikuti oleh Maluku dan Papua yang sebesar 1,1 persen. Ada empat provinsi dengan prevalensi tertinggi sebesar 3,4 persen, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur, DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara.

Dalam Riskesdas 2018, prevalensi diabetes melitus pada perempuan lebih tinggi dibanding dengan laki-laki dengan perbandingan 1,778 persen dan 1,21 persen. Sementara itu, pada Riskesdas 2013 prevalensi diabetes melitus pada perempuan sebesar 1,7 persen, sedangkan pada laki-laki sebesar 1,4 persen. Data ini juga menunjukkan bahwa prevalensi diabetes melitus pada perempuan sedikit meningkat, sedangkan pada laki-laki menunjukkan penurunan.

Berdasarkan tempat tinggal, menurut Riskesdas 2013-2018, penderita diabetes pada responden yang tinggal di wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan yang tinggal di perdesaan, yaitu 1,89 persen berbanding 1,01 persen pada 2013 serta dua persen berbanding satu persen pada 2018.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *