Kilas InternasionalOktober 2022

WHO Dorong Kesehatan Jiwa Jadi Prioritas

Selama pandemi, gangguan kecemasan dan depresi meningkat. Survei terbaru menunjukkan bahwa remaja Indonesia juga mengalami gangguan mental.

Sejak tahun 2013, dunia memperingati hari kesehatan jiwa sedunia setiap tanggal 10 Oktober untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan jiwa dan mendukung orang-orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Tahun ini, tema yang diangkat oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa (WFMH) adalah “Jadikan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan untuk Semua sebagai Prioritas Global”.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, sebelum pandemi COVID-19 diperkirakan satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan jiwa. Pada saat itu, layanan kesehatan jiwa, keterampilan dalam menangani penyandang masalah kesehatan jiwa, dan pendanaannya masih terbatas dan jauh dari yang dibutuhkan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ketika pandemi pecah, timbul krisis global atas kesehatan jiwa yang memicu tekanan jangka pendek dan jangka panjang serta merusak kesehatan jiwa jutaan orang.

“Diperkirakan peningkatan gangguan kecemasan dan depresi lebih dari 25 persen selama tahun pertama pandemi. Pada saat yang sama, layanan kesehatan mental telah sangat terganggu dan kesenjangan pengobatan untuk kondisi kesehatan mental telah melebar,” tulis WHO di laman resminya pada Senin, 10 Oktober lalu.

Menurut WHO, stigma dan diskriminasi masih menjadi persoalan dalam upaya mengatasi masalah kesehatan jiwa sehingga para penderita kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan. Untuk itu, WHO akan bekerja sama dengan para mitra untuk meluncurkan kampanye “Menjadikan Kesehatan Jiwa dan Kesejahteraan untuk Semua sebagai Prioritas Global”. Gerakan ini diharapkan akan memberi kesempatan kepada penyandang kesehatan mental dan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyuarakan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan kesehatan jiwa dan kesejahteraan menjadi prioritas.

“Kami membayangkan sebuah dunia tempat kesehatan jiwa dihargai, dipromosikan, dan dilindungi; tempat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kesehatan mental dan menjalankan hak asasi mereka; dan tempat setiap orang dapat mengakses perawatan kesehatan mental yang mereka butuhkan,” kata WHO.

Kesehatan Jiwa Remaja Indonesia

Survei terbaru menunjukkan bahwa masalah kesehatan telah muncul di kalangan remaja Indonesia. Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei pertama yang merepresentasikan prevalensi gangguan mental pada remaja berdasarkan sampel rumah tangga di Indonesia, ini dilakukan oleh , Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada yang melibatkan Universitas Sumatera Utara dan Universitas Hasanuddin serta didukung oleh John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Queensland University.

Survei dilakukan dalam kurun waktu 8 Maret 2021 hingga 30 November 2021. Survei diikuti 5.664 remaja berusia 10-17 tahun dan pengasuh utama mereka di 188 area enumerasi (wilayah pencacahan) di 34 provinsi.

Metode yang digunakan adalah wawancara diagnostik terjadwal untuk anak-anak versi 5 (DISC-5). Konten dan struktur DISC-5 dirancang untuk mengikuti kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5). Menurut DSM-5, suatu diagnosis gangguan mental hanya bisa ditegakkan saat seseorang tidak hanya mengalami gejala-gejala dari suatu gangguan mental tersebut tapi juga memenuhi batas minimal frekuensinya, keparahannya, manifestasi gejala, dan gangguan fungsi (hendaya).

Parameter yang digunakan adalah dengan melihat masalah kesehatan jiwa pada remaja yang memenuhi setengah syarat diagnosis berdasarkan DSM-5. Mereka kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni di bawah ambang batas gejala dengan hendaya, memenuhi ambang batas tanpa hendaya, dan di bawah ambang batas tanpa hendaya.

Hasilnya, 65,1 persen responden tidak memenuhi ambang batas gejala dan 34,9 persen mengalami masalah kesehatan jiwa dalam 12 bulan terakhir. Dalam survei ini ada enam gangguan kejiwaan yang diteliti, yakni gangguan kecemasan menyeluruh, fobia sosial, gangguan depresi mayor, gangguan perilaku, stres pasca-trauma (PTSD), serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD). Kecemasan menduduki posisi pertama gangguan kesehatan mental yang dialami remaja (26,7 persen, diikuti ADHD (10,6 persen), depresi (5,3 persen), masalah perilaku (2,4 persen), dan PTSD (1,8 persen).

“Kecemasan memang merupakan masalah kesehatan mental yang paling lazim dialami oleh remaja usia 10-17 tahun di Indonesia,” kata dr. Amirah Ellyza Wahdi, M.S.P.H., anggota tim peneliti, dalam diseminasi hasil survei pada 20 Oktober lalu.

Para peneliti juga menemukan bahwa hanya 4,3 persen pengasuh utama yang menyatakan bahwa remaja mereka membutuhkan bantuan untuk masalah emosi dan perilaku. Dari jumlah itu, 43,8 persen melaporkan bahwa mereka tidak mencari bantuan karena memilih untuk menangani sendiri atau dengan dukungan keluarga dan teman-teman.

“Mudah-mudahan dengan informasi ini kita lebih menyadari bahwa generasi yang kita survei ini akan menjadi generasi penerus pada 2040 nanti.  Kita berharap memiliki generasi emas tapi kalau kondisinya banyak yang mengalami masalah, (kemudian) tidak kita intervensi apa pun, itu bukan menjadi modal untuk tahun 2040 tapi akan menjadi beban,” ujar Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, S.U., M.Sc., Sc.D., peneliti utama dalam survei ini. M

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *