Info SehatJanuari 2023

Bahaya Camilan Chiki Ngebul

Penggunaan nitrogen cair pada makanan atau minuman seperti chiki ngebul membahayakan kesehatan. Dapat menyebabkan luka bakar dan gangguan pada saluran dan sistem pernapasan.

Camilan anak-anal populer “chiki ngebul” menjadi sorotan setelah menelan banyak korban. Kudapan yang diolah dengan mencampurkan camilan ringan dengan nitrogen cair tersebut dapat menghasilkan sensasi rasa dingin disertai uap udara yang keluar dari mulut atau hidung. Penganan yang dikenal sebagai ice smoke atau dragon’s breath ini ternyata berbahaya bagi kesehatan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengeluarkan peringatan akan bahaya chiki ngebul. FDA mengakui bahwa Undang-Undang Makanan tidak melarang penggunaan nitrogen cair dalam pengolahan makanan. Insiden konsumsi makanan yang tidak disengaja atau kontak langsung dengan nitrogen cair di Amerika rendah tapi cederanya parah.

Menurut FDA, nitrogen cair dan chiki ngebul dapat menyebabkan kerusakan parah pada kulit dan organ dalam jika salah dalam penanganan atau tertelan secara tidak sengaja. Dengan demikian, kata FDA, nitrogen cair dan chiki ngebul tidak boleh langsung dikonsumsi atau bersentuhan langsung dengan kulit. Oleh sebab itu, pada 30 Agustus 2018, FDA mengeluarkan peringatan mengenai bahaya penggunaan nitrogen cair pada makanan yang dapat menimbulkan risiko cedera yang signifikan.

Pada September 2018, seorang anak penderita asma di Amerika mengonsumsi chiki ngebul, yang kemudian memicu penyakit asmanya kambuh. Meskipun selamatkan karena segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, peristiwa ini menjadi sorotan para praktisi kesehatan. FDA menyatakan, penderita asma berisiko lebih tinggi dengan potensi kesulitan bernapas yang serius saat menghirup uap yang dikeluarkan makanan dan minuman yang mengandung nitrogen cair ini.

Mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Profesor Tjandra Yoga Aditama, menuturkan bahwa penggunaan nitrogen cair dalam produksi makanan sudah lama dilakukan. Bahkan, penggunaannya sudah dikenal sejak tahun 1800-an tapi bukan dalam bentuk yang langsung dijual ke konsumen seperti sekarang. “Jelas memang tidak aman kalau makanan yang diproses dengan nitrogen cair lalu langsung dikonsumsi begitu selesai dibuat. Seharusnya ada selang waktu yang memungkinkan residu nitrogen cair itu menguap habis dulu, baru kemudian lebih aman dikonsumsi,” katanya melalui pesan singkat.

Menurut Tjandra, paparan kontak langsung dengan nitrogen cair dapat menyebabkan luka bakar akibat gas yang dingin, yang disebut frostbite atau radang dingin. Nitrogen cair, kata dia, juga dapat terhirup atau tertelan secara tidak sengaja yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran dan sistem pernapasan dan bahkan sampai asfiksia (kadar oksigen dalam tubuh berkurang) dan perforasi (atau luka berlubang) pada saluran cerna yang semuanya terjadi karena paparan yang amat dingin dari nitrogen cair.

Kasus di Indonesia

Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran Nomor KL.02.02/C/90/2023 tentang Pengawasan terhadap Penggunaan Nitrogen Cair pada Produk Pangan Siap Saji pada 6 Januari 2023. Surat yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, D.H.S.M., M.A.R.S., yang menyatakan bahwa tujuan dari surat ini sebagai upaya pencegahan dan peningkatan kewaspadaan terhadap penggunaan nitrogen cair pada pangan siap saji untuk mencegah terjadinya keracunan.

Dalam surat tersebut diinformasikan bahwa penambahan nitrogen cair pada produk pangan siap saji yang tidak sesuai prosedur standar operasi (SOP) dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau keracunan pangan, yaitu radang dingin dan luka bakar, terutama pada beberapa jaringan lunak seperti kulit; menghirup terlalu banyak uap yang dihasilkan oleh makanan atau minuman yang diproses menggunakan nitrogen cair dapat memicu kesulitan bernapas yang cukup parah; serta mengonsumsi nitrogen yang sudah dicairkan dapat menyebabkan tenggorokan terasa seperti terbakar karena suhu yang teramat dingin dan langsung bersentuhan dengan organ tubuh. Bahkan, menurut surat tersebut, tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa ice smoke dapat memicu kerusakan internal organ tubuh.

Kementerian Kesehatan mencatat beberapa insiden keracunan pangan akibat dari camilan yang menggunakan nitrogen cair. Pada Juli 2022, misalnya, ada anak yang mengkonsumsi ice smoke di Desa Ngasinan, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur  yang menyebabkan terjadinya luka bakar. Pada 19 November 2022, Puskesmas Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya melaporkan terjadinya keracunan pangan terhadap 23 orang dan satu di antaranya dirujuk ke rumah sakit setelah mereka mengonsumsi ciki ngebul. Pada 21 Desember 2022, Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji Jakarta menerima pasien anak laki-laki berumur empat tahun dua bulan dengan keluhan nyeri perut hebat setelah mengonsumsi ciki ngebul.

Kementerian Kesehatan mengimbau agar dinas kesehatan, puskesmas, dan balai besar teknik kesehatan lingkungan dan pengendalian penyakit serta kantor kesehatan pelabuhan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap produk pangan siap saji yang menggunakan nitrogen cair yang beredar di di wilayah kerja mereka. Kementerian Kesehatan juga meminta kepada instansi kesehatan terkait untuk memberikan edukasi ke sekolah, anak-anak, dan masyarakat terhadap bahaya nitrogen cair pada pangan siap saji serta memerintahkan agar mereka segera melaporkan temuan jika mendapati korban chiki ke situs https://skdr.surveilans.org atau nomor WhatsApp Public Health Emergency Operation Centre 0877-7759-1097 atau email poskoklb@yahoo.com dan ditembuskan kepada dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota. M

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *