Desember 2022Kilas Internasional

Flu Unta di Piala Dunia Qatar

Beberapa pemain sepak bola di Piala Dunia Qatar diduga terinfeksi flu unta atau MERS-CoV. Para ahli kesehatan memperingatkan orang-orang yang kembali dari Qatar untuk mewaspadai tanda-tanda penyakit menular ini.

Penyakit mirip flu telah menyerang beberapa pemain tim sepak bola nasional Prancis yang bertanding di Piala Dunia 2022. Mereka jatuh sakit di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV), yang dikenal sebagai “flu unta”, menyebar di Qatar.

Gelandang Adrien Rabiot dan bek Dayot Upamecano diisolasi setelah menunjukkan gejala dan absen saat tim Prancis bertanding melawan Maroko pada babak semifinal. Pelatih tim Prancis, Didier Deschamps, mengkonfirmasi bahwa pemain lain, Kingsley Coman, juga mengalami gejala tersebut. “Kami mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan, kami berusaha memastikan itu tidak menyebar, tetapi virus tentu saja menular, dan kami harus mengambil tindakan pencegahan terhadapnya,” kata Deschamps, seperti dikutip kantor berita UPI. Akibatnya, para pemain itu absen ketika tim Prancis berhadapan dengan Argentina di babak final.

Kasus ini membuat para ahli kesehatan memperingatkan para penggemar sepak bola yang kembali dari Qatar untuk mewaspadai tanda-tanda flu unta dan COVID-19. Virus unta dapat menular melalui kontak dekat dengan unta atau mengonsumsi produk unta, seperti susu yang tidak dipasteurisasi. Risiko lain termasuk kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, karena banyak penggemar bola yang senang menunggang unta selama di Qatar.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi MERS-CoV berkisar dari tanpa gejala (asimtomatik) atau gejala pernapasan ringan hingga pernapasan akut berat dan kematian. Gejala khas MERS adalah demam, batuk, sesak napas, kadang juga diare. Pneumonia adalah gejala umum tetapi pasien MERS mungkin tidak selalu mengalami kondisi ini.

Penyakit parah, kata WHO, dapat menyebabkan gagal napas yang membutuhkan alat ventilasi atau dukungan di unit perawatan intensif. Orang tua, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dan yang memiliki penyakit kronis, seperti penyakit ginjal, kanker, paru-paru kronis, hipertensi, kardiovaskular, dan diabetes, berisiko lebih besar terkena penyakit yang parah.

Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012 dan sejak itu 2.600 kasus muncul di 27 negara, yang sebagian besar di Jazirah Arab. Data WHO menunjukkan bahwa 35 persen pasien MERS-CoV akhirnya meninggal.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *