Desember 2022Media Utama

Generasi Muda yang Rapuh

Sebagian anak muda mungkin tergolong “generasi stroberi”, yang manja, malas, dan rapuh. Mereka hidup di zaman yang serba mudah tapi mental mereka lemah dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Penulis: Utami Widyasih

Belakangan ini muncul gejala generasi muda yang dinilai mudah rapuh yang populer disebut sebagai “generasi stroberi”, istilah yang pertama kali digunakan Christina Ong dalam bukunya, Office Stories (1993). Ong menggunakan istilah itu untuk menggambarkan anak-anak muda Taiwan yang malas, naif, dan egois yang “mudah rusak” seperti stroberi karena mereka, tidak seperti orang tua mereka, tumbuh dalam periode kemakmuran sehingga menjadi malas. Laporan Asia One pada 2012 menemukan sejumlah anak muda yang memiliki ciri seperti itu di berbagai negara di Asia, meskipun dengan nama berbeda, seperti “Gen Y” di Singapura dan “pemuda pengangguran” di Jepang.

“Buah stroberi ini indah dan mungkin (terlihat) kokoh dalam segala macam kehidupan. Kokoh karena (segalanya menjadi) sangat mudah dengan bantuan teknologi , namun menjadi rapuh karena dinamika yang dihadapi tidak cukup disikapi dengan daya adaptasi,” kata Fidiansjah, psikiater dan mantan Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor.

Penamaan ini terjadi tanpa ada penelitian yang komprehensif. Menurut Emily Murphy dalam buku Connecting Childhood and Old Age in Popular Media (2018), anak-anak muda Taiwan mencoba melawan pelabelan negatif itu, misalnya dengan “stroberi liar”, sebutan untuk gerakan mahasiswa pada 2008, dan “gerakan bunga matahari” pada 2014. Generasi muda ini ingin menunjukkan bahwa mereka tidak manja tapi justru ditempa untuk menghadapi hidup keras saat dewasa nanti, seperti stroberi liar yang bertahan hidup di alam bebas.

Saat ini kita memang hidup di zaman yang dalam beberapa hal tampak lebih mudah, khususnya karena adanya dukungan teknologi. Fidiansjah mengatakan, kemajuan teknologi telah mempermudah mereka mendapat informasi sehingga memperkaya apa yang mereka butuhkan. Di satu sisi, hal itu positif, tapi di sisi lain, mereka kemudian melakukan diagnosis sendiri (self diagnosis). Diagnosis diri tanpa penjelasan yang memadai dari ahlinya menyebabkan mereka dapat berpikir berlebihan dan menjadi rapuh. Beberapa manifestasi yang timbul antara lain adalah kecemasan dan depresi. Hal tersebut diperparah dengan banyaknya tokoh yang mendiagnosis secara berlebihan dan kemudian mengakhiri hidupnya sehingga bunuh diri menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang.

“Informasinya banyak, namun kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dalam menghadapi gempuran yang disebabkan era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) menjadikan mental generasi ini tidak cukup kuat,” kata Fidiansjah. VUCA adalah istilah yang diciptakan oleh pakar Amerika Serikat untuk menggambarkan dunia yang mengalami perubahan yang sangat cepat, tidak terduga, dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol dan kebenaran akan realitas menjadi sangat subyektif.

Namun, gempuran informasi bukan alasan untuk kemudian menutup katup anak untuk mendapatkan informasi yang lebih utuh saat dia, misalnya, mengalami kegalauan. Kondisi galau dan rapuh yang disebabkan karena derasnya arus informasi tidak seimbang dengan kematangan mentalnya, sehingga menjadi overthinking dan menegakkan diagnosis sendiri yang belum tentu tepat.


Pola Asuh

Pola asuh juga memberikan kontribusi dalam membentuk kepribadian dan mentalitas seseorang. Fidiansjah menuturkan, karakter seseorang terbentuk karena ada perkembangan di awal kehidupannya. Jadi, pola asuh merupakan cikal bakal kepribadiannya. Kerapuhan yang terjadi pada anak itu akibat pola asuh yang tidak tepat dan tidak optimal.

Pola asuh merupakan landasan yang sangat esensial dan menjadi pijakan seseorang dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ketika usianya semakin dewasa, hadir tokoh lain sebagai role model. Pola asuh menentukan apakah seseorang memiliki pijakan yang kokoh atau sebaliknya.

Ada orang tua yang terlalu melindungi anaknya. Hal tersebut mungkin dilatarbelakangi ketakutan tentang kejahatan yang merajalela hingga informasi soal kecelakaan. “Orang tua yang terlalu melindungi anak akan membuat anak rentan karena kemandiriannya tidak cukup kuat,” kata Fidiansjah. 

Sebaliknya, terlalu membebaskan anak tanpa rambu-rambu yang memadai juga tidak baik. Untuk itu, orang tua perlu menanamkan kesadaran bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan dan ujian yang tidak memandang umur, jenis kelamin, pendidikan, strata ekonomi, dan sebagainya.

Konsultasi Kesehatan Jiwa

Pemerintah telah membuka layanan konsultasi kesehatan jiwa gratis melalui call center 119 ext 8. Selain itu, banyak fasilitas pelayanan kesehatan, seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit, yang juga membuka layanan konsultasi kesehatan jiwa. Remaja yang merasa dirinya tertekan, tidak berbahagia, atau masalah kejiwaan lain dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sana.

Selain itu, anak muda juga perlu menjaga dirinya agar tidak stres dengan berusaha hidup bahagia. Fidiansjah membagikan cara mewujudkan perasaan bahagia, yaitu berawal dari pola pikir terlebih dahulu. Hindari apa pun dengan kacamata negatif dan harus berpikir positif. Selanjutnya, sikap positif itu akan terwujud dalam perasaan. “Kita perlu menumbuhkan perasaan bahagia dan melakukan kegiatan yang menghasilkan hormon endorfin yang memicu rasa senang, tenang, atau bahagia sehingga stres seseorang akan dikompensasikan,” katanya. M

Utami Widyasih

Abdi Negara, Ibu satu anak, Gemar memasak

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *