Galat basis data WordPress: [Duplicate entry '8388607' for key 'wpv2_visitors_stat.id']
INSERT INTO `wpv2_visitors_stat` (`time`, `ip`) VALUES ('1701638962', '3.239.2.192')

Kemenkes Kenalkan Metode Baru Deteksi Dini Kanker Leher Rahim » MediaKom
Februari 2023Peristiwa

Kemenkes Kenalkan Metode Baru Deteksi Dini Kanker Leher Rahim

Penyakit kanker masih menjadi persoalan di masyarakat karena menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada 2020, dilaporkan terjadi 10 juta kematian akibat kanker, 70 persen di antaranya terjadi di negara berkembang.

Di Indonesia, kanker leher rahim dan kanker payudara merupakan dua jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat. Tercatat ada 65.858 penduduk yang terkena kanker payudara dan 36.633 perempuan menderita kanker leher rahim. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pasien kanker bisa terhindar dari risiko kematian salah satunya jika melakukan deteksi dini. Untuk itu Kemenkes memperkenalkan metode baru untuk mendeteksi kanker leher rahim.

“Mulai 2023, Kementerian Kesehatan juga akan menggunakan metode HPV DNA, memanfaatkan PCR tes yang sudah dimiliki. Langkah ini merupakan upaya untuk deteksi stadium kanker lebih cepat,” demikian rilis Kemenkes seperti dikutip pada 2 Februari 2023.

Pelaksanaan deteksi kanker leher rahim dengan metode baru ini dimulai pada Februari 2023. “Langkah ini menemukan lebih dini lagi stadium kankernya dibandingkan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), mulai bulan ini piloting di DKI jakarta, mulai diterapkan teknologi terbarunya,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu, MARS.

Pelaksanaan program deteksi dengan DNA HPV dilakukan di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta yakni Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.  DKI Jakarta dipilih dengan pertimbangan ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung, pemerataan sumber daya manusia, cakupan pemeriksaan IVA relatif lebih baik, dan dukungan pemerintah daerah. Nantinya akan disiapkan sebanyak 8.000 tes dengan metode baru.

Meski demikian metode pengujian dengan menggunakan IVA untuk deteksi dini tetap diterapkan. Deteksi dengan tes IVA dapat dilakukan khususnya oleh perempuan berusia 30-50 tahun yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Interval pemeriksaan disarankan agar dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk melihat ada atau tidak tanda kanker pada leher rahim.

Sementara untuk deteksi  kanker payudara dapat dilakukan dengan pemeriksaan dengan metode Sadanis (pemeriksaan payudara secara klinis) dan Sadari (pemeriksaan payudara sendiri) setiap bulannya dengan cara USG yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan juga disarankan melakukan pemeriksaan setiap 3 tahun sekali. Penemuan kanker payudara secara dini membuat penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat. 

“Harapannya, penanganan yang cepat dan tepat dapat meningkatkan angka kesembuhan yang tinggi dan mortalitas yang rendah,” ujar Maxi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *