6 Penyebab Kepala Pusing
Info Sehat - 151 view


Pusing jangan dianggap enteng. Jika mendera lebih dari dua pekan, cek kondisi ke dokter karena ada beberapa indikasi yang perlu diwaspadai.

Seperti yang ada di laman self.com, Direktur Orange County Migraine and Headache Center Dr. Susan Hutchinson, M.D secara lebih spesifik menyebutkan tiga tipe penyebab sakit kepala, yakni migrain, tekanan darah, dan pemicu dari luar.

Nah, agar tidak salah mengambil tindakan, coba kenali penyebab sakit kepala berikut.

  1. Stress

“Tekanan psikologis saat stres langsung memicu sakit kepala," ujar Hutchinson.

Jenis sakit kepala satu ini dapat dikenali ketika otot-otot sekitar leher dan bahu terasa tegang. Kondisi ini terjadi akibat respons tubuh ketika mengalami kekhawatiran atau tekanan berlebih.

Jika Anda mengalami sakit kepala karena stres, sebaiknya mengupayakan untuk mengurangi perhatian terhadap sumber pemicu masalah. Artinya, kata Hutchinson, obat satu-satunya untuk jenis sakit kepala tersebut dengan melakukan manajemen stres dan beberapa strategi khusus.

Strategi yang ampuh di antaranya dengan mengubah gaya hidup, yang awalnya disibukkan dengan berbagai kegiatan menjadi lebih enjoy dengan melakukan hobi. Bagi yang terdampak serius, dokter biasanya menyarankan untuk melakukan psikoterapi jenis cognitive behavioral therapy. Cara ini dapat mengurangi rasa amarah atau kekhawatiran berlebihan dalam diri.

  1. Dehidrasi

Terkadang kegiatan minum air putih terlupakan, padahal hal sederhana ini dapat menjadi pemicu sakit kepala.

Para ahli kesehatan di Amerika Serikat belum menemukan keterkaitan langsung antara dehidrasi dan sakit kepala. Namun, mereka mencermati fungsi cairan dalam tubuh untuk mendukung tugas jantung saat memompa darah ke seluruh tubuh.

Ketika kadar air kurang dalam tubuh, darah tidak cepat terpompa ke seluruh tubuh. Volume darah yang terbatas ini membuat kadar oksigen menuju otak ikut terhambat dan menimbulkan efek sakit kepala. Hutchinson menyarankan agar mengenali tanda-tanda awal dehidrasi seperti air kencing berwarna kuning pekat, rasa haus, dan bibir pecah-pecah dan kering. 

Segeralah minum air putih, atau jika hanya tersedia makanan, pilih makanan dengan kadar air tinggi seperti seledri, semangka, dan tomat.

Perhatikan pula kadar air yang harus terpenuhi. Secara umum dari jurnal “National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine”, kaum perempuan sebaiknya mengonsumsi 2,7 liter air atau cairan per hari dan laki-laki seharusnya memenuhinya dengan 3,7 liter air per hari.

  1. Anemia

Anemia disebabkan kurangnya sel darah merah yang mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Kondisi ini menyebabkan lemah, letih, sesak nafas, hingga sakit kepala. Jika gejala anemia melanda, pastikan terlebih dahulu kondisi tadi adalah benar anemia. Dokter biasanya menanyakan riwayat kesehatan keluarga hingga melakukan sejumlah tes untuk mengetahui penyebabnya apakah kekurangan zat besi ataukah kurang vitamin B12.

  1. Penyakit kronis

Sakit kepala bisa jadi efek samping dari penyakit kronis seperti fibromyalgia, lupus, dan diabetes.

Tanda awal penyakit tersebut biasanya berupa rasa sakit terus menerus di kepala yang diikuti tanda sakit lainnya di bagian tertentu, seperti penderita lupus yang mengalami sakit sendi dan bercak kulit setelah pusing terus menerus.

  1. Kondisi hormonal seperti haid

Menstruasi atau haid seringkali menjadi penyebab utama rasa pusing di kalangan kaum perempuan dewasa.

Perubahan hormon estrogen jelang masa haid menjadi pemicunya. Hormon ini juga bereaksi ketika masa perimenopause (periode transisi saat akan memasuki masa berakhirnya menstruasi) dan postpartum (setelah melahirkan).

Lantaran penyebabnya alami, dokter biasanya menyarankan mengurangi sakit kepala dengan mengompres bagian kepala dengan air es, melakukan gerakan relaksasi sampai minum obat pengurang sakit kepala.

  1. Infeksi sinus

Sakit kepala akibat sinus mirip migraine, dan para ahli kesehatan memastikan bahwa 90 persen penderita sinus selalu mengalami sakit kepala. Dokter pun selalu menyarankan penderita sinus mengonsumsi obat antibiotik untuk menanggulangi infeksi berkepanjangan.

 

Penulis : Indah Wulandari


Index ePaper Download PDF ePaper