AADC - Ada Apa dengan COVID-19?
Media Utama - 232 view


Ada Apa dengan COVID-19?

Penulis: Giri Inayah, Editor : Sulistyo

Pada Maret 2020, kasus COVID-19 masih terjadi. Di beberapa negara, kasusnya meninglkat atau masih terjadi.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo pertama kali mengumumkan dua warga negara Indonesia yang terkonfirmasi positif COVID-19 pada Senin (2/3/2020). Keduanya sempat dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta. Keduanya kemudian dinyatakan sembuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam situs webnya menyebutkan, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia, beberapa virus corona menyebabkan infeksi pernapasan, mulai dari flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti MERS dan SARS.

Virus corona yang paling baru ditemukan (novel corona virus) menyebabkan penyakit COVID-19. Penyakit ini pertama kali muncul dan tak lama kemudian menjadi wabah di Wuhan, China pada Desember 2019.

COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar corona virus, yang sama dengan penyebab SARS pada 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, tapi angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibandingkan COVID-19 (kurang dari 5%), padahal jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dari SARS.

COVID-19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibandingkan SARS.

Sebagai penyakit menular, COVID-19 sudah ditetapkan oleh WHO sebagai Public Health Emergency for International Concern (PHEIC) pada 30 Januari 2020, saat itu masih menggunakan istilah 2019-NCov. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus selanjutnya menyatakan, penyakit novel coronavirus pada manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (COVID-19).

“Saya akan mengejanya: C-O-V-I-D dengan satu sembilan - COVID-19,” kata Tedros pada 1 Februari 2020.

Menurutnya, pada pedoman yang disepakati antara WHO, Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan, serta  Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, harus ditemukan nama yang tidak merujuk pada lokasi geografis, hewan, individu atau kelompok orang, dan yang juga bisa diucapkan serta terkait dengan penyakit.

Gejala

Dalam Buku Pedoman COVID-19 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, disebutkan bahwa gejala umum berupa demam 380C, batuk  kering, dan sesak napas. Jika ada orang yang dalam 14 hari sebelum muncul gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara terjangkit, atau pernah merawat/kontak erat dengan penderita COVID-19, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.

Gejala yang timbul biasanya ringan dan mulai secara bertahap. Bahkan beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) dan merasa baik-baik saja.

Seperti penyakit pernapasan lainnya, seperti dimuat dalam situs web WHO, COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernapas, yang biasanya muncul secara bertahap.

Walaupun angka kematian penyakit ini masih rendah (sekitar 3%), tapi bagi orang berusia lanjut, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung), biasanya lebih rentan untuk menjadi sakit parah.

Penularan

Laman Center for Disease Control and Prevention menyebutkan, virus yang menyebabkan COVID-19 diperkirakan menyebar dari orang ke orang, terutama melalui tetesan (droplet) yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Tetesan ini dapat mendarat di mulut atau hidung orang yang berada di dekatnya atau mungkin terhirup ke dalam paru-paru. Penyebaran lebih mungkin terjadi ketika orang berada dalam kontak dekat satu sama lain (dalam jarak sekitar 6 kaki).

Menurut WHO, droplet ini terlalu berat untuk menggantung di udara. Oleh karena itu, droplet cepat jatuh di lantai atau permukaan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga jarak – minimal 1 meter – sebagai upaya untuk menghindari droplet pada masa wabah ini.

Seseorang dapat tertular virus dari droplet jika berada dalam 1 meter dari seseorang yang positif COVID-19, atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh segitiga wajah: mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan.

Sebagai tindakan pencegahan, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Achmad Yurianto, menekankan bahwa jaga jarak dan mencuci tangan menjadi dua faktor penting dalam memutus rantai penularan virus corona.

Sebaran ke Indonesia

Kasus COVID-19 pertama dan kedua di Indonesia adalah imported case, artinya ia tertular dari warga negara asing yang positif. Hal ini sebagaimana disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, bahwa keduanya terpapar virus tersebut dari kontak erat dengan warga negara Jepang yang berkunjung ke Indonesia.

Sejak awal kemunculan COVID-19 di China, Indonesia telah menyiagakan pintu masuk negara di pelabuhan udara.

Di Indonesia ada 353 pintu masuk dan perbatasan negara (bandara, pelabuhan, dan pos lintas batas darat negara) di bawah pengawasan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Telah tersedia 195  thermal scanner di 135 pintu masuk negara, 21 alat capsule transport di 21 KKP. Pintu masuk negara ini menjadi garda terdepan dalam pencegehan dan pengendalian penyebaran COVID-19.


Index ePaper Download PDF ePaper