Bahagia Ketika Dapat Menolong Orang
Profil - 337 view


Sosok dengan segudang prestasi akademis namun tetap bersahaja, itulah gambaran tentang Dr. dr. Virna Dwi Oktariana, Sp.M (K). Dokter yang akrab disapa Virna ini belakangan menjadi perhatian masyarakat berkat hasil temuannya dibidang kesehatan mata yang kemudian dikenal dengan Virna Glaucoma Implant.

Di sela-sela kesebukannya sebagai Kepala Divisi Glaukoma Departemen Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan juga sebagai Koordinator Program Pendidikan Spesialis Ilmu Kesehatan Mata, redaksi Mediakom berhasil menemui perempuan kelahiran 44 tahun lalu ini. Virna bercerita mengenai pengalamannya sejak duduk di sekolah dasar hingga sampai dinominasikan sebagai PNS inspiratif tahun 2019 oleh Kementeria Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

“Saya tidak tahu orang lain melihat saya bagaimana tetapi kalau menurut saya semua biasa aja. Saya dokter, saya harus menolong orang, saya harus bantu orang, itu aja yang saya rasakan. Jadi kalau saya bisa bantu orang saya senang, rasa bahagia itu ketika pasien sampai bilang, terima kasih ya dok saya bisa melihat lagi, itu yang paling saya senang, itu rasanya terbayar. Dan apakah nanti akan membantu saya di akirat nanti. Karena hidup kan bukan di dunia saja, akhirat akan menjadi kehidupan kita yang lain. Jadi sasaran panjangnya itu lebih kesana, mudah-mudahan ini bisa menjadi amal jariah saya, jadi suatu kebaikan yang terus mengalir, mudah-mudahan Allah meridhai itu,” ucap Virna kepada Mediakom.

Sebelum menceritakan bagaimana proses penemuan glaucoma implant, Virna mengisahkan alasan dibalik keputusannya memilih untuk menjadi dokter. Padahal sejak kecil cita-cita Virna adalah menjadi guru atau seorang astronot namun semuanya berubah ketika dia duduk di bangku SMA.

“Jadi waktu itu saya berpikirnya rasanya jadi dokter itu pekerjaan buat saya pas, saya mikir-mikir karena yang pertama saya bisa mandiri sendiri, kedua bisa menolong orang lain kemudian sempat berpikir juga nanti bisa praktek dirumah, jadi pekerjaan yang bisa membuat saya kerja bisa tetapi sama keluarga juga tidak ketinggalan. Makanya saya berpikir jadi dokter aja deh, walaupun setelah jadi dokter ternyata tidak begitu juga karena profesi dokter tidak sesederhana itu. Jadi mungkin waktu itu terlalu simple pikiran anak SMA yaa,” kisah alumni SMA 28 Jakarta ini.

Bak gayung bersambut, impian Virna untuk menjadi seorang dokter menemukan jalannya. Bahkan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Virna bisa masuk tanpa harus mengikuti seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada zaman tersebut.

“Kebetulan SMA 28 itu dapat tawaran dari UI untuk PMDK jadi penerimaan mahasiswa berdasarkan bakat dan kemampuan akademisnya, saya pertama kali dari SMA 28 yang mendapat tawaran untuk mengirimkan muridnya untuk di seleksi PMDK. Alhamdulillah keterima. Jadi waktu masuk UI tahun 1993 melalui jalur PMDK tidak melalui UMPTN, keterima karena nilainya waktu itu bagus,” ujar perempuan yang menjadi dokter satu-satunya di keluarganya.

Selama kuliah di FK UI Virna masih mempertahankan prestasi akademis seperti masih duduk dibangku sekolah dulu. Sebagai konsekwensi atas prestasi akademis yang diraihnya, sepanjang kuliah kedokteran Virna hampir selalu mendapat beasiswa. 

“Jadi selama saya kuliah kedokteran 6 tahun saya mendapat beasiswa 4 atau 5 tahun di masa pendidikan saya, jadi alhamdulillah, itu semua karena akademis bukan karena keluarga tidak mampu,” sebut Virna.

Meski memilki prestasi akademis yang menterang Virna juga tetap aktif di kampus dengan bergabung dengan organisasi mahasiswa bahkan hingga ikut dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Universitas Indonesia yang sekarang dikenal dengan BEM UI. Bahkan saat peristiwa  demo mahasiswa tahun 1998, Virna juga ikut ambil peran didalamnya,

“Zaman tahun 1998 saya termasuk yang bermalam disini (kampus kedokteran UI) jadi bagian logistik. Jadi karena jabatan saya di Senat mahasiswa itu sebagai Dewan Penasehat Senat FK UI waktu pas tahun 1998, jadi saya sempat bermalah di ruang Wadek 3 yang mengurusi kemahasiswaan. Jadi orang-orang berangkat demo kita yang menyiapkan makanannya, sumbangan-sumbangan yang masuk kita urusin disini kemudian kita kirim ke DPR,” kenang Virna.

Lulus kuliah kedokteran tahun 1999, Virna melamar untuk menjadi dokter pegawai tidak tetap (Dokter PTT) di povinsi Kalimantan. Namun karena panggilan untuk menjadi dokter PTT tidak kunjung datang, maka pada tahun 2001 Virna memutuskan mengambil pendidikan dokter spesialis.

Ada alasan tersendiri mengapa akhirnya Virna menjatuhkan pilihan untuk menjadi spesialis mata. Saat itu, kata Virna, dirinya memiliki minat pada 3 jenis pendidikan spesialis yakni  spesialis mata, spesialis penyakit dalam dan spesialis bedah. 

Mulanya Virna berpikir untuk menjadi seorang dokter spesialis bedah tetapi karena lingkungan pergauannya kebanyakan laki-aki dan juga banyak tindakan yang harus dilakukan, Virna meras tidak cocok. Pilihan kedua adalah ilmu penyakit dalam, namun untuk pendidikan spesialis yang satu ini Virna juga merasa masih kurang pas. 

“Kemudian kalau penyakit dalam saya minat, cuma penyakit dalam yang saya kurang suka justru nggak ada tindakan sama sekali, tindakan sangat kurang kebanyakan ilmunya, mikir, diagnosis terus saya bilang (dalam hati) rasanya bukan saya juga gitu. Akhirnya saya ambil spesialis mata, karena mata itu ada fifty-fifty, 50 mikir 50 tindakan, akhirnya saya ambil itu,” sebut Virna.

Hanya perlu waktu 3 tahun 3 bulan bagi Virna untuk mendapat gelar sebagai dokter spesialis mata. Usai lulus pada bulan September 2004 Virna kemudian memutuskan untuk berpraktek sampai akhir tahun 2005.

Kecintaannya akan almamaternya saat kuliah membuat Virna kembalu ke fakultas kedokteran Universitas Indonesia sebagai peserta fellow glaucoma. Jika peserta fellow biasanya hanya mendapatkan kesempatan belajar selama 3 bulan namun Virna memperoleh kesempatan selama 3 tahun karena pada saat bergabung Virna sekaligus melamar sebagai calon staf. “, tahun 2006 mulai jadi calon staf sampai akhirnya selesai tahun 2008 belajarnya. Dan tahun 2008 itu baru diterima sebagai tenaga kontraknya RSCM,” terang Virna.

Pada akhir tahun 2009, Virna kembali lagi merasa harus menambah pengetahuannya sehingga memutuskan untuk mengambil pendidikan S3. Saat mulai mengikuti program pendidikan Doktoral Virna mengaku belum memiliki ide untuk penelitiannya hingga pada akhirnya di tahun 2011 dalam sebuah program kursus yang diikutinya di Royal Perth Hospital Virna bertemu dengan Profesor Morgan. 

Selama berada di Australia Virna melakukan diskusi dengan Prof Morgan terkait materi apa yang akan dijadikan objek penelitiannya. Saat itu, kata Virna, Prof Morgan menyarankan untuk mencari permasalahan kesehatan mata di Indonesia apa saja. Salah satu yang tercetus kemudian adalah mengenai implant, dan akhirnya disarankan agar Virna membuat implant yang di Indonesia terbatas dan harganya mahal.

Kembali ke Indonesia, Virna menyampaikan ide penelitiannya kepada dosen pembimbingnya dan mereka mendukung. Bahkan dosen pembimbing Virna membantu mengenalkan Virna degan pejabat perusahaan farmasi ternama untuk membantu mewujudkan Virna membuat Impant. Setelah perusahaan yang berkantor pusat di Jepang tersebut menyatakan siap mendukung, Virna pun memulai proses pembuatan implant.

“Maka dimulailah desaining, saya mulai mengukur ukuran bola mata orang Indonesia setiap kali operasi, saya ukur jarak antar otot untuk memperkirakan desain itu seperti apa. Kemudian saya mulai mendesain dengan prof morgan, jadi kita buat bentuknya seperti apa dan untuk selangnya akhirnya saya kepikir bisa beli silicon oil, sebenarnya yang kita desain itu kan platenya artinya bahan untuk reservoir implantnya itu kita buat dari polymethylmethacrylate,” papar Virna.

Cukup Panjang waktu yang diperlukan Virna untuk menyelesaikan penelitiannya, dimulai sejak tahun 2011 dan sampai akhirnya mendapatkan prototype pada tahun 2015. Setelah memiliki prototype, Virna melanjutkan penelitian kepada hewan kelinci selama 2 bulan dan berhasil.

Sebelum melanjutkan penelitian pada manusia terlebih dahulu Virna harus mempresentasikan hasil penelitiannya terhadap kelinci di depan sidang komite etik dan sidang penguji. Setelah mendapat persetujuan, Virna melanjutkan penelitan pada manusia dimana ada 2 orang yang dipiih untuk menjadi pasien Virna.

“Jadi dipilih pasien yang memang penglihatannya sudah tidak ada, tetapi dia kesakitan karena glaukoma satu mata karena tekananya tinggi. Itu yang pertama kali kita pasang dan kita pastikan dulu ke pasiennya, ini benar-benar prototype implant pertama kali. Dia matanya satu buta dan dipasang pada mata yang buta itu, jadi pada mata yang sudah tidak melihat yang dipasang tidak boleh pada mata yang masih melihat dipasang. Jadi pada mata yang tidak melihat itu kita pasang implant yang pertama,” jelas alumni SMP 41 Jakarta ini.

Hasil pemasangan implant dan juga pemantauan selama 3 bulan menunjukan kondisi pasien membaik sehingga Virna melanjutkan penelitiannya kepada 13 pasien lainnya. Total ada 15 pasien yang dipasangkan implant hasil buatan Virna untuk kemudian dipresentasikan dihadapan sidang doktoralnya. “Jadi Desember tahun 2016 saya presentasi disertasi doctor saya untuk mempertahankan tentang implant glaukoma ini,” kata Virna.

Virna menjelaskan tujuan dari pemasangan implant bagi pasien penderita glaucoma adalah  untuk menurunkan tekanan bola mata sehingga tidak terjadi progresivitas penyakit. Hal lainnya yang menjadi perhatian virna sejak penelitian ini dilakukan pertama kali adalah aga hasil penelitannya dapat bermanfaat dan juga terjangkau oleh masyarakat.

“Saya bilang dari awal seharusnya mindsetnya bisa dimanfaatkan bukan hanya menjadi temuan, kita memang berkarya agar bisa dimanfaatkan orang. Dari awal saya menciptakan implant ini saya sudah katakana saya mau implant yang murah nggak boleh harganya mahal-mahal,” tutur Virna.

Sampai saat ini, sebut Virna, implant ciptaannya sudah dipasangkan lebih dari ke 300 pasien dan juga sudah didaftarkan di Kementerian Kesehatan sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat. Selain disibukan dengan pengerjaan operasi pemasangan implant, Virna juga berperan sebagai tenaga pendidik  para calon dokter spesialis mata di FK UI. Kepada para peserta didiknya Virna senantiasa berpesan agar menjadi dokter mata yang baik.

“Jadi saya selalu bilang sama murid saya, kamu harus jadi dokter mata yang baik dan dokter mata yang aman,  maksudnya aman adalah jangan kamu akhirnya mencelakakan orang lain jadi kalau kamu bekerja dengan sebaik-baiknya dan berusaha jangan membuat keadaan semakin buruk. Kalau kamu memang nggak bisa, rujuk. Kalau bisa tangani ya tangani. Tetapi harus menilai kemampuan diri sendiri, kita bisa , kita mampu atau tidak? Kalau mampu boleh dikerjakan tetapi kalau tidak mampu jangan, rujuk aja supaya kita jangan membahaykan mata orang lain,” terang Virna.

Meski saat ini sudah disibukan dengan banyaknya pasien glaucoma yang harus dipasangkan implant, Virna masih memiliki impian lainnya. Virna berharap ada orang yang dapat menemukan cara bagaimana membuat orang yang tidak melihat jadi mampu melihat kembali.

“Saya bilang kalau ada orang yang bisa menemukan obat atau apa yang menyebabkan orang yang tadinya tidak bisa melihat jadi bisa melihat pasti akan mendapat nobel, walaupun sasaran saya bukan nobel. Tetapi sasarannya adalah supaya orang yang nggak melihat dia bisa melihat lagi tetapi itu masih jangka panjang. Sekarang ini saya masih berkutat dengan menangani masalah-masalah yang dulu, kasus-kasus kami yang cukup banyak glaukoma-glaukoma yang bermasalah ini supaya dia bisa tertangani dengan baik dan mudah-mudahan tidak jadi buta, itu harapannya,” tutupnya.

 

Penulis : Didit Tri Kertapati

Editor: 


Index ePaper Download PDF ePaper