Cara Efektif agar Tidak Tertular Covid-19
Media Utama - 132 view


Pasca diumumkannya kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, informasi seputar cara melindungi diri agar tidak terinfeksi virus ini banyak beredar. Namun, tidak semua informasi tersebut benar.

Oleh karena itu, mengetahu cara penularan virus ke manusia perlu diketahui untuk mencegah COVID-19.

Menurut WHO, COVID-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan dari hidung atau mulut orang yang terjangkit COVID-19 saat batuk atau mengeluarkan napas.

Percikan tersebut kemudian jatuh ke benda-benda di sekitar, hingga orang yang tadinya belum terjangkit menyentuh benda tersebut. Selanjutnya tanpa sadar, tangan orang yang belum terjangkit itu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya sehingga dapat terjangkit COVID-19.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat agar tidak tertular virus corona COVID-19.

Cuci tangan

WHO merekomendasikan untuk sering cuci tangan menggunakan air bersih mengalir dan sabun cair. Jika sedang beraktivitas di luar rumah dan tidak menemukan air mengalir, dapat menggunakan cairan antiseptic berbahan dasar alkohol karena ini diyakini dapat membunuh virus yang menempel di tangan.

Agar cuci tangan yang dilakukan efektif, harus diperhatikan cara mencuci tangan yang benar. Laman COVID-19.go.id menyebutkan langkah-langkah yang tepat untuk melakukan cuci tangan sebagai berikut: basahi tangan dengan air mengalir; sabuni tangan; gosok semua permukaan tangan, termasuk telapak dan punggung tangan, sela-sela jari dan kuku, selama minimal 20 detik; bilas sampai bersih dengan air mengalir; keringkan tangan dengan kain bersih atau tisu pengering tangan yang harus dibuang ke tempat sampah segera setelah digunakan.

Masker

Penggunaan masker direkomendasikan untuk orang yang memiliki gejala batuk dan pilek, tenaga kesehatan, dan orang yang merawat orang sakit. Penggunaan masker bedah atau masker N95 jelas tidak disarankan bagi orang yang tidak sakit atau mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, dan kesulitan bernapas.

Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Ari Fahrial Syam, masker bedah tidak efektif digunakan oleh tenaga medis yang melakukan kontak dekat dengan pasien positif COVID-19. Dengan demikian saat dokter memberikan tindakan terhadap pasien positif COVID-19 maka akan mengunakan masker N95, bahkan ditambahkan dengan kacama goggle.

“Bagi dokter praktik yang sekadar berkomunikasi dengan pasien asimptomatik atau tindakan bukan untuk pasien COVID-19, masker bedah dirasa sudah cukup. Bisa pula memakainya saat berada di jalan guna menghindari kerumunan yang dicurigai positif,” kata Ari sebagaimana dikutip dari Republika.

Ari menjelaskan, masker bedah memilki desain khusus pada setiap bagiannya, di mana pada bagian luar masker adalah lapisan antiair sehingga melindungi dari droplet. Sementara, lapisan dalam masker digunakan untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut serta lapisan tengah yang gunanya menyaring kuman. Masker N95 memiliki kemampuan yang lebih baik lagi dibandingkan masker bedah, karena mampu menyaring hingga 95 persen virus di udara.

Terkait penggunaan masker kain oleh masyarakat, menurut Ari tidak efektif melindungi penggunanya dari paparan virus. “Masker seperti itu hanya berfungsi untuk menyaring debu,” sebut Ari.

Sebagaimana dilansir CNN, ahli kesehatan masyarakat yang juga merupakan mantan Sekretaris Kesehatan Filipina, Esperanza Cabral menyebutkan efektivitas masker kain memang tidak sebaik masker bedah. Namun, masker kain dapat dipakai berulang kali asalkan selalu dicuci dengan sabun dan air setiap hari.

"Anda dapat menggunakan masker kain tetapi tidak seefektif masker bedah, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali," kata Cabral.

Menjaga jarak

WHO menyatakan, orang tidak sakit dan tidak merawat orang sakit yang menggunakan masker medis merupakan bentuk pemborosan. Untuk itu WHO menyerukan kepada masyarakat agar menggunakan masker medis dengan bijak sehingga pemborosan tidak terjadi dan masker tidak disalahgunakan.

WHO melansir, cara paling efektif melindungi diri dan orang lain dari COVID-19 adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku terlipat atau siku, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.

Juru bicara pemerintah untuk COVID-19, dr. Achmad Yurianto menyebutkan salah satu langkah terpenting untuk memutus rantai penularan virus corona adalah dengan menjaga jarak saat berinteraksi. Hal tersebut perlu dilakukan karena cara penularan virus corona dari orang ke orang terjadi melalui percikan dari orang yang positif ke orang yang sehat. Namun, bila ada jarak ketika berinteraksi lebih dari satu meter maka kemungkinan untuk terkena percikan dapat dihindari.

“Oleh karena itu, saya minta mari kita patuhi bersama hindari kontak dekat. Jaga jarak pada saat melaksanakan komunikasi dengan siapa pun, baik itu di rumah maupun di luar rumah,” imbuh Yuri.

Daya tahan tubuh

Sampai saat ini belum ada obat maupun vaksin untuk mencegah dan mengatasi COVID-19. Namun, sebagaiman sifat penyakit yang disebabkan oleh virus dapat sembuh dengan sendirinya  (self limiting diseases), maka salah satu cara terbaik mencegah tertular COVID-19 adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

Mengutip Alodokter, daya tahan tubuh yang kuat dapat mencegah munculnya berbagai macam penyakit. Dengan demikian, setiap orang disarankan untuk melakukan hal ini dengan cara mengonsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan serta makanan berprotein seperti telur, ikan, dan daging tanpa lemak.

Selain itu, rutin berolahraga, tidur yang cukup, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari penularan virus Corona. Bila perlu, Anda juga bisa menambah konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.

Cairan Disinfektan

Cara lain agar terlindung dari COVID-19 adalah dengan penyemprotan cairan disinfektan. Sebagaimana ada dalam laman covid.go.id, cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda, bukan pada tubuh atau baju, dan tidak akan melindungi seseorang dari virus jika berkontak erat dengan orang sakit.

Ditegaskan pula dalam kanal informasi resmi pemerintah tentang COVID-19 tersebut, virus berpindah melalui percikan batuk/bersin orang sakit yang kemudian terhirup orang lain atau menempel di permukaan benda yang kemudian disentuh lalu masuk melalui mata, hidung atau mulut orang lain. Cairan disinfektan dapat membersihkan virus yang menempel di permukaan benda seperti meja, gagang pintu, atau saklar lampu yang kerap disentuh orang.

Selain menyemprotkan disinfektan, alkohol dan zat klorin juga menjadi pilihan beberapa masyarakat untuk melindungi diri dari COVID-19. Namun, hal tersebut sama tidak efektifnya bagi tubuh, seperti halnya penyemprotan zat disinfektan ke tubuh baik melalui bilik atau disemprot langsung.

Masih dari covid.go.id, menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh tidak akan membunuh virus yang telah memasuki tubuh. Menyemprotkan zat-zat semacam itu justru akan merusak pakaian dan selaput lendir (yaitu mata, mulut).

Ketahuilah bahwa alkohol dan klorin dapat berguna mendisinfeksi permukaan, tetapi perlu digunakan di bawah rekomendasi yang tepat. [*]

Penulis: Didit Tri Kertapati


Index ePaper Download PDF ePaper