Cara Tepat Isolasi Mandiri di Rumah
Media Utama - 152 view


Ada beberapa hal yang perlu dilakukan keluarga dan pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Menghindari penularan dan mempercepat kesembuhan. 

 

Untuk mengurangi beban pelayanan di rumah sakit ketika terjadi lonjakan COVID-19, pemerintah menyarankan pasien COVID-19 yang tidak bergejala dan bergejala ringan agar melakukan isolasi mandiri di rumah. Menurut Buku Saku Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 2, yang dimaksud gejala COVID-19 ringan di antaranya adalah demam, batuk (umumnya batuk kering ringan), kelelahan, penurunan nafsu makan, sakit kepala, kehilangan indra penciuman (anosmia), kehilangan indra pengecapan (ageusia), nyeri otot dan nyeri tulang, nyeri tenggorokan, pilek dan bersin, mual, muntah, nyeri perut, diare, konjungtivitis (radang/iritasi mata), kemerahan pada kulit atau perubahan warna pada jari-jari kaki, frekuensi napas 12-20 kali per menit, serta  dan saturasi lebih dari atau sama dengan 95 persen.

Namun, tidak semua pasien bergejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, SpP(K), mengatakan, ada beberapa kriteria tempat tinggal yang harus dipenuhi agar dapat digunakan untuk isolasi mandiri di rumah. Kriteria itu antara lain memiliki ruangan sendiri atau tidak serumah dengan anggota keluarga yang memiliki resiko tinggi seperti bayi, orang lanjut usia, orang dengan sistem imun yang rendah, atau anggota keluarga yang memiliki penyakit komorbid. “Jika tidak memenuhi syarat di atas, segera kontak fasilitas kesehatan atau pusat kesehatan masyarakat terdekat agar dirujuk ke layanan isolasi atau rumah sakit terdekat,” katanya dalam Webinar Isolasi Mandiri Pasien COVID-19 pada Jumat, 3 Juli 2021.

Apabila kondisi tempat tinggal sudah memenuhi syarat, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Menurut Buku Saku Tanya Jawab Mengenal Kesatria Isoman dan Isoman-Tau yang diterbitkan oleh Instalasi Peningkatan Kompetensi dan Simulasi Klinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, keluarga harus menyiapkan kamar yang terpisah dengan anggota keluarga yang negatif COVID-19. Mereka juga harus menyiapkan alat makan tersendiri untuk pasien. Akan lebih baik kalau kamar mandi yang pasien gunakan juga terpisah dari anggota keluarga lain.

Keluarga juga perlu menyiapkan thermometer dan oksimeter nadi (pulse oxymetry) untuk memantau suhu, saturasi oksigen, dan frekuensi nadi. Protokol kesehatan harus dijalankan secara ketat di dalam rumah.

Selain itu, pasien juga harus mengelola sampah, seperti tisu yang digunakan untuk membuang ingus atau dahak dan masker, dengan mengumpulkannya dalam satu kantong plastik di sebuah tempat sampah tertutup di sudut kamar. Tempat sampah tersebut khusus untuk pasien dan tidak boleh tercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Sebaiknya kantong sampah yang digunakan ditandai dengan “limbah infeksius”.

Dalam paparannya, Erlina menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasien yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah. Dia menyarankan agar pasien membuka jendela kamar agar cahaya matahari bisa masuk dan ada sirkulasi udara. Jika tidak terdapat jendela kamar, pasien bisa mencari udara segar atau berjemur di luar rumah secara rutin. Ini dapat dilakukan dengan syarat  anggota keluarga lain berkoordinasi untuk tidak melakukan kontak dengan pasien, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Area dan ruang yang dilalui pasien juga dapat langsung disemprot dengan disinfektan aerosol.

Pasien, menurut Erlina, perlu berjemur selama 10-15 menit antara pukul 10 pagi hingga 1 siang. Pasien juga harus menggunakan masker saat bertemu anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah. Dia juga harus rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Pasien, kata Erlina, harus menerapkan etika batuk, olahraga ringan rutin sebanyak 3-5 kali sepekan, dan makan makanan yang bergizi seimbang tiga kali sehari secara terpisah dari orang yang tinggal serumah.

Pakaian kotor pasien juga harus dipisahkan dan dibersihkan secar terpisah dari orang yang tinggal serumah. Kamarnya juga harus dibersihkan setiap hari. Orang yang membersihkannya harus menggunakan alat pelindung diri, minimal masker.

Pasien sebaiknya mencuci alat makannya sendiri setelah selesai digunakan. Suhu tubuh dan saturasi oksigennya juga haru diperiksa setiap pagi dan malam. Dia juga harus  tidur yang cukup dan mengkonsumsi vitamin C, D, dan suplemen multivitamin serta obat sesuai anjuran dokter yang menangani. Untuk mempermudah konsultasi, pasien bisa menghubungi dokter dengan program telemedicine.

Selain itu, pasien jangan lupa untuk menjaga kesehatan jiwa dengan banyak berdoa. Dia perlu menganggap isolasi mandiri sebagai “me time” dengan menjalankan hobinya dan berbicara atau mengobrol dengan keluarga secara daring serta mengurangi paparan media sosial dan berita tentang COVID-19.

Keluarga pasien, kata Erlina, perlu melakukan beberapa hal. Selain menjaga jarak dengan pasien minimal 1 meter dan memakai masker, mereka harus selalu membuka jendela rumah agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Mereka juga harus rajin mencuci tangan dengan sabun dan menghindari menyentuh wajah. Daerah di luar ruang isolasi yang sering diakses atau disentuh pasien, seperti gagang pintu, juga harus dibersihkan secara rutin.

Meskipun tidak sakit, mereka perlu memeriksaan diri ke dokter dan melaporkan jika muncul gejala COVID-19. Mereka juga dapat menghibur dan memberikan dukungan maksimal kepada pasien dan mengingatkan pasien untuk minum obat.

Isolasi mandiri di rumah dilakukan selama maksimal 10 hari sejak muncul gejala ditambah tiga hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. Jika gejala lebih dari 10 hari, maka isolasi dilanjutkan hingga gejala hilang ditambah dengan tiga hari bebas gejala.

Erlina mengingatkan bahwa jika suhu tubuh pasien naik hingga 38 derajat atau mengalami gejala lain seperti sesak napas (napas lebih dari 24 kali dalam satu menit) dan saturasi oksigen kurang dari atau sama dengan 94 persen atau gejala berat lainnya (demam terus menerus, diare terus-menerus, muntah terus menerus, nyeri dada, gangguan kesadaran), mereka harus segera menghubungi petugas medis, rumah sakit, ambulans, atau segera ke ruang instalasi gawat darurat. “Kalau Anda nggak bisa lapor, lapor ke keluarga dan minta keluarga mengatur untuk bisa mendapatkan apa yang mesti dilakukan,” kata dia. Selama menunggu bantuan, jika saturasi turun dapat melakukan posisi tengkurap (prone), setengah duduk, atau tidur miring untuk memperbaiki ventilasi paru. [*] 

 

Penulis: Faradina Ayu 


Index ePaper Download PDF ePaper