Cara Tepat Penanganan Diare Akut
Lipsus - 244 view


Semua orang pernah mengalami diare, mulai dari yang bergejala ringan hingga berat.  Diare adalah buang air besar cair lebih dari tiga kali yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) perhari dan berlangsung kurang dari 7 hari. Dan bayi mungkin saja buang air besar lembek 4-5 kali karena minum ASI dan hal ini masih normal.

 

Apa saja peyebab diare akut?

Secara klinis penyebab diare akut dibagi dalam 4 kelompok yaitu infeksi, malabsorbsi, keracunan makanan dan diare terkait penggunaan antibiotika. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit (protozoa, cacing). Dari berbagai penyebab tersebut, yang sering ditemukan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus yaitu Rotavirus. Pada penelitian yang dilakukan oleh prof. Yati Soenarto dkk (UGM) pada pasien rawat inap anak dengan diare akut di 4 provinsi  mendapatkan 47,5% penyebab infeksi adalah  rotavirus. Diare karena rotavirus sebagian besar terjadi pada anak kurang dari 2 tahun.  Kerusakan vili/ jaringan  usus karena infeksi virus (rotavirus) mengakibatkan berkurangnya produksi enzim laktase sehingga menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi) laktosa. 

 

Pedoman tatalaksana diare menyebutkan penyebab karena bakteri sebesar 8,4%.  Diare karena keracunan makanan disebabkan karena kontaminasi makanan oleh mikroba misalnya: Clostridium botulinum, S. aureus dll. Keracunan makanan dapat disebabkan keracunan bahan kimia, racun yang dikandung dan diproduksi oleh jasad renik yang terdapat dalam sayur-sayuran atau ikan, buah-buahan. Diare Terkait Penggunaan Antibiotik (DTA) terjadi karena penggunaan antibiotika selama 5-7 hari yang menyebabkan berkurangnya flora normal (bakteri baik) di usus sehingga ekosistem flora usus didominasi oleh kuman patogen khususnya Clostridium difficile. Angka kejadian DTA berkisar 20-25%.

Faktor risiko terjadinya diare cukup banyak seperti hygiene perorangan yang kurang baik, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah, bayi berat badan lahir rendah, bayi yang tidak minum ASI (air susu ibu), rendahnya ketersediaan air bersih, rendahnya asupan zinc, tidak mendapat imunisasi dan sanitasi lingkungan buruk termasuk kelompok pencemaran lingkungan. Jurnal Lancet menyatakan besaran risiko terjadinya diare disebabkan oleh berat badan yang kurang sebesar 80,4%, air yang tidak aman berisiko 72,1% dan sanitasi lingkungan berisiko sebesar 56,4%. Dan pencegahan terhadap 1.762 anak berat badan yang rendah dapat mencegah 1 kematian karena diare.

 

Diare pada Anak

Tatalaksana diare pada anak  (pedoman tatalaksana  diare) prinsipnya mengikuti lima langkah tuntaskan diare (Lintas Diare) yang terdiri dari pemberian oralit osmolaritas rendah, pemberian zinc, pemberian ASI/makanan, pemberian antibiotika hanya atas indikasi dan pemberian nasihat.  

Pemberian oralit untuk mencegah dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah. Di Negara berkembang, umumnya anak sudah mengalami defisiensi Zinc. Pada anak yang diare kehilangan zinc melalui tinja sehingga defisiensi akan lebih berat. Zinc mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, serta menurunkan kekambuhan terjadinya diare.   Pemberian ASI/makanan harus tetap diberikan agar anak kuat dan tidak kurang gizi. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi seperti pada diare berdarah, terduga kolera dan infeksi pencernaan lainnya. Obat antiprotozoal diberikan bila terbukti diare karena parasit (amuba, giardia). Pemberian nasehat juga sangat penting dilakukan terutama mengenai cara memberikan oralit dan zinc dan  kapan harus kembali ke petugas kesehatan.

Penyebab diare sangat beragam oleh karena itu bila pertolongan pertama di rumah telah dilakukan namun anak tetap diare sebaiknya berkonsultasi ke petugas kesehatan, sehingga anak pun dapat diperiksa dan diobati lebih lanjut sesuai kondisi anak.  Jangan sepelekan diare karena kekurangan cairan dapat berakibat fatal.

 

BOKS

Cara Membuat Oralit

Prinsip sederhana penanganan diare adalah mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan. Saat diare, banyak cairan yang keluar berupa garam-garam elektrolit dan tinja. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 hanya 34,8% penggunaan oralit untuk penanganan diare pada balita. Artinya penggunaan oralit masih sangat rendah padahal penyebab diare akut yang terbanyak adalah virus dan belum ada pengobatan yang spesifik sehingga penggantian cairan yang hilang akibat diare sangat penting.  

Masih banyak yang belum mengetahui cara penggunaan oralit meskipun produk ini sudah lama ada. Berikut panduan cara membuat oralit:

  1. Cuci tangan pakai sabun dan bilas dengan air mengalir sebelum membuat oralit.
  2. Ambil satu bungkus oralit, goyangkan agar bubuk oralit bersatu di bagian bawah kemasan lalu gunting rata bungkus bagian atas sehingga tidak ada yang bubuk yang tumpah, karena akan mengurangi dosisnya. Bila bubuk oralit bergumpal atau basah jangan digunakan.
  3. Siapkan air matang 200 mL dalam gelas dan tuangkan 1 bungkus oralit ke dalamnya.
  4. Aduk cairan oralit hingga tercampur rata dan larut.
  5. Berikan pada anak dengan cara diminumkan melalui gelas atau botol bersih atau disendokkan sesuai takaran. Untuk umur <1 tahun diberi 50-100 mL setiap kali buang air besar/berak. Untuk umur >1 tahun diberi 100-200 mL setiap kali buang air besar/berak.
  6. Bila muntah tunggu 10 menit dan dilanjutkan sedikit demi sedikit
  7. Beri oralit sampai diare berhenti.
  8. Tetap berikan makanan dan minuman seperti biasa.

Bila diare berlanjut periksakan kembali anak ke petugas kesehatan.

 

Penulis: Ira, MEpid

Editor : Prima Restri


Index ePaper Download PDF ePaper