‘Empek Ikan Belida’ Menyehatkan Mata Masyarakat Sumsel
Potret - 133 view


Mendengar nama Empek Ikan Belida, terbayang sudah kelezatan makanan khas Palembang nan gurih. Rumah Sakit Khusus Mata (RSK Mata) Sumsel punya ide tersendiri untuk memakai nama tersebut agar masyarakat lebih dekat dengan layanan kesehatan khusus operasi mata katarak.

”Empek Ikan Belida singkatan dari Eyecamp Project, Inisiatif Kontra Kebutaan Bergerak Keliling Daerah. Inovasi ini adalah solusi dari masalah mengatasi kebutaan di Sumsel dengan membawa layanan kesehatan mata lebih dekat kepada masyarakat (eyecamp),” kata Plt. Direktur RSK Mata Sumsel dr. Siska Trisanti, Sp.M

Selain skrining dan edukasi kesehatan mata, lanjut Siska, tim Empek Ikan Belida melaksanakan tindakan operasi katarak gratis bagi warga tidak mampu di daerah terpencil. Program yang digagas sejak tahun 2011 ini memfasilitasi  akses pelayanan kesehatan mata ke seantero Provinsi Sumsel. 

Kebermanfaatan Empek Ikan Belida pun diapresiasi dengan Top 99 Inovasi Pelayanan Terbaik se-Indonesia (Sinovik) tahun 2018 oleh Kemenpan RB. Program ini dinilai mendukung penanggulangan angka kebutaan internasional WHO, Vision 2020, sekaligus mengurangi 0,78% penderita katarak di Sumsel.

“Masuk dalam Top 99 Sinovik merupakan pencapaian yang luar biasa. Namun, yang terpenting lagi ialah mengatasi bertambahnya penderita katarak di Sumsel yang mencapai lebih dari 7 juta jiwa,” jelas Siska.

Capaian yang terlihat ‘wah’ tersebut bagi Siska memang layak digelorakan bagi para pelaksana Empek Ikan Belida. Mulai dari para dokter spesialis mata, perawat, tim sarana dan prasarana hingga tim dinkes yang berkoordinasi untuk melakukan skrining awal. Tugas mereka mengumpulkan calon pasien serta mempersiapkan ruang steril untuk operasi di puskesmas setempat.

Melawan Keterbatasan

Tantangannya, sebut Siska, mempersiapkan ruang operasi mata dengan keterbatasan alat dan kondisi ruangan yang belum steril. Tantangan dari sisi eksternal di antaranya, domisili calon pasien yang relatif jauh dari fasilitas kesehatan, banyak keluarga pasien tak mau dioperasi karena katarak masih dianggap tabu, dan mobilisasi masyarakat kurang sehingga tak mampu mencapai RSUD di pusat kota.

“Biasanya start program Empek Ikan Belida dimuai pada akhir tahun atau sesuai permintaan pemkab. Pelayanan terjauh ke Kabupaten Pali (Penukal Abab Lematang Ilir) yang harus ditempuh tujuh jam dari Kota Palembang,” terang Siska.

Dokter alumnus Universitas Indonesia ini mengingat jika timnya telah melayani sekira enam daerah berkategori pedalaman. Biasanya sekali bertugas ada tiga dokter spesialis didampingi seorang perawat, bagian sarana prasarana serta sopir ambulans. Beberapa peralatan seperti mikroskop, mesin operasi, instrument set terkadang brankar juga mereka angkut.

Meski menargetkan melayani 100 pasien selama berkeliling, tim menoleransi pelayanan operasi bisa dilakukan minimal bagi 50 orang pasien. Tim ini pun hanya bertugas selama tiga hari, mulai dari fase skrining, operasi sampai pemulihan.

Promosi dan Pencegahan

Upaya promosi kesehatan untuk pencegahan katarak serta glaukoma juga mereka lakukan selama berada di daerah sasaran Empek Ikan Belida. Siska mengakui, wawasan masyarakat tentang kesehatan mata di area pelosok sangat terbatas. Sebagian besar, imbuhnya, belum bisa membedakan antara katarak dengann penyakit mata lainnya. Padahal mereka berisiko besar mengidap katarak karena faktor pekerjaannya sebagai petani, peladang, dan penyadap karet yang terpapar langsung sinar ultraviolet.

“Agar edukasi kesehatan mata lebih masif, kami membuka kerjasama dengan pihak lain untuk membawa perkumpulan sosialnya supaya mengundang tim Empek Ikan Belida untuk memeriksa kesehatan mata anggotanya. Semua disediakan gratis karena dibiayai APBD,” ulas Siska.

Perluas Akses Kesehatan Mata

Sukses menangani segmen lanjut usia melalui Empek Ikan Belida, tak membuat RSK Mata Sumsel berpuas diri. Pelayanan publik yang prima juga dilakukan di fasilitas umum seperti sekolah. Khusus tahun 2019, skrining mata bagi anak sekolah bakal digencarkan untuk pemeriksaan kelainan refraksi mata ke seluruh sekolah dasar. 

Upaya kedua menggencarkan penyuluhan ke fasilitas kesehatan agar tenaga kesehatan mengerti varian penyakit mata. Fungsinya, sebut Siska, mengenali pasien yang harus dirujuk ke RSK Mata agar tak menumpuk di satu tempat

Lifestyle mereka berisiko dan sebaiknya skrining sejak kelas satu SD. Sedangkan awareness tenaga kesehatan juga menjadi supporting system pencegahan penyakit mata yang efektif,” jelas Siska yang bertugas sejak tahun 2012 ini.

Berdirinya RSK Mata Provinsi Sumsel

Pelayanan optimal di bidang kesehatan mata memang mendapatkan perhatian lebih Pemprov Sumsel kepada masyarakat. Salah satu buktinya melalui pendirian RSK Mata Provinsi Sumsel di atas lahan seluas 3.137,38 meter persegi di Jalan Kolonel H. Burlian KM 5,5, Palembang. RS ini menjadi satu-satunya Badan Umum Layanan Daerah (BLUD) di Indonesia dengan Keputusan Gubernur Sumatra Selatan Nomor 840/KPTS/BPKAD/2013.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, RS ini melayani bidang pelayanan kesehatan mata dan berkomitmen menjadi salah satu pusat layanan kesehatan mata terbaik di Indonesia. Setiap hari, RSK Mata Sumsel melayani rata-rata 300-400 pasien dan memiliki fasilitas layanan yang cukup lengkap.

Terdapat 10 sub spesialis mata, rawat jalan, rawat inap, layanan penunjang medik seperti pelayanan kacamata (optik) dan lasik; serta pelayanan non medik seperti ambulans. Bahkan jika ada pasien yang tidak mampu pun, pasien berobat gratis dilayani sepenuhnya.

RS Khusus Mata Provinsi Sumsel merupakah salah satu binaan Badan Standardisasi Nasional yang telah menerapkan SNI ISO 9001:2008 Sistem Manajemen Mutu pada tahun 2015. Keseriusan rumah sakit ini dalam menerapkan SNI telah ditunjukkan dengan diraihnya SNI Award Tahun 2017 Peringkat Perak.  

Didukung dengan SDM berjumlah 184 pegawai, layanan unggulannya, seperti Phaco Emulsification (teknik operasi katarak saat ini) dan operasi lasik. Menurut Siska, operasi lasik di RS Khusus Mata Provinsi Sumsel termurah se- Indonesia, yakni sekira Rp 18 juta. 

“Karena operasi lasik di rumah sakit ini termurah, banyak masyarakat luar Palembang yang pada akhirnya ke RS Khusus Mata Provinsi Sumsel seperti Surabaya, Jambi, bahkan Malaysia,” ujarnya.

Penulis : Indah Wulandari

Editor : Prima Restri 


Index ePaper Download PDF ePaper