Fokus Lakukan Penelitian Filariasis dan DBD
Potret - 96 view


Balai Litbang Kesehatan Baturaja, Sumatera Selatan, sejak Mei 2018 mendapat penugasan khusus untuk meneliti filariasis yang lebih dikenal dengan istilah kaki gajah dengan tidak meninggalkan penelitian demam berdarah dan lainnya. Penelitian ini mencakup wilayah kerja provinsi Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jambi dan Bengkulu. Dengan keunggulan filariasis ini, maka setiap tahun minimal akan ada 1 penelitian tentang filariasis di wilayah kerja. Dan rencanannya pada tahun 2019 akan ada 2 penelitian tentang pengobatan masal filariasis untuk menurunkan endemisitas. Hal ini disampaikan Santoso, SKM, MSc, Ahli Peneliti Madya, Balai Litbang Kesehatan  di Baturaja pada 5 Maret 2019 lalu.

Santoso menuturkan bahwa jika suatu daerah dikatakan endemis filariasis harus ada survei dasarnya pada suatu desa endemis, misalnya ada penduduk yang sudah terkena kaki gajah, maka di desa tersebut akan dilakukan survei pada 300 penduduknya. Apabila 1 desa ada 1 % penduduk terkena filariasis, desa tersebut dikatakan endemis. Apabila satu kecamatan ada 1 desa yang endemis, maka 1 kecamatan itu dianggap endemis. Apabila 1 kabupaten ada 1 kecamatan endemis, maka 1 kabupaten tersebut dikatakan endemis. 

“Dampaknya, bila sudah dinyatakan 1 kabupaten endemis filariasis, maka harus dilakukan pengobatan masal seluruh penduduk kabupaten tersebut. Seluruh penduduk sakit atau tidak sakit, untuk pencegahan harus minum obat filariasis selama 5 tahun, setahun sekali setiap bulan Oktober”, kata Santoso.

Menurut Santoso, dari 4 provinsi, baru Bangka Belitung yang sudah memenuhi syarat pengobatan. Tahun berikutnya diperiksa lagi, bila masih ada yang positif lebih 1 %, maka mendapat pengobatan 2 tahun lagi. Kemudian diperiksa kembali, bila masih ditemukan kasus positif lebih 1 %, maka akan diberikan pengobatan 2 tahun lagi, sampai kurang dari 1%.

“Bila sudah 2 kali berturut-turut pengobatan selama 2 tahun masih ditemukan di atas 1 %, maka harus fokus kembali untuk pengobatan pada desa yang ditemukan kasus positif filariasis tersebut yang dianggap sebagai sumber awal terjadinya kasus filariasis.”, kata Santoso.

Memastikan Obat Diminum

Proses pengobatan masal filariasis ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama jajarannya, termasuk petugas puskesmas dan partisipasi masyarakat. Sedangkan Balai Litbangkes melakukan survei kepatuhan minum obatnya. Bila jumlah penduduk yang minum obat kurang dari 65 %, belum bisa dievaluasi, dianggap gagal dan harus ulang kembali selama 2 tahun. 

“Kami melakukan survei kepatuhan minum obat, berapa besar cakupan yang diperoleh. Bila masih rendah, maka harus ditelisik apa penyebabnya, kemudian beri penyuluhan kepada masyarakat, agar proses pemberian obat berikutnya, cakupannya minum obat juga meningkat”, ujarnya.

Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap wilayah endemis filariasis maka cakupan kepatuhan minum obat masyarakatnya harus di atas 65% dari sasaran masyarakat yang minum obat dan temuan kasus filariasisnya kurang dari 1%. Bila cakukan minum obat masih kurang dari 65% dan masih ditemukan kasus filariasis lebih 1 %, maka belum bisa dilakukan evaluasi atau dianggap gagal.

“Sasaran masyarakat yang minum obat adalah warga yang berumur di atas 2 tahun dan dibawah 70 tahun atau wanita hamil. Sebab, masyarakat yang sudah berumur di atas 70 tahun mempunyai efek samping yang lebih besar, terutama karena tekanan darah tinggi. Selain itu, dampat filariasis itu berjangka panjang. Jadi, bagi masyarakat yang sudah berumur di atas 70 tahun, dampaknya sudah akan berlalu”, ujar Santoso.

Bedanya program yang dilakukan Dinas Kesehatan dan survei kepatuhan yang dilakukan oleh Balai Litbangkes. Contoh, program akan membagikan 90 % obat kepada masyarakat, maka cara menghitung cakupannya 90%. Sedangkan survei, bukan pada jumlah obat yang dibagi, tapi pada jumlah obat yang telah diminum.

“Boleh jadi, jumlah obat yang dibagi, lebih banyak dengan jumlah obat yang diminum. Karena tidak semua obat yang sudah dibagikan kepada masyarakat telah diminum.  Nah survei yang kami lakukan memastikan berapa obat yang telah terbagi, diminum masyarakat”, tegasnya.

Menurutnya, selama ini pembagian obat oleh petugas hanya diberikan kepada kepala keluarga, kemudian seluruh sasaran anggota keluarga diminta minum masing-masing. Cara ini tampaknya kurang efektif, sebab tidak semua anggota keluarga mau meminumnya. Sebenarnya, lebih efektif, kalau masyarakat dikumpulkan pada suatu tempat bersama aparat pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama, bersama-sama minum obat dalam satu acara bersama.

“Apalagi obat itu diberikan petugas puskesmas kepada masyarakat yang mengambil ke puskesmas, kemudian di bawa pulang untuk diminum kepada seluruh anggota keluarga. Pernah kita melakukan survei, kemudian ditanya, bapak pernah minum obat filariasis ? Ya, kami minum, kemudian mereka mengambil obatnya dan berkata obat seperti ini yang kami minum. Nah, ini contoh masyarakat tidak minum obat, kalau dia minum, pasti obatnya sudah tidak ada. Artinya, masyarakat benar dapat obat, tapi tidak mereka minum”, katanya.  

Sebab itu, pembagian obat itu harus disertai penjelasan, bila mungkin masyarakat minum obat didepan petugas kesehatan atau kader.

Sertifikat Eliminasi Filariasis

Sampai saat ini, baru ada 1 kabupaten di Bangka Belitung yang sudah eliminasi kaki gajah(filariasis) yakni Kabupetan Belitung. Syarat untuk mendapat sertifikat eliminasi filariasis yaitu pengobatan sudah berjalan 5 tahun, angka tingkat endemisitas di bawah 1 %, cakupan minum obat sudah di atas 65% dan sudah lulus Transmition Assessment Survei (TAS) 1,2 dan 3. Mereka sudah mendapat sertifikat eliminasi filariasis dari Kementerian Kesehatan.

Hanya saja, wilayah yang sudah eliminasi ini, juga masih mungkin ditemukan kasus filariasis lebih 1 %, untuk itu pemantauan dan infeksi khusus harus tetap dilakukan. Agar segera dapat dikendalikan sebelum menyebar kemana-mana. 

Masuknya Cacing Mikrofilaria ke Dalam Tubuh

Nah, bagaimana sih mekanisme penularan filariasis ini ?. Sebenarnya tidak mudah orang terkena filariasis, tapi kalau terkena harus ada orang yang sakit dan ada cacing mikro filaria, kemudian orang yang sakit tersebut digigit nyamuk jenis mansonia, mikro filaria masuk ke dalam nyamuk dan berada 12 hari dalam tubuhnya, setelah berkembang bisa menularkan melalui gigitan ke manusia lain, tapi tidak serta merta sebab prosesnya agak sulit.

Ketika nyamuk pembawa cacing mikro filaria menggigit manusia, maka frombisis masuk ke dalam kulit manusia, kemudian mikro filaria keluar dari pinggir frombisis nyamuk, setelah itu baru cacing mikro filaria masuk melalui lubang bekas gigitan nyamuk tersebut. Tetapi, kalau sedang gigit, kemudian di tepuk dan nyamuk mati, maka pori-pori bekas luka tertutup, sehingga cacing mikro filaria tak bisa masuk.

“Jadi, untuk terkena filariasis itu sangat sulit, berbeda dengan demam berdarah. Seseorang yang sudah terjakit mikro filariasis pun butuh jangka waktu puluhan tahun untuk berubah menjadi kaki bengkak. Mereka butuh puluhan tahun dan banyak sekali gigitan nyamuk yang membawa cacing mikro filaria, bahkan 500 kali gigitan baru bisa terkena filaria”, kata Santoso.

Menurutnya, perkembangan mikro filaria dalam darah itu harus lengkap, ada kelamin jantan dan betina, kalau hanya jantan atau betina saja, tidak akan berkembang biak. Munking  akan tumbuh, membesar, tapi tidak berkembang biak. Kelamaan juga akan mati sendiri. Jadi, orang yang kena mikro filaria, bila tak berkembang biak, tak akan terjadi kepadatan dalam dalam yang menyebabkan bengkak. Bila mikro filaria tak berkembang, akan mati, sehingga akan sembuh dengan sendirinya. 

Untuk pencegahan, masyarakat tetap harus menghindari dari gigitan nyamuk. Bagi manusia yang benar posistif, diobati 10 hari berturut-turut dengan kosistem memimun obat, maka cacing mikro filaria akan habis. Khusus untuk pencegahan cukup minum obat setiap tahun sekali. Ini sudah cukup efektif untuk pencegahan. 

Kini, sejak Mei 2018, konsekuensi perubahan lembaga dari Loka Litbanges menjadi Balai Litbangkes, maka mempunyai tugas dan fungsi yang lebih besar dalam penelitian kesehatan, terutama filariasis, DBD dan jenis penyakit lainnya, sesuai dengan kemampuan, baik dari segi pendanaan maupun sumber daya manusianya. 

Penulis : Prawito

Editor : Prima Restri


Index ePaper Download PDF ePaper