Gangguan Kepribadian
Kolom - 502 view


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa. Hal ini yang membedakan antara kelompok orang atau bangsa lain. Berarti secara sederhana kepribadian adalah denominator antara seseorang dengan orang lainnya. 

Apa yang akan terjadi apabila di depan kata “kepribadian” kita tambahkan kata “gangguan”? Yang kita dapatkan adalah suatu denominator, kekhasan, keunikan, atau pembeda yang menyebabkan hendaya atau gangguan dalam fungsi kita sebagai manusia di kehidupan sehari-hari. 

Gangguan kepribadian yang pertama adalah kepribadian paranoid. Pada kepribadian ini seseorang memiliki kepekaan yang berlebih terutama terhadap kegagalan dan penolakan. Selain itu orang dengan ciri kepribadian ini cenderung memiliki kewaspadaan yang berlebih terhadap sikap orang lain sampai dapat salah mengartikan perilaku-perilaku orang lain sebagai suatu tanda bahwa dirinya sedang dibahayakan. 

Kadang orang dengan ciri kepribadian ini susah untuk memaafkan. Gangguan kepribadian paranoid akan terjadi apabila seseorang melakukan hal-hal di atas secara berlebih untuk waktu yang lama dan mengganggu fungsi sosialnya di masyarakat.

Gangguan kepribadian yang selanjutnya adalah schizoid. Orang-orang dalam kepribadian ini adalah mereka yang cenderung lebih memilih untuk menyendiri, menjauh dari masyarakat. Dalam beberapa kasus mereka akan sulit untuk mengekspresikan diri mereka dan memilih untuk memiliki ekpsresi yang datar, membatasi pergaulan. 

Mungkin di dalam masyarakat orang-orang dengan kepribadian ini akan kita sebut sebagai introvert. Gangguan kepribadian schizoid akan menampakkan ciri-ciri di atas dalam skala yang lebih dalam lagi. Sampai kadang orang-orang dengan gangguan kepribadian schizoid menarik diri dari pergaulan, memiliki kesulitan untuk mencari aktivitas yang menyenangkan untuk dirinya sendiri, ketidakmampuan berteman, dan memiliki ketidakpedulian yang nyata terhadap kritik dan pujian.

Gangguan kepribadian selanjutnya adalah dissocial. Orang-orang dengan gangguan kepribadian ini adalah mereka yang cenderung melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat. 

Mereka cenderung agresif dan melampiaskan agresinya menjadi suatu perbuatan, tidak memiliki rasa bersalah atas tindakan-tindakannya, dan cenderung menyalahi orang lain. Gangguan kepribadian dissocial memerlukan perhatian lebih untuk ditangani karena dapat merugikan banyak pihak. 

Gangguan selanjutnya adalah gangguan kepribadian emosi tidak stabil. Gangguan ini memiliki ciri bahwa orang-orang dengan gangguan ini akan sulit untuk mengendalikan emosi mereka sehingga cenderung bertindak tanpa memikirkan konsekuensi atas perbuatannya. Orang-orang dengan gangguan kepribadian ini akan melakukan tindakan-tindakan secara impulsif, seperti memukul, menendang barang dikarenakan emosinya labil.

Pernah merasakan bahwa sesuatu serba harus teratur, sedikit saja ketidaksesuaian dapat menyebabkan kita gelisah dan ingin memperbaikinya? Pernah merasakan menjadi orang yang perfeksionis? Itulah kepribadian anankastik. Orang-orang ini adalah orang yang detail, teliti, bekerja dengan target kesempurnaan. Gangguan yang terjadi pada kepribadian anankastik akan menyebabkan seseorang menjadi terlalu perfeksionis, memperhatikan detail secara berlebihan, memaksakan orang lain untuk mengikuti sifat perfeksionisnya, dan cenderung keras kepala. 

Gangguan kepribadian histrionik merupakan gangguan di mana seseorang sering mendramatisasi, membesar-besarkan masalah-masalah dalam hidupnya. Orang-orang dengan gangguan ini akan mudah dipengaruhi oleh orang lain dan memiliki kepedulian yang berlebih terhadap penampilan. 

Orang-orang dengan gangguan ini merasa perlu untuk melakukan semua hal itu untuk menjadi pusat perhatian. Bagaimanakah kepribadian histrionik berbeda dengan narsistik? Pada gangguan kepribadian narsistik kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian sangat tinggi, sehingga seseorang akan selalu menunjukan bahwa dialah pusat perhatian tanpa menunjukan empati untuk orang lain. Ini berbeda dengan histrionic, di mana mereka masih bisa berempati. 

Pada narsistik untuk menjadi pusat perhatian seseorang tidak hanya mendramatisasi tapi bahkan bisa membuat-buat ide-de grandiositas, ide-ide kebesaran untuk menjadikan dirinya pusat perhatian. Perasaan bahwa orang lain berada di bawahnya mungkin adalah ciri khas yang lain dari gangguan kepribadian narsisitik.

Gangguan kepribadian yang selanjutnya adalah gangguan kepribadian cemas dan menghindar. Pada gangguan ini orang akan memiliki preokupasi yang berlebih terhadap kritik dan penolakan, sehingga ia akan cenderung menghindar dari situasi-situasi sosial yang akan menempatkan dirinya untuk mendapat kritik dan penolakan. 

Selain itu preokupasi yang berlebihan ini akan menyebabkan si penderita mudah mengalami cemas, sehingga si penderita mudah menjadi tegang dan takut. Pada akhirnya orang-orang dengan gangguan ini akan memilki kepercayaan diri yang rendah, memilih pekerjaan atau aktivitas sosial yang tidak banyak melibatkan orang lain.

Gangguan kepribadian terakhir yang akan kita bahas adalah gangguan kepribadian dependen. Seseorang manusia memang tidak bisa hidup sendirian, kerja sama adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan. Namun, pada gangguan kepribadian dependen seseorang akan merasa bahwa dirinya tidak mampu untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya dan melimpahkannya pada orang lain. 

Penderita pada akhirnya akan menempatkan kebutuhannya di bawah orang yang kepadanya ia bergantung. Penderita akan enggan untuk mengajukan permintaan atau menyuarakan pikirannya kepada orang yang dia bergantung. Rasa takut akan kesendirian dan ditinggalkan adalah suatu hal yang akan sering terlihat pada penderita gangguan kepribadian dependen.***

Oleh: Dr. dr. Ria Maria Theresa, Sp.KJ - Dosen Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper