Gelombang Kedua Pandemi di India
Kilas Internasional - 178 view


Gelombang kedua pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) melanda India. Jumlah kasus infeksi baru harian yang sempat turun hingga sekitar 8.587 pada awal Februari lalu mendadak melonjak menjadi 345.147 pada 23 April lalu.

Data Worldometers menyebutkan, negara berpenduduk terbanyak kedua di dunia ini kini memiliki total kasus sebanyak 16.951.621 pada 23 April lalu,  nomor dua tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat dengan 32.758.217 kasus. Kasus baru terkonsentrasi di wilayah Maharashtra, Chhattingsgarh, Karnataka, Kerala, Tamil Nadu, Gujarat, Punjab, dan Madhya Pradesh.

India sebenarnya telah memulai program vaksinasi massal sejak pertengahan Januari lalu. Perawat, dokter, dan pekerja medis menjadi prioritas awal penerima vaksin pertama. Menurut BBC, program vaksinasi India pun merupakan vaksinasi terbesar dan tercepat di dunia dengan menyalurkan 100 juta dosis vaksin COVID-19 dalam 85 hari.

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga, Ilmu Pengetahuan & Teknologi dan Ilmu Bumi Harsh Vardhan mengungkapkan bahwa kenaikan kasus ini disebabkan karena perilaku masyarakat India yang akhir-akhir ini terlena dan mengabaikan protokol kesehatan. Masyarakat, kata dia, juga mengadakan pertemuan maupun acara keagamaan dengan mengerahkan banyak orang. “Ini telah menjadi perhatian kami bahwa peningkatan mendadak dalam kasus sebagian besar atau mungkin didorong oleh peristiwa termasuk pernikahan akbar, pemilihan umum lokal, dan lain sebagainya,” kata Vardhan, seperti dikutip Bussines Today pada 7 April lalu.

Kondisi yang terjadi di India tentunya menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring pada 18 April lalu, Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa dengan program vaksinasi COVID-19 yang kini berjalan jangan sampai membuat masyarakat menjadi tidak waspada. “Jangan sampai program vaksinasi yang sudah berjalan, program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sudah berjalan, yang sudah bisa menurunkan kasus terkonfirmasi COVID-19 selama ini membuat kita menjadi tidak hati-hati karena lonjakan kasus bisa terjadi lagi,” kata Budi.

Dalam keterangan pers yang disiarkan laman Kementerian Kesehatan pada 24 April lalu, Menteri Budi menyatakan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi masuknya varian baru COVID-19 B.1.617 dari India yang diperkirakan lebih cepat menular. Langkah itu adalah surveilans genomik di pintu masuk negara dan bagi warga negara Indonesia yang yang pernah mengunjungi India dalam 14 hari terakhir.

“Gelombang kasus di India dipengaruhi mutasi virus dan pelonggaran penegakan protokol kesehatan. Akibatnya, penularan terjadi kembali dengan mutasi baru dan naik sangat tinggi. Ini pelajaran bagi kita semua agar selalu berhati-hati dalam mengamati laju penularan COVID-19 ini,” kata Budi.

Pemerintah juga bersiap mengantisipasi masuknya varian baru COVID-19 dari negara lain, seperti B.1.1.7 dari Inggris, B.1.351 dari Afrika Selatan, dan P.1 dari Brasil. Budi mengatakan bahwa pemerintah juga agresif melakukan pemeriksaan pengurutan keseluruhan genom (WGS) untuk mendeteksi masuknya varian baru tersebut.

Selain itu, pemerintah kini juga tengah bersiap menghadapi lonjakan kasus COVID-19 yang diperkirakan mulai meningkat di sejumlah daerah. “Sejak liburan dua minggu yang lalu, minggu ini secara rata-rata mulai ada kenaikan sedikit. Ini tugas kita bersama, jangan mengulangi seperti yang terjadi di India. Lebih baik kita waspada sejak awal,” kata Budi.

Menteri Budi juga mengimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun, dalam segala kegiatan agar tren penurunan kasus dan peningkatan kasus sembuh bisa terus terjaga dengan baik. “Kita bersyukur bahwa di Indonesia kasus konfirmasi dan begitu juga yang dirawat di rumah sakit menurun cukup jauh dibandingkan di awal tahun. Penurunan itu jangan membuat kita lengah. Kita harus tetap waspada dengan menjalankan protokol kesehatan sesuai yang diterapkan di PPKM mikro,” kata dia.

Jumlah total kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 1.636.792 hingga 24 April lalu. Sebanyak 1.492.322 pasien (91 persen) dinyatakan sembuh dan 44.500 (2,7 persen) meninggal. Jumlah kasus harian baru di Indonesia sempat mencapai puncaknya dengan 14.518 kasus pada 30 Januari 2021 tapi kemudian cenderung turun hingga sempat mencapai 3.712 kasus pada 5 April lalu. [*] 

Penulis : Delta Fitriana


Index ePaper Download PDF ePaper