Gerak Magelang Memperluas Cakupan ASI Eksklusif
Daerah - 110 view


Magelang beritikad untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif. Berbagai sektor dan tokoh masyarakat dilibatkan untuk mencapainya.

Pemberian ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan adalah salah satu upaya peningkatan status gizi. Bahkan, pemberian ASI hingga usia 24 bulan mendukung 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu periode emas bagi tumbuh kembang seorang anak. Pada masa ini nutrisi yang diterima anak saat dalam kandungan dan menerima ASI, memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan saat usia dewasa.

Namun, belum semua masyarakat sadar akan hal ini, termasuk masyarakat di wilayah Magelang Utara. Sehingga, menurut Kepala Puskesmas Magelang Utara, dr. Istikomah, pada tahun 2014 cakupan ASI eksklusif di wilayah tersebut hanya 27,8 %. Kemudian angka tersebut sempat turun pada semester I Tahun 2015 menjadi 21,5 % dari target yang diharapkan adalah sebesar 50 % bayi mendapatkan ASI Eksklusif atau hanya 55 bayi yang lulus ASI Eksklusif selama 6 bulan dari total jumlah sasaran 256 bayi.

Rendahnya cakupan ASI Eksklusif di wilayahnya saat itu, menurut dr. Isti disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Misalnya saja, faktor eksternal yaitu belum adanya dukungan penuh kepada ibu menyusui, ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung ibu untuk mengupayakan ASI Eksklusif seperti pojok ASI atau ruang laktasi belum tersedia. Sedangkan faktor internal dari ibu yaitu pekerjaan, pendidikan, teknik menyusui, pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pemberian ASI Eksklusif yang masih rendah.

Berawal dari permasalahan tersebut, Puskesmas Magelang Utara menginisiasi program Gerakan Masyarakat dan Keluarga Peduli Terhadap ASI yang disingkat dengan Gemakapitasi.

Program yang diinisiasi pada bulan Agustus 2015 ini bertujuan untuk mempercepat capaian ASI Ekslusif di wilayah Magelang Utara dengan cara meningkatkan kepedulian masyarakat dan juga keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif.

Dalam program Gemakapitasi, Puskesmas Magelang Utara mengadakan berbagai kegiatan yang diikuti oleh keluarga ibu hamil dan menyusui, baik ayah ataupun nenek, kader, dan masyarakat untuk mendukung ASI eksklusif.

“Misalnya untuk keluarga, selain kita memberikan manajemen laktasi, konseling, pendampingan untuk ibu hamil kemudian persiapan pada saat IMD (Inisiasi Menyusui Dini), menyelenggarakan kelas manajemen laktasi. Untuk kadernya, kita lakukan peningkatan kompetensi kapasitas kader, kemudian ada kader pendamping ibu hamil,” terang dr. Isti kepada Mediakom.

Melibatkan lintas sektor dan tokoh masyarakat

  1. Isti menambahkan, selain kader dan keluarga, dalam melaksanakan program Gemakapitasi Puskesmas Magelang Utara juga melibatkan lintas sektor.

“Jadi pendekatannya lintas program dan lintas sektor. Untuk lintas sektor kita advokasi untuk dukungan kepada ibu menyusui ada kelompok pendukung ASI kemudian juga nanti mengadvokasi untuk tempat-tempat umum kemudian kantor-kantor, untuk mempunyai tempat menyusui. Jadi inovasinya menjadi sesuatu yang sistematis,” kata dr. Isti.

Dari sisi kebijakan, dr. Isti juga menggandeng tokoh masyarakat. “Setiap ada momen rapat lintas sektor yang dihadiri forum pimpinan kecamatan, Danramil (Komandan Rayon Militer), Kapolsek (Kepala Kepolisian Sektor) dan lain-lain kita mintakan dukungan (ASI eksklusif)” sambungnya.

Di samping kegiatan yang rutin dilakukan, dr. Isti mengatakan bahwa Puskesmas Magelang Utara, juga memberikan sertifikat ASI Eksklusif dan Alat Peraga Edukatif (APE) kepada bayi yang telah lulus ASI Eksklusif sebagai bentuk apresiasi. Hal ini sebagai wujud apresiasi positif dan stimulan bagi ibu serta keluarga dalam mendukung tercapainya pemberian ASI bagi sang buah Hati.

Indikator keberhasilan program

  1. Isti menyebut ada beberapa indikator keberhasilan dalam program ini antara lain keberhasilan dalam proses input, keberhasilan dalam prosesnya sendiri kemudian output dan outcome.

Pada tahap input, keberhasilan program ini dinilai dari partisipasi pelaporan dari para kader. “Yang tadinya tidak terlapor kan menjadi terlaporkan, E1, E2, E3, E6 itu kan butuh effort juga. Jadi data yang kita kirimkan sampai nasional itu menjadi data yang bisa dipertanggungjawabkan bukan sekedar data abal-abal karena kadernya secara rutin memang betul-betul memfilter, ini betul-betul eksklusif atau tidak” urai dr. Isti.

Kemudian dari sisi proses, keberhasilan program dinilai dari partisipasi aktif masyarakat dalam mengikuti kegiatan seperti kelas ibu hamil, penimbangan balita maupun pendampingan yang dilakukan oleh kader. Selanjutnya dari segi output penilaian dititikberatkan pada cakupan ASI eksklusif yang secara berangsur-angsur meningkat. Yang terakhir, dari outcome keberhasilannya dinilai dari derajat kesehatan anak balita.

Dengan adanya Gemakapitasi, dr. Isti mengaku cakupan ASI eksklusif di wilayah Magelang Utara berangsur-angsur meningkat. Pada Tahun 2014 Jumlah bayi yang diberi ASI Eksklusif sebanyak 117 bayi (27,8%), tahun 2015 meningkat menjadi 139 bayi (39,8%), dan pada tahun 2016 meningkat lagi menjadi 145 bayi (40,3%).  Kemudian pada tahun 2017 terdapat 199 bayi mendapat ASI eksklusif dari 440 bayi yang ada di wilayah Magelang Utara (45,23 %). Sedangkan sampai dengan semester I tahun 2018, terdapat 86 bayi dari 217 bayi (39,63%) mendapat ASI Eksklusif.

Langkah Puskesmas Magelang Utara untuk terus berupaya meningkatkan cakupan ASI Eksklusif tidak berhenti sampai di situ, sebagai penyempurnaan program yang sudah ada, dr. Isti berencana mengadakan pelatihan IMD untuk tenaga kesehatan.

“Besok yang mau kita upayakan itu ada pendampingan IMD. Kegagalan IMD kan masih tinggi ya, kita mau menerapkan. Awal keberhasilan pemberian ASI juga dipengaruhi pada saat IMD,”ujar dr. Isti.

 

Penulis: Faradina Ayu

Editor  :