Ibu Hamil Akan Divaksin, Ini Syaratnya
Peristiwa - 95 view


Untuk menekan angka penularan COVID-19, ibu hamil juga akan divaksin. Vaksinasi bagi ibu hamil akan menggunakan jenis vaksin COVID-19 platform mRNA yaitu, Pfizer dan Moderna, serta vaksin platform inactivated Sinovac, disesuaikan dengan jenis vaksin yang tersedia.

Pemberian vaksin COVID-19 dosis pertama akan mulai diberikan pada trimester kedua kehamilan, sedangkan untuk pemberian dosis kedua dilakukan sesuai dengan interval dari jenis vaksin. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran HK.02.01/I/2007/2021 tentang Vaksinasi COVID-19 Bagi Ibu Hamil dan Penyesuain Skrining Dalam Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19, yang ditandatangani oleh Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Maxi Rein Rondonuwu pada tanggal 2 Agustus 2021.

Berdasarkan Surat Edaran tersebut, ibu hamil diperbolehkan menerima vaksin COVID-19 jika memenuhi syarat-syarat berikut ini, antara lain: 

  1. Suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celsius.
  2. Tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Apabila hasilnya di atas 140/90 mmHg, pengukuran diulang lagi 5-10 menit kemudian, apabila masih di atas ambang batas tersebut, vaksinasi COVID-19 ditunda.
  3. Usia kehamilan di trimester kedua, atau di atas 13 minggu.
  4. Tidak ada tanda-tanda preeklamsia seperti kaki bengkak, sakit kepala, nyeri ulu hati, pandangan kabur, dan tekanan darah di atas 140/90 mmHg. 
  5. Tidak memiliki riwayat alergi berat seperti sesak napas, bengkak, atau bidur di seluruh tubuh.
  6. Bagi ibu hamil dengan penyakit penyerta atau komorbid seperti jantung, diabetes, asma, penyakit paru, HIV, hipertiroid/hipotiroid, penyakit ginjal kronik, atau penyakit liver; penyakit penyerta dalam kondisi terkontrol dan tidak ada komplikasi akut.
  7. Bagi ibu hamil dengan penyakit autoimun atau menjalani pengobatan autoimun seperti lupus, penyakit dalam kondisi terkontrol dan tidak ada komplikasi akut.
  8. Tidak sedang menjalani pengobatan untuk gangguan pembekuan darah, kelainan darah, defisiensi imun, dan penerima produk atau transfusi darah.
  9. Tidak sedang menerima pengobatan imunosupresan seperti kortikosteroid dan kemoterapi.
  10. Tidak terkonfirmasi positif COVID-19 dalam waktu tiga bulan terakhir.

Sama seperti pelaksanaan vaksinasi bagi sasaran lainnya, pemerintah akan melakukan monitoring untuk mengetahui apakah ada efek samping yang muncul dari pemberian vaksin COVID-19 kepada ibu hamil. Vaksinasi bagi ibu hamil masuk dalam kriteria khusus. Oleh karena itu, proses skrining/penapisan terhadap status kesehatan sasaran sebelum dilakukan pemberian vaksinasi dilakukan lebih rinci dibandingkan sasaran lain. Format skrining pada kartu kendali untuk ibu hamil pun juga telah disiapkan oleh Kemenkes.

Mengantisipasi terjadinya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), di setiap pos kartu vaksinasi telah tersedia contact person yang bisa dihubungi jika ada keluhan dari penerima vaksinasi atau bisa juga melaporkan melalui keamanan vaksin.kemkes.go.id. Dilansir dari rilis Kemenkes, pemerintah juga akan menanggung KIPI COVID-19 yang membutuhkan pengobatan dan perawatan di faskes sesuai dengan indikasi medis dan protokol pengobatan.

Berdasarkan data Perhimpunan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI), sejak April 2020-April 2021 ada 536 ibu hamil yang terpapar COVID-19. Dari angka tersebut 51,9% di antaranya tanpa gejala. Upaya pemberian vaksinasi COVID-19 bagi ibu hamil ini, juga sudah direkomendasikan oleh Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI).

Penulis: Faradina Ayu


Index ePaper Download PDF ePaper