Kisah Perjuangan dan Pengabdian Tim Nusantara Sehat di Pulau Enggano
Potret - 235 view


Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia bagian barat yang terletak di Samudra Hindia merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Letak Pulau Enggano yang sangat jauh di tengah samudra dan dekat dengan Australia ini membuat orang sering salah sangka dengan mengira pulau yang disebut sebagai Raja Ampat Bengkulu itu sebagai Pulau Chrismast, pulau yang sering dijadikan tempat para pencari suaka.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memasukkan Pulau Enggano sebagai Daerah Terpencil Kepulauan dan Perbatasan (DTPK) yang memperoleh bantuan kesehatan, salah satunya adalah penugasan Tim Nusantara Sehat (NS) untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat setempat. Pada pertengahan Tahun 2015, Tim NS Batch I yang terdiri dari 8 tenaga kesehatan dikirimkan ke Pulau Enggano untuk melakukan misi penyehatan masyarakat.

"Kepulauan Enggano itu masih susah akses 12 jam menggunakan Fery, kami waktu berangkatpun sempat tertunda karena badai. Kami bermalam 3 hari di kota, baru kemudian saat dinyatakan kapal aman kami baru bisa menyeberang untuk bisa kesana,” kisah Elza Puspitasari, salah satu anggota Tim NS Batch I yang bertugas di Pulau Enggano.

Kala itu, Elza yang berlatar belakang pendidikan kesehatan lingkungan bahu-membahu bersama dengan ketujuh temannya yang terdiri dari dokter umum, apoteker, perawat, kesehatan masyarakat, analis kesehatan, gizi, dan bidan. Elza beserta teman- temannya mengakui bahwa tantangan awal bagi mereka selain faktor geografis juga faktor bahasa penduduk sekitar yang masih menggunakan bahasa daerah yang kental sesuai suku daerah yang berbeda dengan bahasa Bengkulu perkotaan.

“Di awal-awal kedatangan, kepala suku yang membantu mengalihbahasakan percakapan,” sebut perempuan asli Bengkulu ini.

Meski ada kendala bahasa namun menurut Elza masyarakat Pulau Enggano menyambut keberadaan tim NS dengan terbuka. Terlebih hanya ada satu Puskesmas di wilayah tersebut dan Rumah Sakit terapung yang ada sudah tidak beroperasi lagi.

Akses jalan desa masih terbatas saat awal kedatangan Tim NS. Akses yang ada berupa jalan  setapak dan berbatuan. Kondisi alam yang belum menunjang tidak menyurutkan Tim NS untuk tetap melayani masyarakat Enggano meski sampai harus memapah sepeda motor.   

"Pernah tuh kejadian, waktu itu jembatan penghubung antar desa putus, kami pun menyusuri pantai untuk bisa sampai ke desa tetangga. Tanah yang dilewati juga masih tanah liat setapak, motor saja sulit untuk melewati. Bahkan waktu itu pernah kami memapah motor karena kondisi jalan setapaknya berupa tanah liat yang licin sekali,” tambah Elza sambil mengingat-ingat kejadian saat penugasan.

Listrik juga masih tidak begitu lancar waktu itu. Listrik tersuplai dari genset yang hidup hanya dari pukul 18-23 malam. Jaringan komunikasi juga terkendala karena hanya ada di daerah Kecamatan saja. “Untungnya Maret 2017 listrik dari PLN mulai beroperasi di pedesaan,” kata Elza.

Terkait kondisi listrik yang belum menunjang, Elza memiliki kisah tersendiri. Kala itu, kata Eza,  pernah ada warga yang datang ke kami tengah malam, kondisi sudah gelap dengan penerangan ala kadarnya. Warga tersebut, lanjut Elza, meminta tolong agar kami datang ke rumahnya karena ada keluarganya yang sakit.

"Saya kesana tidak sendirian tapi dengan teman kami. Rumahnya cukup jauh di daerah lereng. Dengan kondisi jalan setapak yang berbatuan dan gelap. Jam 1 dini hari kami kesana menggunakan kendaraan namun disambung jalan kaki selama 2 jam.  Itu pengalaman yang ga terlupakan juga,” kenang Elza.

Pengalaman lain yang tidak akan dilupakan oleh Elza dan tim adalah saat kapal laut yang biasa mengangkut bahan makanan ke Pulau Enggano tidak merapat. Sementara saat itu, kata Elza, persediaan bahan makanannya sudah mulai habis sehingga akhirnya berusaha bertahan hidup dengan memakan makanan yang ada.

"Sementara stok makanan kami mulai menipis, ikan juga tidak ada karena warga tidak berani melaut. Itu selama sekitar sebulanan. Kami hanya makan ubi-ubian dan hasil tanaman sekitar yang ada. Duh rasanya campur - campur hati waktu itu," papar Elza.

 

Arisan Jamban

Kondisi lain yang harus dihadapi Elza dan tim adalah kebiasaan masyarakat yang masih melakukan buang air besar di kebun - kebun ataupun pantai. Butuh satu tahun bagi Tim NS untuk melakukan pendataan, pendekatan ke masyarakat maupun ke tokoh adat agar bisa mengetahui apa saja penyebab keengganan mereka menggunakan jamban sehat.

Faktor ekonomi masyarakat yang tergolong menengah ke bawah membuat masyarakat tidak mampu membeli jamban beserta pipa dan pendukung lainnya.  Di sisi lain, kata Elza, masyarakat sebetulnya sudah faham bahwa dengan adanya jamban bisa membuat hidup lebih sehat.

Dari situ akhirnya tercetus adanya ide "Arisan Jamban". Program ini mulai dijalankan pada awal tahun 2016 dimana ada sekitar 40 KK dari 250 KK yang mau ikut bergabung. Mereka kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing - masing kelompok terdiri atas 13 rumah tangga selama 15 bulan.

“Cukup 100 ribu per arisan. Setiap bulannya ada pembuatan 3 jamban untuk 3 dusun,"  jelas Elza.

Inovasi yang dilakukan oleh Tim NS Batch I ini mampu merubah pola hidup masyarakat Kepulauan Enggano menjadi lebih sehat dan masaah diare berkurang. Untuk menambah jumlah jamban di lokasi tersebut, Tim NS Batch I kemudian mengajukan proposal kepada TNI agar dapat membantu.

"Waktu itu selain program arisan jamban,  kami juga mengajukan proposal ke TNI yang sedang ada program 1.000 jamban. Kepulauan Enggano alhamdulillah mendapat 65 bantuan jamban," lugas Elza.

Elza berharap semoga selepas penugasannya berakhir program ini bisa tetap berjalan oleh masyarakat maupun Tim NS batch berikutnya. “Program arisan jamban kita berjalan dengan baik, insya Allah bisa dijadikan sample sebagai desa yang tidak lagi BAB sembarangan,” pungkas Elza.

 

Penulis : Delta Fitriana

Editor : Prima Restri


Index ePaper Download PDF ePaper