Kisah Vaksin Polio yang Telah Digunakan Selama 66 Tahun
Serba Serbi - 187 view


Dunia sempat dilanda kecemasan ketika wabah polio menjangkiti berbagai negara selama berabad-abad. Mengutip Kompas.com, penyakit polio meningkat pesat pada paruh pertama abad ke-20 di dunia barat, bahkan salah satunya yang terjangkit penyakit ini adalah Presiden ke-32 Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt yang saat itu masih menjadi politisi muda.

Pada 1938, Roosevelt membantu mendirikan National Foundation for Infantile Paralysis yang kemudian berubah nama menjadi March of Dimes. Organisasi tersebut mengumpulkan dana untuk melakukan penelitian terkait polio, termasuk menguji coba vaksin Salk.

Laman Voice of Indonesia mencatat, pada 23 Februari 1954, untuk pertama kalinya anak-anak mendapatkan vaksin polio. Anak-anak tersebut adalah murid-murid dari Arsenal Elementary School di Pittsburgh, Pennsylvania, AS. Mereka menerima suntikan pertama vaksin polio baru yang dikembangkan oleh Dr. Jonas Salk.

Uji coba

Penyebutan vaksin Polio Salk bersandar pada sang penemu vaksin, dr. Jonas Salk, seorang dokter dan ahli epidemologi asal New York.

Pada awalnya, Salk mengemukakan bahwa polio memiliki beberapa jenis. Ia berencana untuk membuat vaksin agar bisa memerangi sumber polio tersebut. Penemuan vaksin polio mampu mengurangi dampak polio bagi anak-anak dari resiko kematian.

Sebagaimana dilansir Kompas.com, setelah uji coba pada 1954, semua orang mengagumi vaksin yang memiliki tingkat keberhasilan 60 persen hingga 70 persen.

Sekitar satu tahun sejak dilakukan imunsasi massal, Amerika Serikat telah melakukan 4 juta suntikan anti-polio. Hasilnya pun signifikan, kasus polio di AS turun dari 14.647 pada 1955 menjadi 5.894 pada 1956. Kemudian, pada 1959 sekitar 90 negara lain menggunakan vaksin Salk.

Masih dilansir Kompas.com, perkembangan vaksin polio selanjutnya dikembangkan oleh Albert Sabin, menggunakan bentuk virus hidup yang dilemahkan dan kemudian diberikan dengan cara ditelan. Vaksin ini mendapat lisensi pada 1962 dan menjadi lebih populer dari vaksin Salk karena lebih murah untuk dibuat dan lebih mudah diterapkan.

Keberhasilan dari vaksin polio ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan PBB mencanangkan program untuk memerangi penyakit ini. Bahkan setiap 24 Oktober diperingati sebagai Hari Polio Sedunia.

Kompas.com melansir, “Peringatan ini sedianya dilakukan untuk mengenang kelahiran Jonas Salk, orang pertama yang memimpin tim pembuatan vaksin melawan penyakit polio.”

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyatakan, virus polio liar tak ditemukan lagi sejak 1995. Untuk meyakinkan itu, digelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada 1995, 1996, dan 1997. Bahkan, di sebagian wilayah, PIN diulang pada 2000, 2001, dan 2002. [*]

Penulis : Didit Tri Kertapati


Index ePaper Download PDF ePaper