Kondisi Kesehatan Jiwa pada Masa Pandemi
Lipsus - 239 view


Secara universal, definisi kesehatan juga mencakup kesehatan jiwa seseorang. Oleh karena itu, hal tersebut juga mendapatkan perhatian pada masa pandemi Covid-19. Artis Dian Satro Wardoyo menyoroti hal ini di tengah maraknya anjuran untuk tetap di rumah aja.

Mengutip Republika, Dian mengatakan dalam media sosialnya, “Dengan kita tetap di rumah, kita memang terhindar dari bahaya fisik tertular penyakit, tapi ada bahaya kesehatan mental. Kita semua bosan, bete, stres dengan ketidakpastian karena enggak bisa keluar rumah.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan perhatian yang diberikan Kementerian Kesehatan. Melalui buku “Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) pada Pandemi COVID-19”, diharapkan persoalan kesehatan jiwa yang muncul di masa pandemi ini dapat teratasi.

“Kami sangat berharap buku ini dapat bermanfaat dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial yang timbul akibat bencana non-alam ini, sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh tenaga kesehatan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.”

Demikian pengantar yang disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes, Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH dalam buku setebal 64 halaman tersebut.

Kelompok rentan

Kelompok rentan terdampak pada kesehatan jiwa dan psikososial akibat infeksi Covid-19 setidaknya terbagi dalam dua kelompok besar: kelompok yang rentan terinfeksi dan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, karena tidak terjangkau dengan pelayanan jarak jauh.

Dalam buku DKJPS disebutkan, orang yang termasuk dalam kelompok rentan terinfeksi adalah lansia, penderita penyakit kronik (komorbid: penyakit paru dan penyakit pernapasan lainnya, jantung, hipertensi, ginjal, diabetes, autoimun, kanker), anak dan ibu hamil, disabilitas fisik, ODMK, dan ODGJ. Sementara itu, kelompok yang membutuhkan perhatian khusus di antaranya pengungsi, pencari suaka, anak yang berhadapan dengan hukum, dan kelompok yang terlantar atau yang tinggal di institusi sosial.

“Pada pedoman ini akan dijelaskan tentang kelompok lansia, orang dengan penyakit kronis, Ibu hamil dan nifas (Post Partum), anak dan remaja, orang dengan disabilitas fisik, ODMK, ODGJ, keluarga pra sejahtera dan pekerja di garis depan (tenaga kesehatan dan relawan),” demikian keterangan dalam buku tersebut.

Berikut ini ringkasan mengenai mereka yang rentan kesehatan jiwanya pada masa pandemi Covid-19, serta upaya dan dukungan yang perlu diberikan.

Lansia

Pada lansia telah terjadi proses degenerasi yang menyebabkan menurunnya imunitas sehingga rentan terinfeksi penyakit. Bagi lansia yang dalam kondisi sehat, maka diharapkan kondisi kesehatan dipantau. Sedangkan lansia yang memiliki penyakit kronis diharapkan kontinuitas perawatan dan pengobatan tetap dilakukan.

Para anggota keluarga diminta untuk tidak melakukan kontak fisik dengan lansia. Selain itu, diharapkan senantiasa memberikan dukungan kepada lansia selama wabah Covid-19, di antaranya dengan memberikan kesempatan untuk mengenang masa bahagia.

Orang dengan penyakit kronis

Bagi keluarga yang anggotanya ada yang mengidap penyakit kronis, maka wajib menghormati, menghargai, memperhatikan dan mengikutsertakannya dalam aktivitas keluarga dengan tetap memperhatikan jarak fisik dan sosial.

Mempertahankan komunikasi dengan anggota keluarga dan tenaga kesehatan bisa dilakukan melalui berbagai media selama melakukan jarak fisik dan sosial, khususnya keluhan tentang penyakit fisiknya. Jika dengan cara tersebut belum teratasi, dapat merujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

 

Ibu hamil dan nifas (Post Partum)

Ibu hamil harus menjaga kesehatan dirinya dan memeriksakan kandungannya dengan tetap terus menggunakan masker. Perlu juga menjaga agar tetap berada dan beraktivitas di rumah, serta mengonsumsi asupan gizi yang memadai.

Bagi  suami wajib memberikan dukungan emosional dan juga dukungan lainnya dalam memenuhi kebutuhan ibu hamil, begitu juga anggota keluarga lainnya juga perlu memberikan dukungan. Perlu juga mengetahui tentang masalah kesehatan jiwa dan psikososial yang sering terjadi pada ibu hamil dan post partum, yaitu depresi waktu hamil maupun post partum.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai dari depresi saat hamil, post partum blues, dan depresi post partum adalah sedih terus menerus lebih dari 2 minggu, hilang minat dan mudah lelah disertai gejala lainnya seperti sulit tidur, sulit konsentrasi, banyak atau kurang makan, berat badan menurun, mudah putus asa, bisa juga terjadi pikiran bunuh diri.

Anak dan remaja

Pandemi Covid-19 menghentikan hampir semua aktivitas anak dan remaja di luar rumah.

Jadi, anak merasa stres/tertekan, cemas dan bosan di rumah terus menerus yang terkadang diekspresikan melalui emosi dan perilakunya.

Orang tua sebaiknya peka terhadap kebutuhan anak yang memerlukan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial ketika anak merasakan hal-hal tersebut. Dukungan yang diberikan pada anak harus memperhatikan 4 hak dasar anak, yaitu hak hidup, tumbuh kembang, mendapatkan perlindungan, dan hak untuk berpartisipasi.

Dalm hal kesehatan jiwa dan psikososial pada anak dan remaja dalam situasi sulit, orang tua perlu mengelola dengan baik stres dan emosinya, bersikap tenang, dan dapat lebih mendekatkan hubungan dengan anak dan remajanya. Sikap orang tua dalam menanggapi masa pandemi Covid-19 dapat memengaruhi kondisi kejiwaan dan psikososial anak.

 

Disabilitas fisik

Bagi orang yang mengalami disabilitas fisik perlu mendapatkan informasi tentang wabah Covid-19 dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan minimal dari para disabilitas.

Tidak perlu mengunjungi secara langsung, tapi tetap memberikan dukungan dengan cara lain, misalnya menggunakan video call. Perlakuan dan perhatian khusus terhadap disabilitas terlantar dan gelandangan, bekerja sama dan merujuk pada layanan sosial setempat.

ODMK

Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Kesehatan fisik pada ODMK yang berada di masyarakat mempunyai risiko yang sama terhadap penularan Covid-19. Oleh karena itu, semua tindakan pada OS, OTG, ODP, PDP, dan konfirmasi Covid-19 berlaku untuk mereka.

Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada ODMK bilamana muncul gangguan yang masih ringan seperti kecemasan, depresi ringan, atau gangguan psikosomatis dapat melakukan relaksasi, meditasi, dan konsultasi dengan psikolog klinis/psikiater melalui metode daring.

ODGJ

Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Kesehatan fisik pada ODGJ yang berada di masyarakat dan yang dirawat di rumah sakit jiwa mempunyai risiko yang sama terhadap penularan Covid-19. Oleh karena itu, semua tindakan pada OS, OTG, ODP, PDP, dan konfirmasi Covid-19 berlaku untuk mereka.

Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada ODGJ Pandemi Covid-19 merupakan tambahan stresor bagi ODGJ yang memungkinkan ODGJ yang telah pulih berisiko kambuh. Untuk itu, perlu dilakukan beberapa dukungan kesehatan jiwa dan psikososial kepada ODGJ.

Keluarga pra-sejahtera

Keluarga pra-sejahtera perlu diberikan informasi yang benar tentang berbagai pelayanan jaminan sosial dari pemerintah dan memberikan keyakinan bahwa mereka aman saat tetap berada di rumah. Kegiatan layanan kesehatan jiwa dan psikososial harus bekerja sama dan berkoordinasi dengan dinas sosial setempat.

Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan harus memperhatikan kesehatan fisik dan menerapkan sejumlah prinsip selama bertugas. Di antaranya prinsip selamatkan diri dulu baru orang lain dan prinsip safety, menggunakan APD. Ketika pulang ke rumah langsung mencuci tangan (kalau bisa di luar rumah), langsung mandi, mengganti baju dan mencuci baju, jangan memegang apa pun sebelum berganti pakaian.

Bagi yang kurang sehat jangan paksakan datang untuk bekerja. Bila gejala suspect Covid-19 lebih dari satu hari, segera lapor dan diperiksa. Bila berkontak langsung dengan pasien Covid-19 positif, segera isolasi diri 14 hari. Membuat support group, antar-petugas kesehatan harus saling memberikan dukungan sosial terutama yang memiliki pengalaman serupa.

Relawan

Relawan perlu menggunakan alat pelindung diri (APD) dan juga prinsip yang sama seperti para tenaga kesehatan. Perlu didorong dilakukannya self-care untuk pekerja di garis depan/relawan yaitu menyeimbangkan beban kerja dengan kebutuhan nutrisi dan istirahat, mengenal gejala stres pada diri, mengelola stres dengan coping dan dukungan sosial. [*]

Penulis : Didit Tri Kertapati


Index ePaper Download PDF ePaper