Laskar TB dan HIV dari Jurangombo
Potret - 94 view


Penyakit HIV/AIDS, berasal dari virus yang menyerang kekebalan tubuh atau Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akhirnya menyebabkan penyakit kronis yang membuat sistem imun tubuh lemah melawan infeksi atau disebut Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Ketidakmampuan tubuh melawan infeksi, membuat penderita HIV/AIDS sangat rentan dan berisiko terkena penyakit infeksi lain, seperti Tuberkulosis (TB). 

Karena itu, mencegah penderita HIV/AIDS agar tidak terkena penyakit TB menjadi tugas penting bagi petugas kesehatan daerah, seperti petugas kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jurangombo, Magelang, Jawa Tengah. Salah satu langkah besar yang dilakukan Puskesmas Jurangombo untuk melakukan pencegahan, adalah membentuk Laskar Teticuloshiv. 

Laskar di sini adalah pasukan atau gabungan petugas kesehatan. Sementara, Teticuloshiv adalah kependekan dari ‘Temukan, Obati Tuberkulosis, HIV, dan AIDS’. Pembentukan Laskar Teticuloshiv berangkat dari tingginya temuan kasus HIV/AIDS yang merupakan kasus nomor 3 tertinggi di kota mereka, sementara temuan kasus TB masih minim.

 “Dengan latar belakang itu dan tingginya risiko penderita HIV/AIDS terkena TB, kami mengintegrasikan 2 program untuk dapat menemukan dan mengobati pasien yang terkena HIV/AIDS dan TB,” jelas Penanggung Jawab Program TB di Puskesmas Jurangombo, Ita Maria Telica, kepada Mediakom

TB memang erat kaitannya dengan HIV/AIDS. Dengan daya tahan tubuh yang rendah, maka para penderita HIV/AIDS sangat rentan dengan serangan TB. Melansir dari rilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), situasi TB di Indonesia dinilai cukup mengkhawatirkan. Di mana, Kemenkes mencatat ada sebanyak 4.400 kasus TB Resisten Obat (TB RO), 52.929 kasus TB anak, dan 7.729 kasus TB HIV.

Ita mengatakan, Laskar Teticuloshiv terdiri dari dokter, perawat, bidan, ahli gizi, tenaga promosi kesehatan (promkes) dan kesehatan lingkungan (kesling) yang bekerja sama dengan Kader Ketuk Pintu TB. “Saat ini ada 17 orang yang tergabung dalam Laskar Teticuloshiv,” katanya.

Laskar Teticuloshiv bertugas melakukan pengumpulan data dengan mengunjungi rumah pasien terduga TB dan HIV/AIDS. Dalam kunjungan ke rumah warga, Laskar Teticuloshiv melakukan investigasi kontak untuk mendapatkan informasi dan memantau keadaan pasien. Kunjungan dilakukan dari rumah ke rumah untuk mengakomodir warga yang enggan datang ke Puskesmas. Sehingga kegiatan ini juga tergabung dalam Program PIS-PK (Program Indonesia Sehat-Pendekatan Keluarga).

Tujuan program yang mulai dijalankan pada tahun 2018 ini adalah untuk meningkatkan penemuan kasus TB dan HIV di masyarakat, meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang mereka hadapi, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit TB dan HIV, serta menghilangkan diskriminasi di masyarakat terhadap pasien TB dan HIV. 

Menurut Ita, karena Laskar Teticuloshiv menggabungkan antara TB dan HIV, maka pasien TB merupakan populasi kunci yang harus diperiksa HIV-nya. “Kami fokus ke kunjungan rumah suspek TB ataupun HIV yang populasi kunci. Kami jemput bola, bekerja sama dengan WPA (Warga Peduli AIDS) dan Kader Ketuk Pintu TB, masyarakat, ataupun kader kesehatan,” paparnya.

Kasus HIV Tinggi

Menurut Ita, penyebab tingginya kasus HIV/AIDS di wilayah Puskesmas Jurangombo adalah seks bebas dan penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) dengan mayoritas penderita adalah perempuan. “Biasanya disebabkan oleh seks bebas dan narkoba. Korban biasanya masih usia produktif yang kebanyakan berusia 20 tahun ke atas,” Ita memaparkan. 

Bahkan, Ita menambahkan, dia dan timnya juga menemukan ibu hamil yang terinfeksi HIV, sehingga program Laskar Teticuloshiv juga berintegrasi dengan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). “Ada juga yang ibu hamil, yang menjadikan program kami terintegrasi dengan KIA. Yang kami temukan 5 kasus semuanya ibu hamil. Jadi masalah kami kompleks, ada yang belum nikah, ada yang sudah hamil ternyata kena HIV, anaknya kalau tidak terpapar Antiretorviral (ARV), maka otomatis kena,” imbuhnya.

Pelaksanaan program di lapangan pun, menurut Ita masih menemui kendala. Karena mengajak masyarakat untuk berobat bukanlah perkara mudah. Untuk mengatasi hal tersebut, Ita dan tim terus melakukan edukasi secara berkala baik di dalam gedung maupun di luar gedung. Selain itu, Laskar Teticuloshiv juga melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Warga Peduli AIDS untuk membantu mendapat akses yang lebih mudah ke masyarakat. 

LSM berperan memberikan motivasi jika sudah ada pasien yang terdiagnosis terinfeksi HIV/AIDS. “Di LSM tersebut biasanya juga ada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Jadi mereka memberi motivasi supaya mau berobat dan minum obat, karena kalau berbicara dengan sesama ODHA rasanya lebih mengena,” ungkap dia. 

Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Perjuangan Laskar Teticuloshiv meningkatkan penemuan kasus TB berbuah hasil positif. Berdasarkan data Puskesmas Jurangombo, setelah terbentuknya Laskar Teticuloshiv, penemuan kasus TB di Puskesmas tersebut meningkat. Pada tahun 2017 tercatat sebanyak 3 orang, kemudian tahun 2018 meningkat menjadi 6 orang, dan tahun 2019 menjadi 11 orang. 

Namun, langkah Laskar Teticuloshiv dalam menanggulangi TB dan HIV/AIDS tidak berhenti sampai di situ. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan. Ke depan, mereka berencana melibatkan berbagai program di Puskesmas dan jejaring yang ada di wilayah Puskesmas Jurangombo untuk meningkatkan kunjungan rumah suspek TB dan HIV. 

Selain itu, Ita juga berencana melakukan penyegaran kepada tenaga kesehatan yang tergabung dalam Laskar Teticuloshiv. Salah satunya terkait tata laksana deteksi dini kasus TB dan HIV/AIDS. Dengan begitu, penderita dapat segera mendapatkan pengobatan yang dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.

Ita juga berharap Laskar Teticuloshiv bisa mengedukasi masyarakat terkait TB dan HIV/AIDS, sehingga pengetahuan masyarakat akan penyakit-penyakit tersebut meningkat. Dengan demikian, stigma masyarakat tentang TB dan HIV/AIDS juga bisa berubah dan tidak terjadi diskriminasi lagi terhadap penderita di masyarakat. 

Penulis: Faradina Ayu

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper