Majelis Kesehatan Dunia Adopsi Resolusi Upaya Kendalikan Covid-19
Newsflash - 130 view


Setiap tahun pada bulan Mei, ratusan delegasi dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan perjalanan ke Jenewa, Swiss, untuk bertemu dan membuat keputusan tentang kesehatan global dalam World Health Assembly (WHA).

WHA ke-73 tahun 2020 dilakukan pada 18-19 Mei 2020 secara virtual karena pandemi Covid-19, dengan agenda singkat.

WHA, yang adalah badan pembuat keputusan pada WHO, dihadiri oleh delegasi dari semua negara anggota WHO dan berfokus pada agenda kesehatan tertentu yang disiapkan oleh dewan eksekutif. Fungsi utama dari WHA adalah untuk menentukan kebijakan organisasi, menunjuk direktur jenderal, mengawasi kebijakan keuangan, dan meninjau serta menyetujui anggaran program yang diusulkan.

Pada WHA 2020, negara anggota WHO memberikan pernyataan yang difokuskan sebagian besar pada pandemi Covid-19, melaporkan kemajuan mereka dalam memerangi Covid-19, berbagi pengetahuan tentang situasi yang berkembang, dan mempertimbangkan draft resolusi pada Covid-19.

Dalam kegiatan ini negara anggota dapat bertukar informasi serta mendengar pendapat para ahli terkemuka dari berbagai bidang. Informasi ini penting untuk menjadi acuan, bukan hanya untuk masing-masing negara tetapi sebagai komunitas global.

Menkes RI, Terawan Agus Putranto dalam pernyatannya menyebutkan 3 hal penting dalam melakukan tindakan bersatu dan bersinergi untuk mengakhiri Covid-19. Pertama, memperkuat solidaritas; kedua, memastikan rantai pasokan global untuk obat  dan peralatan medis untuk semua negara; ketiga, penguatan kesiapan pandemi nasional dan keamanan kesehatan global dengan mengikuti peraturan kesehatan internasional (2005).

Menurut Terawan, kerja sama Indonesia dalam memerangi Covid-19 harus terus mematuhi prinsip multilateralisme, mendukung hasil sidang WHO, dan siap untuk berkontribusi pada produksi anti-virus dan vaksin baru Covid-19 untuk kebutuhan global.

Tahun Perawat dan Bidan Internasional

Tahun 2020 menandai Tahun Perawat dan Bidan Internasional. Pandemi Covid-19 menyoroti pekerjaan penting yang dilakukan setiap hari oleh petugas kesehatan di seluruh dunia.

Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pidato pada acara pembukaan WHA-73 secara virtual yang disiarkan pada situs WHO, 18 Mei 2020 menyampaikan, tahun ini adalah Tahun Perawat dan Bidan Internasional. Majelis ini dimaksudkan sebagai momen pengakuan atas kontribusi luar biasa yang diberikan perawat dan bidan setiap hari, di setiap negara. Pandemi telah merampas kita dari kesempatan itu. Tapi itu hanya berfungsi untuk menggambarkan mengapa perawat, bidan dan semua petugas kesehatan sangat penting.

“Perawat dan bidan berada di garis depan perjuangan melawan Covid-19, menempatkan diri mereka dalam bahaya. Banyak yang telah melakukan pengorbanan utama dalam pelayanan kemanusiaan,” ungkap Tedros.

Bulan lalu, WHO menerbitkan laporan Status Keperawatan Dunia pertama. Ini menunjukkan bahwa dunia menghadapi kekurangan 6 juta perawat untuk mencapai dan mempertahankan cakupan kesehatan universal.

“Sekarang, lebih dari sebelumnya, dunia membutuhkan perawat dan bidan. Mari kita tunjukkan menunjukkan penghargaan kepada para pahlawan kesehatan sejati ini,” tutur Tedros.

Dunia telah menghadapi beberapa pandemi sebelumnya. Ini adalah yang pertama disebabkan oleh virus corona. Menurut Tedros, ini adalah musuh yang berbahaya, dengan kombinasi fitur yang berbahaya: virus ini efisien, cepat, dan fatal. 

Tedros menyatakah bahwa lebih dari 4 setengah juta kasus Covid-19 kini telah dilaporkan ke WHO, dan lebih dari 300.000 orang telah kehilangan nyawa. Setiap kehilangan nyawa meninggalkan bekas luka bagi keluarga, komunitas, dan bangsa. Dampak kesehatan pandemi ini jauh melampaui penyakit dan kematian yang disebabkan oleh virus itu sendiri.

Dalam waktu kurang dari lima bulan, pandemi telah mengelilingi dunia. Semua negara telah menghadapi tantangan dalam mengatasi virus ini, kaya dan miskin, besar dan kecil.

Negara-negara berpenghasilan rendah, negara-negara berkembang pulau kecil dan mereka yang menderita kekerasan dan konflik berusaha untuk menghadapi ancaman ini dalam situasi yang paling sulit.

Bila kita ingat kasus global sebelumnya yaitu SARS, pandemi H1N1, dan epidemi Ebola Afrika Barat, membuktikan adanya kelemahan dalam keamanan kesehatan global. Kondisi ini selanjutnya membuat banyak rekomendasi bagi negara-negara untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Tedros menegaskan bahwa dunia tidak kekurangan alat, sains, atau sumber daya untuk membuat lebih aman dari pandemi. Yang kurang adalah komitmen berkelanjutan untuk menggunakan alat, sains, dan sumber daya yang dimilikinya. 

Meskipun Covid-19 sudah menjadi fokus perhatian dunia saat ini, kita tidak boleh kehilangan fokus untuk mempertahankan dan mempercepat inisiatif lain yang telah menyelamatkan jutaan nyawa dalam beberapa tahun terakhir Covid-19 bukan hanya kedaruratan kesehatan global, ini adalah bentuk nyata bahwa tidak memiliki jaminan kesehatan tanpa sistem kesehatan yang tangguh. Pandemi menggambarkan mengapa berinvestasi di bidang kesehatan harus menjadi pusat pembangunan

Dalam sambutan penutupnya, Tedros mengatakan, “Covid-19 telah merampok orang yang kita cintai. Ini merampas kehidupan dan mata pencaharian kita; mengguncang fondasi dunia; mengancam jalinan kerjasama internasional. Tapi itu juga mengingatkan kita bahwa untuk semua perbedaan kita, kita adalah satu ras manusia, dan kita lebih kuat bersama. ”

Resolusi WHA -73

Tedros menyambut baik resolusi tentang komitmen global terhadap respons Covid-19 yang diadopsi oleh negara-negara anggota selama WHA- 73. 

Resolusi itu menyerukan upaya terpadu memperkuat kerja sama multilateral dalam menanggapi pandemic; memastikan akses dan distribusi yang adil untuk teknologi dan produk kesehatan yang penting untuk memerangi virus. [*]

 

 Penulis                 : Giri Inayah


Index ePaper Download PDF ePaper