Manusia Baru pada Masa Covid-19
Lentera - 254 view


Siklus hidup seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Seperti juga putaran kehidupan. Ada yang lahir, dewasa dan kemudian ada pula yang mati.

Sedikit berbeda dengan putaran hidup kupu-kupu. Ia mulai dari ulat, kepompong, lantas menjadi kupu-kupu. Jenis makhluk yang indah, warna-warni. Habitatnya pun ditempat bunga-bunga yang indah. Banyak manusia banyak yang berdecak kagum melihatnya.

Ketika masih menjadi ulat, kegiatanya hanya makan sekenyang-kenyangnya. Banyak daun ludes dimakan. Ulat kecil itu kemudian tumbuh, kemudian membuat “rumah”  dan membentuk diri menjadi kepompong. Setelah sekian waktu, ia menjadi kupu-kupu, menampakan diri menjadi makhluk berbeda, lebih baik dalam hal rupa dan pekerti. Tak lagi rakus seperti saat masih jadi ulat.

Mirip

Saat pandemi Covid-19, manusia juga punya siklus yang mirip dengan kupu-kupu. Sebelumnya sibuk, berkelana ke mana saja mencari makan dan harta.

Sejak akhir Desember 2019, dunia terguncang dengan Covid-19, yang menyebar secara masif tanpa kendali. Guna memutus rantai penularan, ada yang memberlakukan lockdownseperti India, AS, Italia, dan Spanyol. Sementara itu, Indonesia menggunakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Intinya, negara menganjurkan rakyatnya agar tetap tinggal di rumah masing-masing. Seperti kepompong dalam rumahnya yang sederhana.

Apakah manusia akan menjadi kepompong, menata dan memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik? Sehingga ketika pandemi Covid-19 berakhir akan lahir manusia baru dengan kepribadian baru yang lebih baik.

Saat berada di dalam rumah beberapa bulan, dan sebulan “dididik dan dilatih” bulan Ramadan, manusia menjadi lebih pedulu terhadap sesama.

Saat di dalam rumah dan berpuasa satu bulan penuh, manusia mestinya mampu memperbaiki kepribadiannya lewat permenungan dan introspeksi. Menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa.

Ketika sebelumnya rakus mengumpulkan harta, saat Ramadan tergugah untuk berbagi dengan sesama. Hati yang keras dan angkuh, menjadi lembut dan tawadhu’. Manusia tak kuasa dan tak punya apa-apa, karena semua itu dari-Nya.

Kalau berpegang pada harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan segala bentuk duniawi lainnya pasti akan segera sirna. Termasuk manusia pun fana, tak akan lama, segera sirna.

Saat tepat

Nah, saat yang tepat untuk memperbaiki diri adalah ketika stay at home bersama Ramadan. Seperti ramuan yang komplit dan mujarab menyembuhkan hati yang sedang luka, sedih, cemas, takut, putus asa, dan menderita akibat Covid-19 yang berkepanjangan. Entah sampai kapan.

Oleh karena itu, mari kita hilangkan kesombongan, iri, dengki, dan hasut. Kita ganti dengan sabar, syukur, dan tawakal hanya kepada-Nya. Insha Allah, setelah Covid-19 berakhir, akan lahir manusia baru, yakni manusia lama yang berhati baru dengan spesifikasi: lembut, tenang, aman, bahagia, peduli, dermawan, nyaman, dan sifat baik lainnya di bawah naungan-Nya. Semoga kita semua memperolehnya. Amin. [*]

 

Oleh. Prawito


Index ePaper Download PDF ePaper