Mencegah Kepanikan di Tengah Wabah Covid-19
Ruang Jiwa - 162 view


Saat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan tentang dua orang warga Negara Indonesia (WNI) diketahui positif Covid-19 di Istana Negara, Jakarta (2/3), informasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah jawaban atas keraguan terhadap kemampuan Indonesia untuk mendeteksi penyakit yang juga termasuk dalam golongan corona virus ini.

Belum sampai 24 jam Presiden mengumumkan hal tersebut, Walikota Depok Mohammad Idris di hadapan wartawan menyampaikan bahwa kedua orang WNI yang positif Covid-19 itu merupakan warga Depok. Berita tersebut memunculkan kekhawatiran dari masyarakat, khususnya warga Depok.

Sayangnya, kekhawatiran yang timbul itu tidak diimbangi dengan informasi yang cukup untuk menghadapinya. Hal ini dikarenakan protokol penanganan Covid-19 belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat sehingga yang muncul di permukaan adalah kepanikan.

Mengenal kepanikan dan dampaknya

Kepanikan merupakan respon kombinasi dari emosi, pikiran, dan perilaku terhadap ketidakpastian. Respon ini dapat ditunjukan secara fisiologis, dengan bentuk jantung berdebar-debar, berkeringat, dan kadang pada orang tertentu bisa sampai pingsan.

Beberapa contoh respon kepanikan juga dapat berwujud perilaku ekonomi atau istilah yang saat ini muncul di masyarakat panic buying, yaitu membeli barang-barang di luar batas kebutuhan dengan kuantiti yang melebihi kapasitas. Di sisi lain, ada juga orang yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadi menjadikan situasi sebagai ajang bisnis dan peluang-peluang yang tidak sehat, seperti menjual masker atau hand sanitizer dengan harga yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Kepanikan juga ditimbulkan dari miskomunikasi. Apa yang terjadi di Natuna di Februari lalu misalnya, ketika terjadinya penolakan masyarakat Natuna terhadap kedatangan 283 WNI dari China untuk menjalankan observasi selama 14 hari sesuai standar karantina kesehatan di sana.

Tergambar dari berbagai media massa dan media sosial bagaimana respon yang dihasilkan dari sebuah kebijakan. Di saat virusnya belum datang, tetapi berita-berita menakutkan sudah banyak beredar. Apa yang terjadi? Fokus permasalahan menjadi bukan pada virusnya melainkan pada aspek sosial. Bentuk perilaku sosial, ketika emosi dan perasaan sudah mendahului dengan wujud berupa aksi demo penolakan kehadiran orang yang diyakini pembawa virus.

Respon perilaku tersebut akan dapat teratasi dengan memberikan informasi beserta data-data dengan cara komunikasi efektif dan efesien. Proses peredaman menjadi lebih mudah bila dibandingkan dengan melawan virusnya itu sendiri. Tetapi, apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan informasi itu, mungkin hal-hal yang lebih menakutkan dapat terjadi.

Bayangkan, akumulasi respon masyarakat yang merasa tidak nyaman. Tidak hanya aksi-aksi demo, melainkan tindakan penjarahan, kerusuhan atau bahkan berhadapan dengan aksi pembunuhan. Tentu saja hal ini tidak kita inginkan, pihak otoritas harus segera mengambil tindakan. Tidak hanya fokus membuat sarana prasarana karantina, tetapi bekerja lebih komprehensif. Harus dipikirkan secara mendalam dan strategis tentang bagaimana mengelola emosi masyarakat akibat dari sebuah kebijakan karantina yang kebetulan ada di wilayahnya.

Menyaring informasi dengan baik

Ketangguhan, inilah yang harus dipikirkan. Membentuk perilaku positif masyarakat tangguh, sangat penting di tengah situasi yang unpredictable. Peran media dalam memberikan dan menyebarluaskan informasi tidak bisa dikesampingkan. Bagaimana tidak, saat ini masyarakat sadar atau tidak, disuguhkan ratusan informasi, yang dibutuhkan dan tidak, bertubi-tubi tiap detik dan menit melalui media mainstream dan media sosial.

Saring dulu, baru sharing! Tiap kali ini dijadikan nasihat, terutama dalam berkomunikasi di sosial media. Harus ada upaya untuk mendapatkan informasi yang memiliki validitas atau tepercaya. Sudah menjadi budaya, mudah emosi, informasi yang diterima langsung diteruskan kepada orang lain tanpa melihat referensi dan keakurasian berita. Tak jarang, pada saat baca cepat status atau update akun berita, belum lengkap membaca sudah langsung forward. Ini menjadi kebiasaan yang buruk.

Pemerintah tampaknya sudah mulai memahami bagaimana menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait wabah Covid-19. Kebijakan yang diambil saat ini bahwa informasi dikeluarkan dari satu pintu, hal ini untuk mencegah perbedaan data dan juga mencegah simpang-siuran persepsi atau opini masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Isi berita tidak hanya informatif tetapi harus memuat kalimat-kalimat yang sedemikian menggugah dan membangkitkan kesadaran akan adanya hikmah di balik setiap musibah. Semuanya itu harus dikemas dengan profesional.

Semua pihak bekerja. Pemerintah, swasta, dan masyarakat bahu-membahu berupaya maksimal. Semua harus sadar, bahwa saat ini yang kita hadapai adalah sebuah kenyataan, dan jangan sampai ini malah melahirkan suatu ketidakberdayaan. Kita harus tetap semangat, bangkit, bangkit dan bangkit.

*Sebagaimana disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Dr.dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH kepada Teguh Martono dari Mediakom

 


Index ePaper Download PDF ePaper