Mengenal Lupus, Penyakit “Seribu Wajah”
Media Utama - 238 view


Menurut Subdit Subdirektorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi (PPKGI), Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan, lupus (Lupus Eritematosus Sistemik - LES) merupakan penyakit autoimun inflamasi kronik dengan keterlibatan multi-sistem/organ. Penyakit ini bisa menyerang hampir setiap bagian tubuh seperti jantung, sendi, otak, paru-paru, hingga ginjal. Lupus tergolong sebagai penyakit tidak menular.

Ahli Rematologi FKKMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp. PD-KR mengatakan, penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor diduga berperan pada patofisiologis lupus, seperti faktor genetika, infeksi, dan lingkungan seperti polusi dan makanan tidak sehat.

Selain faktor genetika, infeksi, dan lingkungan, faktor hormonal juga disebut sebagai salah satu faktor resiko penyakit lupus. Berikut ini penjelasan mengenai faktor resiko penyakit lupus yang dilansir dari laman P2PTM Kemenkes.

Faktor genetik (diketahui bahwa sekitar 7% pasien lupus memiliki keluarga dekat–orang tua atau saudara kandung—yang juga didiagnosis lupus); Faktor lingkungan (infeksi, stres, makanan, antibiotic—khususnya kelompok sulfa dan penisilin, cahaya ultraviolet matahari, penggunaan obat-obatan tertentu, merokok, paparan kristal silica); Faktor hormonal (umumnya perempuan lebih sering terkena penyakit lupus dibandingkan laki-laki. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit lupus sebelum periode menstruasi atau selama kehamilan mendukung dugaan hormon estrogen menjadi pencetus penyakit lupus).

Penyakit “Seribu Wajah”

Lupus sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena memiliki gejala yang tidak khas. Gejala dan sakit yang ditimbulkan beragam, dan manifestasi lupus pada tiap orang yang terkena bisa berbeda-beda.

Lupus memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain, sehingga sulit untuk dideteksi. Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari ringan hingga yang mengancam jiwa.

Gejala lupus dapat timbul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan.

Pasien lupus, atau yang biasa disebut odapus (orang dengan lupus), dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau bersifat sementara sebelum akhirnya kambuh lagi. Kesulitan dalam upaya mengenali lupus sering kali mengakibatkan diagnosis dan penanganan yang terlambat.

Nyoman menjelaskan, penyakit lupus dapat menyerang siapa saja. Namun, sampai saat ini kasus lupus banyak ditemui pada wanita usia produktif. Menurutnya, wanita merupakan kelompok yang lebih sering terjangkit penyakit ini dibandingkan dengan laki-laki. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hal ini berhubungan dengan aktivitas hormon dan sistem kekebalan tubuh yang kuat.

Mengutip ugm.ac.id, Nyoman mengatakan, “Wanita muda usia kisaran 15-25 tahun merupakan kelompok yang lebih rentan terkena lupus.” [*]

Gejala Lupus

Gejala lupus tergantung pada sistem tubuh mana yang dipengaruhi oleh penyakit tersebut. Berikut merupakan gejala penyakit lupus, sebagaimana dilansir portal P2PTM Kemenkes.

  • Demam lebih dari 38 derajat celcius dengan sebab yang tidak jelas.
  • Rasa lelah dan lemah berlebihan.
  • Sensitif terhadap sinar matahari.
  • Rambut rontok.
  • Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang melintang dari hidung ke pipi.
  • Ruam kemerahan di kulit.
  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh, terutama di atap rongga mulut.
  • Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari 2 sendi dalam jangka waktu lama.
  • Ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin.
  • Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas panjang.
  • Kejang atau kelainan saraf lainnya.
  • Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium (atas anjuran dokter), seperti anemia (penurunan kadar sel darah merah), leukositopenia (penurunan sel darah putih), trombositopenia (penurunan kadar pembekuan darah), hematuria dan proteinuria (darah dan protein pada pemeriksaan urin dan Positif ANA dan atau Anti ds-DNA).

Jika seseorang mengalami minimal 4 gejala dari seluruh gejala tersebut, dianjurkan untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter di Puskesmas atau rumah sakit agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. [*]

 

Penulis             : Faradina Ayu


Index ePaper Download PDF ePaper