Mengenali Rabun Jauh
Info Sehat - 275 view


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dengan 39 juta di antaranya mengalami kebutaan, 124 juta dengan low vision, dan 153 juta mengalami kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 menunjukkan bahwa gangguan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab gangguan penglihatan terbanyak di seluruh dunia (48,99 persen) dan penyebab kebutaan terbanyak kedua (20,26 persen) setelah karatak (34,47 persen).

Dalam buku Ilmu Penyakit Mata edisi 5 tahun 2014, Ilyas menjelaskan kelainan refraksi sebagai keadaan bayangan benda jatuh tidak tepat pada retina sehingga menyebabkan keluhan kesulitan atau kabur saat melihat pada jarak tertentu. Panjang bola mata (lebih panjang atau lebih pendek), perubahan bentuk kornea, atau penuaan lensa menyebabkan kelainan pembiasan sinar.

Ada beberapa jenis gangguan refraksi, seperti miopia (rabun jauh), hipermetropi (rabun dekat), astigmatisme (silinder), dan presbiopia (mata tua). Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh adalah jenis gangguan refraksi penyebab utama hilangnya penglihatan di seluruh dunia. Prevalensi rabun jauh bervariasi menurut negara dan kelompok etnis. Di beberapa populasi Asia prevalensi rabun jauh mencapai 70-90 persen dan terus meningkat.

Rabun jauh terjadi karena pertumbuhan bola mata terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu besar. Dengan kata lain, jarak kornea dan retina terlalu jauh. Mata mempunyai kekuatan pembiasan yang berlebih saat sinar yang masuk dibiaskan atau jatuh di depan retina (bintik kuning). Menurut derajat beratnya rabun jauh dibedakan menjadi miopia ringan (1-3 dioptri), sedang (3-6 dioptri), dan berat (lebih dari 6 dioptri).

Penyebab rabun jauh belum diketahui pasti tapi diperkirakan terjadi akibat kombinasi interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan. Pan CW et al (2012) menyebutkan bahwa anak dengan orang tua yang mengalami rabun jauh memiliki risiko lebih besar untuk menderita rabun jauh daripada anak dari orang tua yang tidak menderita rabun jauh.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rabun jauh dipengaruhi oleh daya akomodasi mata yang berlebihan akibat kebiasaan dan aktivitas melihat dekat dengan durasi yang lama, seperti membaca, menulis, menonton televisi serta menggunakan komputer atau perangkat digital lainnya. Adapun Wulansari dkk (2018) melaporkan bahwa intensitas cahaya lebih tinggi di luar ruangan mengakibatkan ketajaman penglihatan yang lebih baik. Paparan terhadap cahaya yang suram dan terlalu sering akan menjadi faktor risiko terjadinya rabun jauh.

Orang yang mengalami rabun jauh justru dapat melihat objek dekat dengan jelas. Rabun jauh yang tidak dikoreksi sering menimbulkan keluhan sakit kepala bila melihat jauh atau lama yang disertai mata lelah, juling, dan celah kelopak mata sempit. Seseorang dengan rabun jauh memiliki kebiasaan menyipitkan matanya untuk mendapat efek lubang kecil saat berusaha melihat jauh.

Untuk menentukan kelainan refraksi atau rabun dapat dilakukan pemeriksaan mata, terutama pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen Chart dan jarak dekat dengan Jaeger Chart. Penderita akan diminta untuk membaca huruf atau gambar pada jarak enam meter untuk mendapatkan koreksi terbaik. Ada pula pemeriksaan mata dasar lain, seperti uji pembiasan untuk menentukan resep pemakaian kacamata, uji penglihatan warna, uji gerakan otot mata, pengukuran tekanan bola mata, dan pemeriksaan retina atau bagian belakang bola mata.

Pasien rabun jauh diobati dengan memberikan koreksi menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif atau dikenal dengan kacamata minus. Besarnya kekuatan lensa negatif tersebut ditentukan dengan cara trial and error, yaitu meletakkan sebuah lensa negatif kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lemah sampai mendapatkan koreksi tajam penglihatan terbaik.

Penderita sebaiknya segera mendapatkan pengobatan atau koreksi menggunakan kacamata atau lensa kontak negatif. Dalam beberapa kasus, seperti rabun jauh berat, mungkin memerlukan pembedahan. Kelainan rabun jauh yang tidak terkoreksi akan menyebabkan gangguan penglihatan dan bahkan kebutaan akibat komplikasi seperti:

  1. Ablasio retina, yaitu terlepasnya retina dari badan koroid bola mata sehingga menyebabkan kebutaan atau hilangnya penglihatan mendadak, terutama pada rabun jauh berat (-6 dioptri).
  2. Vitreal liquefaction dan detachment badan vitreus. Di antara lensa dan retina mengandung 98 persen air dan 2 persen serat kolagen yang akan mencair secara perlahan seiring bertambahnya usia. Namun, proses ini akan meningkat pada keadaan rabun jauh. Pada tahap awal penderita akan melihat bayangan kecil dalam mata dan lama kelamaan terjadi kolaps badan vitreus dan menyebabkan kerusakan retina.
  3. Miopik makulopati. Terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada mata sehingga lapangan pandang dapat berkurang.
  4. Glaukoma. Ini terjadi akibat mata yang terus menerus berakomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung sudut trabekula.

Selain itu, pada keadaan rabun jauh dengan perbedaan derajat sferis (minus) kedua bola mata terlalu besar akan menyebabkan keadaan amblyopia (mata malas). Kelainan yang tidak segera dikoreksi akan menyebabkan retina kurang peka terhadap cahaya dan mata tidak berfungsi. Mata malas akan tampak bergerak ke kiri dan kanan berbeda dengan mata yang satunya.

Sangat penting untuk melakukan deteksi dini terhadap gangguan penglihatan. Deteksi dapat dilakukan sejak anak-anak sehingga segera dapat dikoreksi dengan lensa kacamata minus atau lensa kontak untuk mencegah bertambahnya derajat keparahan rabun jauh. Pencegahan lain dengan menjaga jarak baca antara 40-45 sentimeter, aktivitas pemakaian mata jarak dekat dengan menggunakan teknik 20-20-20 (beristirahat setiap 20 menit untuk melihat objek sejauh 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik).

Penulis: dr. Setya Ningrum Tefbana


Index ePaper Download PDF ePaper