Mengendalikan Panik di Kala Pandemi
Lentera - 147 view


Panik dalam situasi yang sulit dikendalikan adalah sesuatu yang wajar dari sisi kemanusiaan. Tapi mampu mengendalikannya dapat menenangkan jiwa dan pikiran dalam situasi sulit.

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan sabar adalah awal penyembuhan.” Demikian nasihat Ibnu Sina, ilmuwan Muslim dunia yang berkontribusi besar di bidang kedokteran.

Nasihat Ibnu Sina ini nampaknya tepat jika diungkapkan di tengah kepanikan masyarakat saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika angka positif harian naik antara 30.000-40.000 kasus, tentu saja informasi-informasi ini mempengaruhi psikologis masyarakat. Pasien COVID-19 menyerbu rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan. Akibatnya, seluruh rumah sakit rujukan COVID-19 di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi dan Tangerang penuh, bahkan menambah beberapa tenda pada Unit Gawat Darurat (UGD). Hal ini juga terjadi pada beberapa rumah sakit rujukan COVID-19 di Kabupaten/Kota di pulau Jawa.

Dampak dari jumlah pasien COVID-19 yang meroket, maka kebutuhan oksigen menjadi meningkat drastis, bahkan tabung oksigen sempat menghilang dari pasaran karena sudah terbeli habis. Banyak pasien yang tidak mendapatkan oksigen dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. 

Selain itu, banyak pula yang mengalami kesulitan untuk mendapat layanan ambulans ketika akan mengantar pasien ke pelayanan fasilitas kesehatan atau pemakaman.

Kisah seperti ini hampir dijumpai di berbagai media sosial, aplikasi pesan singkat, termasuk media nasional juga memberitakannya. Di satu sisi, memang informasi ini merupakan informasi publik yang sudah sepatutnya diketahui masyarakat. Namun sisi lain, juga memicu rasa khawatir yang berlebihan juga hingga panic attack.  

Salah satunya, Sri Sayekti (50) yang baru 1 hari dinyatakan sembuh dari COVID 19 setelah 2 minggu isolasi mandiri. Tepat tanggal 12 Juli 2021, Sri Sayekti langsung membantu adik iparnya yang bernama Dini karena merasa sakit kepala, batuk dan sesak nafas untuk mendapat perawatan kesehatannya. 

"Saat kondisi Dini masih di rumah, dengan gejala sakit kepala, batuk dan nafasnya agak sesak, sementara saturasinya terekam 70. Saya segera membawa ke rumah sakit Taman Harapan Baru (THB), Bekasi Utara Kota Bekasi,” ujar Sri Sayekti.

Menurut Cici, begitu panggilan Sri Sayekti, Dini langsung mendapatkan perawatan di UGD dengan menggunakan oksigen. Waktu masuk UGD pukul 10.00 WIB, setelah mendapat oksigen saturasi langsung naik menjadi 89. Namun, yang menjadi masalah rumah sakit THB bukan rumah sakit rujukan COVID-19, sehingga harus dirujuk ke rumah sakit lain yang menjadi rujukan COVID-19. Berkali-kali petugas UGD meminta segera memindahkan Dini ke rumah sakit lain.

Bagi Cici, dengan langsung memberikan persetujuan, dapat membantu adiknya segera dirawat. Masalah lain yang muncul, Cici belum juga menemukan rumah sakit rujukan COVID-19 yang dapat menampung adiknya, bahkan ambulans yang mempunyai oksigen untuk mengantar pasien juga belum dapat. Semua kontak yang terkait dengan ambulans sedang terpakai semua. Bahkan ambulan rumah sakit THB sendiri juga tidak bisa mengantarnya.

“Terus terang saat itu merasa panik, satu sisi ingin segera memindahkan adik, karena sudah berkali-kali diminta pindah. Di sisi lain, belum mendapat rumah sakit, ambulans dan oksigen yang dibutuhkan Dini. Sebab memindahkan Dini ke rumah sakit lain tanpa oksigen akan berdampak buruk pada saturasi dan mengancam keselamatan nyawanya,” cerita Cici.

Setelah pencarian ke berbagai tempat, akhirnya baru pukul 17.00 WIB pada hari yang sama, Dini mendapat rumah sakit, yaitu di Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta Timur. Itu pun masuk melalui tenda UGD yang juga penuh dengan pasien COVID-19. Ada rasa lega ketika Dini mendapat kesempatan untuk dirawat di rumah sakit rujukan COVID-19. Namun, Tuhan berkehendak lain, keesokan paginya Dini menghadap Sang Pencipta untuk selamanya.

Situasi seperti ini dapat membuat banyak orang merasa panik, baik sebagai pasien atau anggota keluarga yang membantu mencari tempat perawatan, ambulans, tabung oksigen dan obat-obatan yang mereka butuhkan. Lalu bagaimana menghindarkan kepanikan dan tetap tenang dalam menghadapi situasi sulit?  Berikut penjelasan Direktur Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi Bogor, Dr. dr. Fidiansyah, Sp.SJ.

Marzuki mengatakan sekurang-kurangnya ada 5 hal yang dapat dilakukan bagi seseorang yang sedang panik dan tetap tenang dalam situasi sulit, sehingga seseorang tetap dapat melakukan aktifitas yang lebih produktif.

Pertama, tetap bersyukur pada setiap potensi yang saat ini dimiliki. Syukuri mata yang masih melihat, syukuri telinga yang masih bisa mendengar, syukuri kaki yang masih berjalan, syukur masih hidup. Sementara yang lain sudah lebih dulu kembali kepada Tuhannya untuk selamanya. 

“Pasti masih banyak yang harus terus kita syukuri pada Allah SWT, Tuhan yang maha pengasih dan penyayang,” imbuhnya.

Kedua, berpikir positif agar selalu yakin bahwa ada hikmah kebaikan atas setiap kejadian termasuk hikmah atas setiap musibah. 

Ketiga, bersabar atas segala hal yang belum sesuai dengan harapan atau kenyataan karena Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa lebih tahu kapan momentum harapan dan doa kita dikabulkan.

Keempat, lakukan ikhtiar dan usaha atas segala hal dengan seoptimal mungkin sesuai dengan aturan dan ketentuan, termasuk berkonsultasi kepada ahlinya.

Kelima, terus berdoa dan tawakal berserah diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala dinamika yang sedang dihadapi.

Memang mempraktekan bersyukur, berpikir positif, bersabar, ikhtiar yang optimal, terus berdoa, tawakal dan berserah diri di tengah kesulitan dan kesedihan tidak mudah. Sebagai latihan bisa kita praktekan lima hal di atas di kala susah dan senang. Selanjutnya, semoga lima hal tersebut dapat kita lakukan dalam segala situasi. 

Penulis: Prawito


Index ePaper Download PDF ePaper