Menghentikan Penyebaran Covid-19 dengan “Rapid Test”
Media Utama - 123 view


Menghentikan Penyebaran Covid-19 dengan “Rapid Test”

Penulis: Didit Tri Kertapati, Editor: Sulistyo

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada Kamis (19/3/2020) menyampaikan agar dilakukan rapid diagnostic test (RDT) atau yang lebih dikenal dengan rapid test (RT) secara massal di daerah yang berdasarkan hasil pemetaan rawan terinfeksi Covid-19.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, dr. Achamd Yurianto, mengatakan rapid test akan segerta dilaksanakan.

“Beberapa negara sudah melakukan hal ini dan kita pun juga akan melaksanakannya. Tujuannya adalah untuk secepatnya bisa mengetahui tentang kasus positif Covid-19 yang berada di masyarakat,” ujar Yuri.

Sebagaimana dilansir CNN Indonesia, WHO  menjelaskan bahwa rapid test merupakan alat yang didesain untuk skrining awal saat sumber daya terbatas,  memiliki kualitas tinggi, dan mudah digunakan. Kemudian, dilansir Katadata, rapid test dinilai lebih efisien dibandingkan swab test karena untuk mengetahui hasilnya tidak memerlukan waktu yang lama, sekitar 15 menit  - 3 jam. Sedangkan swab test membutuhkan waktu 1 x 24 jam.

Peneliti dari Badan Litbankes Kementerian Kesehatan, Kambang Setiadji, dalam laman theconversation menulis, RDT dilakukan dengan mengambil sampel darah di ujung dari seseorang untuk kemudian mendeteksi timbulnya antibodi orang tersebut terhadap virus SARS-CoV-2 berupa antibodi IgM dan Antibodi IgG . Adanya antibodi IgM menunjukan respons tubuh pada tahap awal (respons akut) infeksi virus Covid-19, sementara antibodi IgG menunjukan tubuh pernah terinfeksi Covid-19.

“Hasilnya dapat dibaca secara visual pada alat RDT, seperti yang terjadi pada alat tes kehamilan. Pada alat RDT yang dipakai di Indonesia saat ini, jika hasil tes menunjukkan positif akan muncul dua garis pita warna merah (di garis C dan T) di garis kontrol, sementara jika hanya muncul satu pita merah (hanya di garis C) maka menunjukkan negatif. Hasil dapat diketahui sekitar 10-15 menit,” sebut Kambang.

Dikutip dari detikhealth, virus corona tidak hidup di darah, tetapi seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin yang dapat dideteksi di darah. Melalui rapid test ini, orang yang sudah terinfeksi Covid-19 selama 7-14 hari atau lebih dapat terdeteksi.

Principal Investigator dari Stem-cell and Cancer Research Institute, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, menyoroti kelemahan rapid test yang bisa memberikam hasil ‘false negatif,’ yakni muncul negative padahal sebenarnya positif. Hal tersebut dapat terjadi lantaran orang menjalani rapid test pada saat antibodi belum terbentuk.

“Dalam jurnal berjudul ‘Antibody Responses to SARS-CoV-2 in Patients of Novel Coronavirus Diseases 2019’, sensitivitas tes serologi itu sekitar 36 persen kalau tidak salah. Jadi, dari 100 kasus yang terkonfirmasi Covid-19, dia bisa mendeteksi sekitar 30. Jadi itu harus hati-hati,” sebut Ahmad sebagaimana tercantum dalam detikhealth.

Menyikapi kemungkinan “false negatif” dari hasil rapid test, Yuri menjelaskan bahwa untuk membentuk antibodi memang diperlukan waktu sekitar 7 hari. Sehingga apabila pada pemeriksaan pertama menunjukan negative, maka akan dilakukan pemeriksaan kedua yang diharapkan sudah terbentuk antibodi.

"Yang bisa dilakukan mana kala pemeriksaan pertama negatif adalah mengulang kembali. Kita telah menyepakati bahwa kita akan mengulang kembali setelah 10 hari," kata Yuri.

Sementara itu, untuk yang hasil tes menunjukan positif akan dikonfirmasi kembali melalui metode standar yang ditetapkan oleh WHO.

“Tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR, karena ini menjadi penting. PCR memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibanding pemeriksaan rapid,” tambah Yuri.

PCR

Real-time reverse transcriptase Polimerase Chain Reaction (rRT-PCR) atau lebih sering disebut PCR merupakan salah satu metode yang disarankan WHO untuk menentukan seseorang terjangkit Covid-19.

Berbeda dengan rapid test, PCR dilakukan dengan cara  mendeteksi molekul RNA hasil transkripsi (hasil salinan kode DNA ) yang terdapat dalam sel virus (jumlahnya sangat sedikit) dalam spesimen. Molekul RNA ini pada virus berfungsi menyimpan informasi genetik di dalam sel virus.

Kambang menjelaskan, tes berbasis biomolekuler ini  dilakukan dengan menganalisis cairan membran mukosa tenggorok pasien untuk mendeteksi apakah terdapat molekul genetik virus di dalamnya. Sampel diperoleh petugas kesehatan dengan cara swab (mengelap) menggunakan batang stik kapas steril pada hidung (nasopharing) dan tenggorok orang yang diduga terinfeksi virus.

“Metode tes PCR ini mampu mendeteksi virus Covid-19 dengan tingkat akurasi yang tinggi. Namun, memerlukan tenaga laboratorium yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai, serta waktu yang lama,” papar Kambang.

Kambang menjelaskan, melihat kondisi yang ada di Indonesia saat ini, dimana penyebaran Covid-19 atau dikenal dengan virus SARS-CoV-2 sukar dibendung dan belum ada vaksin dan obat antivirus, maka rapid test massal perlu dikedepankan. Selain hasilnya cepat diperoleh, tes ini juga dapat dilakukan mulai level Puskesmas.

“Cara ini dapat mengidentifikasi sejak dini indikasi terinfeksi virus dan membatasi penularan selanjutnya. Dengan alat ini, pemerintah bisa mengetahui skala penyebaran penyakit sehingga bisa segera mengambil kebijakan. Sedangkan pasien yang positif terinfeksi bisa segera diisolasi dan dirawat untuk mencegah penularan lebih luas dan kematian,” pungkas Kambang.


Index ePaper Download PDF ePaper