Menikmati Hari Tua Tanpa Lupa*
Ruang Jiwa - 141 view


Menjadi lanjut usia (lansia), bagi sebagian makhluk hidup termasuk manusia adalah kodrat yang tidak bisa mereka hindari. Menjadi lansia, berarti juga mulai menghadapi masalah-masalah kesehatan, termasuk masalah kesehatan jiwa. Saat ini, masalah kesehatan jiwa yang kerap dialami oleh lansia adalah Demensia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjelaskan, penyakit Demensia adalah penyakit gangguan pikun. Demensia disebabkan oleh kerusakan sel-sel otak yang berfungsi kognitif dan mental. Gejala awal adalah mudah lupa, gangguan dalam berbahasa, disorientasi (waktu, tempat, orang), kesulitan mengambil keputusan, kemunduran (motivasi, inisiatif, minat), serta adanya tanda-tanda depresi.

Jika penyakit Demensia sudah parah, maka akan terjadi ketergantungan pada orang lain. Dalam hal penderita mengalami sulit makan, tidak kenal anggota keluarga, sulit menahan buang air kecil dan besar, serta gangguan perilaku yang sangat berat.

Demensia merupakan penurunan fungsi daya ingat dan daya pikir yang berlangsung kronis dan progresif, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Di masyarakat, Demensia sering dianggap hal yang normal pada lansia. Padahal meski proses penuaan menyebabkan penurunan pada berbagai sistem tubuh termasuk otak, tetapi proses penuaan yang normal tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi dan penurunan kemampuan berpikir.

Pada lansia yang mengalami Demensia, biasanya juga disertai kemunduran pengendalian emosi dan perilaku sosial yang berdampak pada hilangnya kemandirian mereka. Catatan kali ini mencoba mengingatkan, agar kelak saat memasuki usia lansia, kita tetap dapat menikmati hari tua tanpa lupa.

Tidak ada kata pensiun, itu kunci pertamanya. Bukan pensiun dalam pekerjaan, tapi dalam memberdayakan semua fungsi otak dan fungsi fisik untuk aktivitas sekecil apapun. Orang akan tercegah dari Demensia jika mengetahui pensiun hanya hubungan organisasi dengan individu, namun tidak pada aktivitas individu.

Caranya, dengan merekayasa sebuah aktivitas yang disesuaikan dengan kemampuan kita. Kalau kita memang terbiasa olahraga silahkan terus berolahraga. Kalau selama ini aktif di komunitas, misalnya komunitas religi, terus ikuti. Kalau tergabung di komunitas seni, tetap ikuti. Atau sekadar melakukan aktivitas bermain bersama cucu setiap hari, bisa terus dilanjutkan. Lansia akan cepat menderita Demensia kalau masa tuanya memilih menutup diri dan tidak rajin beraktivitas.

Secara fisiologis, orang yang sudah berusia senja memang tidak bisa menghindari penurunan fungsi fisik. Seperti mata rabun, kulit keriput, sampai pengeroposan tulang. Namun, selama ada kesiapan mental maka lansia dapat menjaga kualitas usia lanjutnya.

Peran Anak

Hal lain yang harus dipahami untuk mencegah Demensia, adalah peran dari anak-anak dalam merawat orang tua mereka. Karena salah satu pengelolaan penurunan fungsi otak adalah bagaimana cara orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya. Ada istilah 2 orang tua bisa sukses membesarkan 5 sampai 10 orang anak, tetapi 5-10 anak belum tentu bisa mengasuh 2 orang tua.

Sebenarnya, pengelolaan Demensia bisa berhasil dengan baik jika anakanaknya mampu merawat orang tuanya dengan baik. Namun, bagaimana cara anak-anak merawat orang tua mereka saat lansia, sebetulnya terbentuk dari bentuk pengasuhan seperti apa yang mereka dapatkan sejak bayi hingga dewasa oleh orang tua.

Perlu dicermati bahwa siklus ini sebetulnya tidak berdiri sendiri. Orang tua bisa membentuk anak yang perhatian pada mereka saat lansia, karena sejak kecil orang tua pun sudah memberikan perhatian yang konstruktif bagi anaknya. Sehingga ketika memasuki usia tua, anak-anak mereka memiliki ketulusan hati untuk berbakti kepada orang tua mereka.

Ini beberapa contoh, pembentukan karakter anak yang akan muncul dalam cara mereka merawat orang tua saat tua. Seorang anak meminta ayahnya bermain dengan dirinya, tetapi ayahnya menolak dengan alasan lelah. Padahal, si ayah bisa meluangkan waktu setidaknya 5 menit untuk menemani anaknya bermain dan lebih baik lagi jika ayah semangat menawarkan untuk bermain apa.

Hal itu akan menjadi cikal bakal anak, kalau orang tua sesibuk apapun akan memprioritaskan dirinya meski sebentar. Anak akan sangat bahagia jika si ayah mengajaknya bermain bola, membacakan buku cerita, makan bersama, atau berusaha mengambilkan rapor anak.

Jika teladan ini tidak diberikan kepada anak-anak, maka ketika orang tuanya berusia lanjut dan meminta bantuan anak, misal ke dokter, maka jangan heran jika anak akan memberi banyak alasan. Anak akan mudah menolak dengan alasan sibuk, atau hanya mengirim sopir kepada orang tua. Ini hasilnya jika anak tidak diajarkan kepedulian dan tidak diberikan keteladanan.

Contoh lain, sebagai orang tua sudahkah kita sabar memberi penjelasan kepada anak meski harus berulang-ulang dan tidak pernah merasa lelah. Sehingga, saat kita tua dan mengalami penurunan fungsi otak sehingga kembali seperti anak-anak, maka respons anak-anak mereka akan sama positifnya seperti mereka. Anak akan perhatian dan memberi prioritas untuk memenuhi kebutuhan orang tua, di tengah kesibukan mereka.

Catatan lainnya, harus ada pembagian peran dalam suatu keluarga. Misal berbagi peran di mana orang tua akan menginap bergantian di rumah anaknya. Sehingga ada peran yang melibatkan fungsi keluarga secara utuh.

*Sebagaimana disampaikan Dr. dr. Fidiansjah, Sp. KJ, MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kemenkes RI, kepada Didit dari Mediakom.

Editor: Sopia Sirega


Index ePaper Download PDF ePaper