Metode CAPD, Terapi Alternatif Gagal Ginjal Kronis
Info Sehat - 450 view


Gagal ginjal merupakan penyakit katastropik yang secara global menjadi beban mortalitas dan morbiditas. Penyakit ini juga berkontribusi terhadap beban biaya kesehatan sebuah negara. Meningkatnya jumlah lansia dan penyakit tidak menular berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi gagal ginjal. 

Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan, prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gagal ginjal sebesar 0,2%. Angka tersebut meningkat dalam data Riskedas tahun 2018 menjadi 3,8%. Sementara itu, kasus gagal ginjal berdasarkan data BPJS Kesehatan mencapai 1.784.962 orang pada 2018.

Terapi

Dari hasil penelitian Komite Penilaian Teknologi Kesehatan Kemenkes 2015, terdapat tiga jenis metode terapi bagi para penyintas gagal ginjal kronis: hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal.

Banyak studi menunjukkan bahwa transplantasi ginjal merupakan terapi terbaik bagi pasien gagal ginjal, tetapi kelangkaan organ hidup dan kurang diterimanya penggunaan donor membatasi pilihan pasien hanya pada hemodialisis (cuci darah) dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD (cuci darah lewat perut).

Di Indonesia, metode hemodialisis merupakan metode yang biasa digunakan penyintas gagal ginjal kronis. Hemodialisis dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan mesin khusus hemodialisa dan dibantu tenaga kesehatan.

Beberapa tahun terakhir metode CAPD mulai dikenalkan di Indonesia sebagai alternatif terapi bagi penyintas gagal ginjal kronik. Berdasarkan penelitian Komite Penilaian Teknologi Kesehatan Kemenkes tahun 2015, metode CAPD sebagai terapi pertama dinilai lebih cost-effective dibandingkan metode hemodialysis, sehingga dapat mengurangi beban ekonomi kesehatan.

Selain itu CAPD  juga meringankan beban biaya operasional pasien untuk pergi ke fasiltas pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien. Sekadar catatan, pada 2018 penyakit gagal ginjal menyedot biaya terbesar kedua setelah penyakit jantung pada program Jaminan Kesehatan Nasional.

Hemodialisis dan CAPD

Hemodialisis dan CAPD bertujuan untuk membersihkan zat-zat yang tidak berguna di dalam darah. Hanya, caranya yang berbeda. Pada hemodialisis, proses pembuangan racun dilakukan melalui mesin hemodialisa, dengan posisi pasien cuci darah terbaring.

Dalam metode CAPD, proses pembuangan racun dilakukan di selaput tipis yang terletak di bagian perut yang dinamakan peritoneum. Saat melalukan dialisis, pasien tidak perlu berbaring, tetapi bisa sambil duduk dan tetap beraktivitas seperti biasa. Pada pasien pengguna CAPD proses dilakukan sekitar 4 kali per hari dengan durasi 30 menit setiap sesi.

Cara kerja CAPD

Proses dialisis dilakukan melalui rongga perut yang bekerja sebagai penampung cairan dialisis dan peritoneum sebagai membran yang berfungsi sebagai tempat yang dilewati cairan tubuh yang berlebihan.  Selanjutnya pada solute yang berisi racun yang akan dibuang.

Jadi, cara kerja CAPD yang pertama adalah memasukkan cairan melalui selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Langkah berikutnya, cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga zat – zat yang tidak berguna (limbah metabolik) dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut. Terakhir, cairan dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru.

Kelebihan CAPD

Mengutip laman alodokter.com dan mayoclinic.org, kelebihan metode CAPD antara lain hemat waktu, karena penyintas gagal ginjal kronik tidak perlu rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat dilakukan di rumah tanpa memerlukan mesin hemodialisis.

Kelebihan berikutnya adalah peralatan portable. Peralatan yang digunakan untuk CAPD bersifat portabel (mudah dibawa). Berupa kantong cairan dialisat, klip, dan kateter untuk mengalirkan cairan dialisat ke dalam rongga perut. Namun, tetap perlu memperhatikan higienitas saat melakukan dialisis.

Selanjutnya, pantangan diet tidak terlalu ketat. Aturan diet pengguna CAPD lebih sedikit, karena proses cuci darah dengan CAPD dilakukan setiap hari, sehingga biasanya akan memiliki risiko lebih kecil mengalami akumulasi atau penumpukan kalium, natrium, dan cairan.

Metode CAPD juga membuat ginjal berfungsi lebih lama karena proses dialisis yang dilakukan setiap hari. [*]

Efek Samping yang Dapat Timbul Setelah Menjalani Metode CAPD

  1. Infeksi. Infeksi pada area sekitar kateter selang mungkin terjadi akibat bakteri jika pasien kurang memperhatiakan aspek higienis dan kebersihan. Bakteri dapat menyebabkan peradangan pada lapisan tipis dinding kulit yang berfungsi melindungi organ perut (peritonitis).
  2. Kenaikan Berat Badan. Cairan dialisis mengandung sejenis gula. Dengan masuknya cairan dialisis ke dalam tubuh, sama saja dengan menyerap ekstra kalori setiap hari. Hal tersebut berpotensi menambah berat badan. Tambahan kalori dalam tubuh juga dapat memicu kenaikan tekanan gula darah, khususnya bagi penderita diabetes.
  3. Hernia. Oleh karena pengguna CAPD menahan cairan dialisat di dalam rongga perut untuk waktu yang lama, dapat menyebabkan kelemahan pada dinding perut. Hal ini mengakibatkan organ di dalam perut dapat menonjol keluar dan membentuk hernia.
  4. Dialisis tidak optimal. Seiring waktu, efektivitas CAPD dalam membersihkan darah bisa berkurang, sehingga pasien gagal ginjal mungkin perlu beralih ke hemodialisis.

 

 

Referensi

https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/peritoneal-dialysis/about/pac-20384725

https://www.alodokter.com/mengenal-manfaat-capd-dan-risikonya

https://kpcdi.org/2016/09/13/continuous-ambulatory-peritoneal-dialysis-capd/

Kajian Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi Hemodialisis dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis pada Pasien Gagal Ginjal Terminal di Indonesia. Kemenkes 2015

 

Penulis: Utami Widyasih


Index ePaper Download PDF ePaper