Pahami Tumbuh Kembang Anak Agar Tidak Terjadi Kekerasan
Ruang Jiwa - 142 view


Apa yang terjadi pada seseorang saat usia dewasa, tidak bisa lepas dari apa yang dia terima di fase sebelumnya. Dunia kesehatan saat ini semakin menyadari kalau pembentukan watak anak terjadi sejak fase embrio. Bagaimana tumbuh kembang calon bakal manusia itu harus diberikan bahkan sejak dia berada dalam rahim seorang calon ibu.

Catatan kali ini bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional. Sekaligus sebagai bentuk refleksi kepada para orang tua agar dapat melindungi buah hatinya dari kekerasan, khususnya kekerasan dari orang terdekat.

Pertama yang harus dipahami orang tua, kekerasan jangan dibayangkan hanya terjadi setelah anak-anak terlahir ke dunia. Sehingga pondasi awal yang harus dibangun untuk melindungi anak dari ancaman kekersan adalah bagaimana kita sebagai orang tua menumbuhkan sarana atau suasana yang kondusif bagi tumbuh kembang anak dan itu sudah disepakati sejak di dalam rahim. Bahkan lebih awal lagi, sejak calon bapak dan ibu sepakat untuk menikah.

Ketika seorang ibu mengandung, sudah sepatutnya amanah yang dititipkan oleh Tuhan tersebut dijaga dengan baik oleh kedua calon orang tua. Nah, menjaga dalam konteks fisik mungkin sudah tidak asing. Namun belum menjadi hal yang familiar adalah menjaga dalam konteks psikologis atau hal-hal yang tidak terkait fisik, yakni mewadahi calon manusia ini dengan kasih sayang selama proses kehamilan.

Dialog antara ibu dan bayi yang ada di rahimnya, merupakan sebuah cara menjaga komunikasi sehingga terbangun kedekatan secara psikologis. Salah satu upaya suasana psikologis lain yang dapat dijalin adalah dengan mengenalkan agama sejak dalam kandungan.

Misal untuk agama Islam dilakukan dengan mengaji atau agama lain dengan membaca kitab suci masing-masing. Di mana kitab-kitab suci tersebut menggambarkan sebuah dialog, seperti saat usia bayi memasuki bulan sekian, maka Tuhan sedang meniupkan roh, sehingga orang tua harus mempersiapkan sejak dini agar mereka tumbuh menjadi manusia sempurna.

Kemudian memasuki fase anak telah lahir, menjadi seorang bayi mungil yang menggemaskan. Asumsi yang ada saat anak masih bayi adalah hanya risiko kekerasan fisik saja, orang tua lupa ada kekerasan nonfisik yang mempunyai imbas yang sama beratnya.

Contoh, kadang anak paham, orang tua tidak pernah memukul tetapi dengan pelototan mata, kata-kata, dan sikap sudah bisa memberikan dampak ketakutan bagi anak. Karena itu saat anak sudah lahir, perhatian harus diberikan tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik tapi juga nonfisik yang berwujud verbal maupun bahasa tubuh dan akan memengaruhi tumbuh kembang anak.

 

Memahami Tumbuh Kembang

Bagaimana membuat orang tua paham agar tindakan yang mereka lakukan tidak berpotensi menjadi kekerasan? Hal yag paling dasar adalah memahami tentang tumbuh kembang anak. Teorinya banyak, salah satu yang paling Saya suka Teori Erikson, sebuah teori yang mengingatkan betapa Tuhan dalam memberikan kesempatan anak tumbuh dan berkembang dapat dilihat dari hubungan antarrelasi orang di sekitarnya.

Kenapa bayi menangis saat lahir? Kalau tidak menangis, itu menakutkan ibu dan dokter. Karena itu bayi dipukul bukan untuk sakit lalu menangis tapi mengetahui apakah organ jantung dan pernafasan bekerja.

Tangisan menjadi berbeda ketika mereka tumbuh dan berkembang. Anak menangis dianggap rewel dan manja, padahal filosofi menangis karena dia membutuhkan suatu rangsangan. Orang tua kadang galau dan cemas karena tidak bisa membedakan dan mengerti bahasa tangisan. Padahal itu hal mendasar dan harus dipahami agar tidak menjadi kekecewaan anak.

Itu sebabnya dalam Teori Erikson, mengatakan anak usia di bawah 1 tahun membutuhkan respons kepercayaan atau basic trust. Respons ibu ketika seorang anak belum bisa mengomunikasikan yang diinginkan, misal popoknya basah atau lapar, maka tangisan harus diterjemahkan dengan kepekaan.

Dalam setiap tahapan  tumbuh kembang anak, butuh sikap dan stimulus yang sesuai. Jangan sampai terjadi kekerasan karena tidak paham apa yang dibutuhkan anak termasuk dari sisi psikologisnya. Di usia 1-3 tahun, misalnya Teori Erikson mengatakan sebagai level otonomi. Misal anak mulai paham kalau kaki bisa untuk melangkah, tangan bisa bergerak, atau mulut bisa menggigit.

Anak akan senang mengeksplorasi, namun karena belum memiliki pengetahuan seperti orang dewasa, kadang belum bisa membedakan responsnya atas suatu hal. Misal api panas, gula manis, menolak bukan karena tidak mau tapi sebenarnya memberikan ekspresi. Fase-fase ini terus berkembang hingga tahun-tahun selanjutnya dalam tumbuh kembang anak dan tugas orang tua untuk terus belajar dan memahaminya.

Intinya, kekerasan bisa terjadi karena ketidaktahuan orang tua dalam memahami fase-fase perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulus dan respons yang benar dan sesuai. Ingat juga, kekerasan tidak terbatas pada kekerasan fisik tapi juga nonfisik yang berbentuk verbal maupun sikap tubuh.

 

*Disampaikan Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kemenkes RI, kepada Didit dari Mediakom.

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper